Universitas Yarsi Kumpulkan Ahli Herbal Dunia

09/09/2018, 14:51 WIB | Editor: Imam Solehudin
Kepala Pusat Penelitian Herbal Universitas Yarsi, Juniarti memberikan cinderamata kepada Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Ali Ghufron Mukti (Ist/Jawapos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pengembangan obat berbasis bahan herbal berkembang dengan sangat pesat. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), dari sisi pertumbuhan ekonomi, produk obat tradisional (herbal) mengalami kenaikan sebesar 8,01 persen.

Indonesia saat ini memiliki 1.436 industri obat tradisional yang terdiri Industri Obat Tradisional (IOT), Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA), Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) dan Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT).

Dari sekian banyak industri jamu yang ada di Indonesia, masih sangat sedikit yang telah memenuhi syarat Good Manufacturing Practice (GMP), dan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB), yang sudah disepakati oleh Negara-negara ASEAN.

Masalah utama penyediaan obat herbal terstandarisasi di Indonesia adalah kurangnya pengetahuan dan sarana prasarana penunjang standarisasi oleh kalangan industri obat herbal, terutama industri kecil dan menengah.

Di sisi lain, hasil penelitian obat herbal dari lembaga penelitian baik perguruan tinggi, maupun instansi pemerintah perlu disinergikan dengan peneliti berlatar belakang medis. Tujuannya untuk mendapatkan hasil yang lebih terarah dan berujung pada pembuktian khasiat obat herbal secara klinis.

Hal tersebut mengemuka dalam acara 'The 2nd International Conference of Herbal Medicine (ICHM)' di Universitas Yarsi, bekerja sama dengan Univesiti Tun Hussein Onn Malaysia. Acara tersebut juga bertepatan dengan 'The 2nd International Conference on Herbal Science, Technology and Medicine 2018'.

Kepala Pusat Penelitian Herbal Universitas Yarsi, Juniarti mengatakan tujuan dari konferensi internasional ini adalah untuk menyajikan perkembangan herbal dan teknologi. Termasuk nantinya dapat dijadikan platform untuk bidang herbal, teknologi herbal bagi peneliti, akademisi dan praktisi.

"Adanya interaksi, sinergi, dan kolaborasi yang maksimal dari para peneliti dari berbagai belahan dunia dapat mempercepat alih teknologi dan menuju hasil riset yang lebih mumpuni," ujar Juniarti di sela-sela pembukaan seminar di Auditorium Ar-Rahim, Universitas Yarsi, kemarin.

Juniarti memaparkan konferensi ini diharapkan dapat menghasilkan publikasi di jurnal internasional bereputasi, dan menghimpun berbagai penelitian herbal yang bermanfaat bagi kalangan akademisi, businessmen dan government.

"Sehingga nantinya menunjang dihasilkannya produk herbal yang memenuhi trilogi dasar herbal yakni quality, safety dan efficacy," ungkapnya.

Bentuk Asia Herbal Research Association

Sementara itu Rektor Universitas Yarsi, Prof. Susi Endrini, Ph.D yang juga salah satu speaker mengaku bahagia dan bangga bahwa perjanjian kerja sama (MoU) antara Universitas Yarsi dengan Universitas Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) dapat direalisasikan dalam wujud konferensi bersama ini.

Dalam konferensi ini, ungkap Prof Susi, juga bisa digelar pertemuan yang nantinya akan membentuk suatu perkumpulan profesi bernama Asia Herbal Research Association yang akan diisi oleh peneliti dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina, Sri Lanka, India dan korea untuk sementara.

"Saya kira moment ini penting digelar dan ditindaklanjuti serius dan cepat mengingat penelitian di bidang herbal sangat dibutuhkan karena Indonesia memiliki kekayaan alam yang besar dan melimpah," ujar dia.

"Universitas Yarsi pun berkomitmen mendukung monent itu, akan menjadi satu institusi yang mempunyai pusat studi herbal yang cukup mumpuni," lanjutnya.

Kegiatan sendiri dihadiri sejumlah pembicara internasional. Antara lain Dr. Sei Ryang Oh (Korea Research Institue of Bioscience an Biotechnology-KRIBB, Korea), Prof. Sudarsanam Gudivanda (S.V University, India), Prof. Kshanika Hirimburegama (University of Colombo, Srilanka).

Kemudian Assoc. Prof. Dr. Alona C Linatoc (Universiti Tunn Hussein Onn Malaysia, Malaysia), Dr. A. Hameed Khan, Ph.D (National Institutes of Health, London), Prof. Dr. Edy Meiyanto, M.Si., Apt (Faculty of Pharmacy, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Indonesia).

Selanjutnya Dr. Elfahmi, MSi, Apt (School of Pharmacy ITB, Bandung, Indonesia), Prof. Susi Endrini, Ph.D (Faculty of Medicine, Universitas Yarsi, Jakarta, Indonesia) dan Prof. Dr. dr. Erni Hernawati Purwaningsih, MS (Department of Pharmacy, Faculty of Medicine, Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia).

(yes/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi