JawaPos Radar

Masih SMP, Peneliti Cilik Ini Mampu Ketahui Tingkat Kesuburan Tanah

18/10/2017, 09:34 WIB | Editor: Ilham Safutra
Peneliti Cilik
Idelle Ariqa, Dustin Raka Widiananta Aslam, bersama gurunya menunjukkan piala dan piagam yang berhasil diraih pada ajang Kalbe Junior Scientist Award 2017. (KIRAM AKBAR/Rakyat Kalbar)
Share this image

JawaPos.com - Prestasi yang ditorehkan dua pelajar SMPN 01 Sanggau, Kalimantan Barat ini perlu diacungi jempol. Idelle Ariqa dan Dustin Raka Widiananta Aslam, berhasil menyabet predikat Peneliti Cilik Terunggul dalam ajang Kalbe Junior Scientist Award 2017 pada 10-16 Oktober di Jakarta.

Mereka berhasil menemukan formula sederhana untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan memanfaatkan limbah kelapa sawit. Abu hasil pembakaran CPO (abu boiler) yang kerap dibuang disulap menjadi campuran penyubur lahan.

"Sudah diuji coba. Kalau tanah podsolik merah kuning (PMK) saja dengan abu boiler, tanamannya (daunnya) menjadi keriting. PMK itu tanah yang sangat tidak subur. Karakteristiknya itu kemerah-merahan, kekuning-kuningan, berlempung, dan berpasir. Kemudian, unsur haranya sangat rendah. PH-nya rendah," kata Wiwin Asriningrum, guru pembimbing dua peneliti cilik itu, kemarin (17/10).

Masih SMP, Peneliti Cilik Ini Mampu Ketahui Tingkat Kesuburan Tanah
Ilustrasi (Pixabay.com)

Dia menyebutkan, hampir 50 persen tanah di Kalbar, khususnya di Kabupaten Sanggau, bertipe PMK. Tanah dengan karakteristik tersebut hanya cocok ditanami ''tanaman keras'' seperti karet dan sawit.

''Media tanam ini kami temukan dengan mencampur abu boiler dan tandan kosong kelapa sawit. Kami menyebutnya acakesa. Abu boiler dan tandan kosong kelapa sawit diperlakukan khusus dengan campuran tertentu sehingga pas di tanah. Ketika dijadikan media tanam, tidak perlu lagi media tanah bakar. Nah, ini meminimalkan harga," bebernya.

Yang lebih membanggakan, siswa yang dibimbingnya merupakan perwakilan satu-satunya dari Kalimantan. ''Jurinya dari LIPI dua orang. Ada juga yang dari UGM dan UI. Satu lagi psikolog," ungkap Wiwin.

Dia mengatakan, prestasi tersebut tidak didapatkan secara instan. Ada proses cukup panjang yang harus dilalui. ''Kami melakukan penelitian sejak Januari 2016. Setelah lima bulan, baru kami menemukan formula yang pas. Sebab, saat uji coba, ada perlakuan satu, dua, tiga, dan gagal. Sekitar lima bulan itu bisa tumbuh dengan baik, hampir sama ketika menggunakan pupuk kimia,'' tandasnya.

Apa yang dicapai dua siswa SMP ini dapat menginsipirasi seluruh rakyat Indonesia lainnya. Terutama yang masih duduk di bangku sekolah. Bila belajar dengan tekun, keberhasilan itu dapat dicapai. Keberhasilan itu tidak memandang dari mana asal orangnya.

Keberhasilan Idelle Ariqa dan Dustin Raka Widiananta Aslam, bentuk konkret dari revolusi mental yang digadangkan oleh pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Kementerian yang dikomandoi Puan Maharani ini menjadi leading sector atas gerakan nasional revolusi mental (GNRM) yang mengajak masyarakat untuk berubah. 

(kiram/iqbal/c7/ami/ce1)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up