JawaPos Radar

SIDOARJO EDUKASI

Meneropong Kegiatan Pembelajaran PAUD di Kota Delta

11/04/2017, 13:12 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Meneropong Kegiatan Pembelajaran PAUD di Kota Delta
LANGSUNG PRAKTIK: Guru KB-TK Al Falah Darussalam Siti Halimah memandu anak didik untuk melakukan teknik pencampuran warna kemarin. Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka acara puncak pembelajaran bertema air. (Boy Slamet/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this image

Merujuk data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sidoarjo, ada 798 taman kanak-kanak (TK) di Sidoarjo. Terdata pula 834 sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) nonformal. Dengan jumlah sebanyak itu, bagaimana pembelajaran di dalamnya?

Meneropong Kegiatan Pembelajaran PAUD di Kota Delta
Jenis-jenis Layanan PAUD Berdasar Kelompok Usia (Grafis: Erie Dini/Jawa Pos/JawaPos.com)

HALAMAN KB (Kelompok Bermain)-TK Al Falah Darussalam Waru terlihat ramai Senin(10/4). Penyebabnya, sekolah yang berada di kawasan Jalan Anggrek, Tropodo, itu sejak pagi menggelar acara puncak pembelajaran tema bulan ini, yakni pameran. ’’Bulan ini temanya tentang air,’’ jelas Kepala KB-TK Al Falah Darussalam Amiliyah Nur Idah.

Karena bertema air, khusus bulan ini, banyak pembelajaran tentang air. Amiliyah menjelaskan, selama ini anak-anak hanya mengetahui fungsi air secara umum. Misalnya, untuk mandi, wudu, mencuci, minum, atau memasak. Nah, dalam pembelajaran tematik kali ini, air dibahas secara lebih mendalam. ’’Untuk hari ini (Senin 10/4, Red), ada beberapa stan pameran yang memberikan informasi tentang kegunaan dan pengolahan air,’’ katanya.

Di antaranya, demonstrasi penyulingan air dengan menggunakan alat sederhana. Mereka memanfaatkan botol air mineral bekas yang bagian bawahnya dilubangi. Kemudian, botol tersebut dibalik dan diisi dengan menggunakan bahan untuk penyaringan seperti arang, serabut kelapa, dan batu koral. ’’Ini air sungai yang sangat kotor. Kami tunjukkan, setelah disaring tiga kali dengan memanfaatkan alat ini, airnya jadi lebih jernih,’’ ungkap Amiliyah.

Untuk mengenalkan warna, ada stan yang menyajikan botol-botol dengan warna primer. Yakni, biru, kuning, dan merah. Anak-anak diajak mencampurkan tiga warna tersebut hingga menjadi warna baru. Misalnya, merah dan kuning dicampur agar menjadi oranye.

Untuk belajar tentang kapilaritas, mereka menciptakan pelangi buatan. Para siswa mewarnai ujung tisu dengan menggunakan spidol. Lalu, tisu itu dicelupkan ke air. Kemudian, air meresap ke bagian tisu yang kering dan mengalirkan warna yang ada di tisu. Resapan air tersebut membentuk garis layaknya pelangi. ’’Mereka jadi tahu penyerapan zat cair,’’ ucapnya.

Mereka juga belajar membuat gelembung udara dengan bahan daun angsana. Daun itu diremas-remas dengan memanfaatkan air sehingga zat dari dalam daun yang keluar membuat air sedikit kental dan lengket. Kekentalan itulah yang membuat air tadi bisa digunakan untuk membuat gelembung sabun.

Selain itu, ada pula stan untuk belajar membuat es puter warna-warni dengan menggunakan es batu dan garam. Serta, stan untuk belajar mengetahui bisa tenggelam dan tidaknya sebuah benda. Ada juga mainan kolam pancing untuk menunjukkan bahwa air juga jadi sumber kehidupan untuk makhluk lain.

Pembelajaran tematik itu membuat anak didik lebih antusias dan belajar dari pengalaman langsung. Agar banyak ilmu yang terserap, tema diganti tiap bulan. Contohnya, pada Maret lalu, tema yang diangkat berkaitan dengan unggas. Jadi, kegiatan pembelajaran banyak membahas unggas. Mulai makanan olahan dari unggas, penetasan telur, hingga cara melakukan senam unggas.

Pada Februari, tema yang diangkat berkaitan dengan tanaman buah. Sebanyak 158 anak didik belajar tentang variasi olahan buah seperti membuat keripik apel hingga belajar menanam kacang hijau.

Pembelajaran juga berganti-ganti sesuai dengan sentra yang ada di sana. Sentra yang dimaksud adalah ruangan khusus yang mendukung tema tertentu. Misalnya, mereka belajar tentang alam di sentra bahan alam. Belajar keseimbangan naik papan titian, belajar merangkak, dan bermain bola di sentra fisik motorik. Bermain dan belajar peran di sentra peran. Belajar bahasa di sentra aksara.

Salah satu yang menarik lagi adalah proses parenting yang dilakukan di sana. Yakni, guru sendiri yang melakukan presentasi kepada orang tua terkait dengan hal yang dialami anak. Guru melaporkan perkembangan tiap-tiap anak dalam bentuk video. Setiap orang tua akan mendapat video kegiatan selama pembelajaran. ’’Kalau biasanya menyewa pemateri khusus, di sini tidak. Guru sendiri yang berulang-ulang berlatih untuk tampil di hadapan orang tua. Sebab, merekalah yang paling tahu anak didik sehari-hari,’’ ujar Waka Kesiswaan KB-TK Al Falah Darussalam Fatimatuz Zuhro. (uzi/c23/dio/sep/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up