alexametrics

Baru Tujuh Provinsi yang 100 Persen Jalani UNBK SMP/MTs

21 April 2019, 11:11:30 WIB

JawaPos.com – Siswa SMP/MTs sederajat akan mengikuti Ujian nasional (unas), Senin (22/4). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berupaya meningkatkan pengawasan agar tidak terjadi gangguan dan kecurangan lagi.

Pada Unas ini sebanyak 78 persen SMP/MTs sederajat menjalani ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Jumlah itu setara dengan 44.065 sekolah. Sementara, 22 persen sekolah lainnya masih menggunakan kertas dan pensil (UNKP).

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud Moch Abduh menuturkan, ada tujuh provinsi yang sudah 100 persen menggelar UNBK. Yakni, DKI Jakarta, DI Jogjakarta, Jawa Timur, Aceh, Bangka Belitung, Gorontalo, dan Kalimantan Selatan.

Untuk menjamin keamanan server, pihaknya menggunakan tiga tingkatan server. Server manajer dipegang oleh Puspendik. Kemudian, server admin dikelola Pusat Teknologi Infromasi dan Komunikasi (Pustekkom).

”Dalam mengelola server admin, kami melibatkan lima perguruan tinggi negeri ternama untuk server unas,” kata Abduh saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Yakni, Universitas Syah Kuala, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Bandung untuk mengelola server UN wilayah barat. Universitas Gadjah Mada di wilayah tengah dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember untuk wilayah timur. Sedangkan, server pelaksana berada di sekolah-sekolah penyelenggara UNBK.

Help desk di tingkat provinsi hingga kota/kabupaten bersama teknisi dan proktor tingkat sekolah diminta lebih teliti dalam mempersiapkan server jelang ujian. ”Harapannya gangguan maupun virus terhadap server tidak terjadi,” terang pria asal Sidoarjo itu.

Mengenai pasokan listrik, alumnus statistika Institut Pertanian Bogor itu, memastikan kebutuhan listrik aman. Kemendikbud sudah berkoordinasi bahwa selama UNBK SMP/MTs tidak ada pemadaman.

Sementara itu, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo menekankan, agar semua guru memiliki satu pemahaman dalam mengawal berlangsungnya UNBK. Jangan sampai terjadi kecurangan. Baik dilakukan oleh siswa, guru pengawas maupun proktor dan teknisi.

Semuanya harus steril. Tidak ada yang boleh membawa handphone ke dalam ruang ujian.

Untuk siswa, sebelum masuk ruang ujian harus diberi pengarahan mengenai tata tertib. Kemudian, melakukan pemeriksaan untuk memastikan peserta ujian tidak membawa handphone, kamera, maupun alat elektronik lainnya.

”Yang perlu diingat, pengawas sudah menandatangani pakta integritas. Itu yang harus menjadi pedoman,” tegas Heru. Belajar dari UNBK jenjang SMA, kecurangan yang dilakukan siswa tidak terlepas dari kelalaian pengawas.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : Agas Putra Hartanto