alexametrics

Sistem Anyar Penerimaan Mahasiswa Baru PTN

Transparan, Tapi Lebih Repot
17 Juni 2019, 18:32:47 WIB

Seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) tahun ini menerapkan sistem baru. Siswa bisa makin bimbang saat menentukan pilihan.

NOVAL antusias dan langsung berdiri ketika diberi kesempatan menyampaikan pertanyaan dalam forum SBM PTN Day di Balairung Universitas Indonesia (UI) Depok Sabtu (15/6). Siswa kelas XII SMA swasta di Jakarta Selatan itu mengonfirmasi sejumlah informasi yang berseliweran terkait penerimaan mahasiswa baru di PTN.

“Ada informasi bobot tes potensi skolastik (TPS) dan tes potensi akademik (TPA) yang beda,” ujarnya. Dia melanjutkan, bobot untuk TPS dipatok 60 persen dan TPA 40 persen. Kemudian, diberlakukan juga sistem klaster berdasar rumpun keilmuan.

Di hadapan pimpinan Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), dia meminta penjelasan, apakah memang ada ketentuan pembobotan antara TPS dan TPA tersebut. Atau, hanya komponen subtes TPA yang diberi bobot karena terkait dengan rumpun ilmu program studi (prodi) yang bakal dilamar.

Ilustrasi ujian SBMPTN. (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Lantaran banyak informasi yang beredar tersebut, Noval mengaku belum mendaftar SBM PTN hingga saat itu. Dia masih menimbang-nimbang prodi dan kampus yang akan dipilih.

Cerita lain dituturkan Rachma. Siswi penyuka K-pop itu mendaftar SBMPTN pada hari pertama pembukaan 10 Juni lalu. Dia mengaku langsung menentukan pilihan prodi bukan lantaran sudah mantap atau yakin. “Tapi, setelah mengikuti dua ujian SBM PTN yang diselenggarakan LTMPT, saya mendapatkan nilai tengah,” ungkapnya.

Dengan nilai yang berada di tengah atau median tersebut, Rachma menyebut hasilnya tidak terlalu bagus. Beberapa hari sebelum pendaftaran SBMPTN dibuka, dia mencari informasi jurusan atau prodi yang cende­rung sepi peminatnya. Pada H-1 pendaftaran SBM PTN, dia sudah memiliki prodi pilihan. Namun, dia tidak bersedia menyebutkan prodi dan universitas yang dipilih. Rachma hanya berharap bisa lolos masuk PTN tahun ini.

Rachma mengungkapkan sempat membuat simulasi terkait peluangnya lolos SBM PTN tahun ini. Dia memanfaatkan sejumlah website yang menawarkan jasa simulasi itu. ”Hasilnya, saya pasrah. Karena nilai saya memang berada di bawah,” ucapnya.

Menurut dia, nilainya berada di bawah saat simulasi pemeringkatan. Lantas, dia menyadari bahwa peluangnya untuk lolos SBM PTN sangat kecil. Namun, bagi dia, yang terpenting adalah sudah berusaha dan pasrah apa pun hasilnya nanti.

Kesibukan menghadapi SBMPTN 2019 juga dialami Irfan. Padahal, dia telah berstatus mahasiswa. Irfan tidak sibuk mendaftar untuk diri sendiri, tetapi mendampingi siswa yang akan melamar SBMPTN.

ILUSTRASI: SBMPTN (Jawa Pos Photo)

Irfan memiliki pengalaman mendampingi para siswa untuk mendaftar SBM PTN sejak 2016. Saat kuliah dia bekerja part time di sebuah bimbingan belajar (bimbel). “Job desc-nya kebetulan ngedaftarin siswa-siswa bimbel ke SBM PTN dan jalur mandiri,” jelasnya.

Irfan mengakui, ada perbedaan yang signifikan antara sistem SBM PTN tahun ini dan sebelumnya. Menurut dia, pada sistem SBM PTN sebelumnya, pusingnya cuma sekali. Siswa menentukan jurusan dan universitas, selanjutnya tinggal mengikuti ujian SBM PTN yang digelar serentak dan menunggu pengumuman. “Tapi, kalau sekarang pusingnya jadi banyak,” katanya, lantas tertawa.

Irfan mengatakan, saat ini siswa mendaftar dan mengikuti ujian tulis berbasis komputer (UTBK) dua kali. Meski tidak wajib dua kali, ada kecenderungan siswa ikut dua kali. Berharap pada ujian kedua nilainya lebih baik. Alasannya, sudah mengetahui gambaran soal seperti saat ujian pertama.

Nah, ketika pendaftaran SBM PTN dibuka, siswa tidak kalah pusingnya dengan saat pelaksanaan UTBK. Saat ini anak-anak dibuat pusing karena harus membuat simulasi atau kalkulasi nilai. Sebab, informasi yang beredar, untuk tiap-tiap subtes UTBK berlaku pembobotan meski tidak signifikan.

Menurut Irfan, sistem yang baru memang memiliki sisi positif. Yakni, transparansi. Sebelum mendaftar SBM PTN, siswa mengetahui nilai ujian atau kemampuan mereka seperti apa. Yang mendapat nilai pas-pasan atau di tengah-tengah harus jeli memilih jurusan dan kampus mana.

Sistem penilaian dan materi ujian SBM PTN saat ini, kata dia, juga berbeda. Saat berlaku sistem minus alias jawaban salah mendapat nilai -1, peserta SBM PTN sangat berhati-hati dalam menjawab. Sebaliknya, ketika saat ini tidak berlaku sistem minus, kualitas hasil ujian menurun.

Irfan menuturkan, dengan dihapusnya sistem minus, tidak sedikit peserta yang menjawab asal. “Karena faktanya (sekarang, Red) gak sedikit orang yang ngasal blok jawaban,” tutur pria yang pernah terlibat dalam tim koreksi SBM PTN 2017 itu.

Misalnya, ada peserta UTBK yang ngeblok jawaban B semua. Ternyata, dengan cara itu, yang bersangkutan mendapatkan nilai besar. Menurut dia, jawaban ngasal yang kebetulan benar bisa jadi mendapatkan bobot nilai tinggi. Sebab, tidak banyak peserta UTBK lain yang menjawab benar pada soal tersebut.

Sebagaimana diketahui, LTMPT selaku pelaksana UTBK membuat aturan semakin sedikit orang yang menjawab benar sebuah butir soal, soal itu memiliki bobot besar. Sebab, soal itu dianggap memang sulit.

Meski begitu, Irfan mengapresiasi sistem baru saat ini. Sebab, pelaksanaan ujiannya berbasis komputer. Teknis pengerjaannya lebih mudah. Tidak perlu membulati lembar jawaban. Ujian berbasis komputer juga bisa menekan potensi human error yang memicu lembar jawaban pensil tidak terbaca saat dipindai.

Dia memiliki pengalaman bahwa banyak lembar jawaban tidak layak dikoreksi karena rusak atau sebab lainnya. Akibatnya, nilai ujian peserta SBM PTN yang bersangkutan tidak keluar.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (wan/han/c10/fal)