JawaPos Radar

Diaspora Dapat Jalur Formasi Khusus CPNS

Menristekdikti Hanya Beri 50 Kursi

08/09/2018, 01:05 WIB | Editor: Kuswandi
Mohamad Nasir
Menteri Ristekdikti Mohamad Nasir saat ditemui di gedung Kemenristekdikti, Senayan, Jumat (7/9) (Yesika/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) menyediakan sekitar 9.200 kursi untuk calon pegawai negeri sipil (CPNS). Sebanyak 8.000 kursi ditujukan untuk tenaga dosen, 1.200 kursi sisanya akan diisi tenaga administrasi dan teknis.

Menteri Ristekdikti Mohamad Nasir juga memerhatikan jalur formasi khusus, salah satunya adalah untuk para diaspora. Hal itu sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi (PAN-RB) 36/2018 tentang kriteria penetapan kebutuhan PNS dan pelaksanaan seleksi CPNS Tahun 2018.

Namun, dirinya belum membuka lebar kesempatan tersebut mengingat jalur khusus bagi diaspora merupakan peraturan yang baru tahun ini.

“(Jumlah kursi) diaspora sangat kecil, tapi kalau bisa di antara 50, tapi kayaknya belum dapat respons saya mengajukan 50-an. Kalau itu bisa 50 itu sudah luar biasa, nanti tahun depan kita akan ajukan 150 (kursi),” ujar Nasir saat ditemui di gedung Kemenristekdikti, Senayan, Jumat (7/9).

Dia mengusulkan, diaspora nantinya akan dialokasikan sesuai dengan kebutuhan perguruan tinggi. Mereka juga tidak lagi diperlakukan dari nol, karena pekerjaannya di luar negeri sudah dihitung pengalaman.

“Dia dianggap masa kerja di luar negeri. Ini supaya memberikan insentif pada mereka untuk kembali ke Indonesia, karena mereka juga punya inovasi yang cukup baik,” kata dia.

“Jadi bisa ditambahkan, kalau misalnya pengalaman sepuluh tahun, tambah 35, berarti 45 tahun dia dihitungnya,” tambahnya.

Dirinya mengaku saat ini tengah berkoordinasi dengan Direktorat Sumber Daya Manusia (SDM) Kemenristekdikti untuk menarik kembali para dosen yang berada di luar negeri. Menurutnya, mereka memiliki inovasi yang baik, sehingga sangat dibutuhkan oleh mahasiswa di tanah air.

“Kami kemarin di Amerika kita dorong, yang dilakukan Pak Dirjen SDM, (diaspora) ditarik, ini supaya nanti dia kembali ke Indonesia lagi. Kita sayang, dia punya kompetensi yang baik, tapi ternyata mencerdaskan di negara lain,” tutur Nasir.

Kriteria dosen diaspora minimal berada di tingkat lektor dengan gelar doktor ataupun PhD. Jika sudah di level associate atau lektor kepala dan full profesor, Nasir menduga mereka akan lebih memilih bekerja di luar negeri ketimbang kembali ke Indonesia.

“Kalau sudah full profesor, dia pasti pengin di sana (luar negeri) gitu. Tapi kalau associate, yang asisten profesor dia mau di sini. Ini kami minta Pak Dirjen SDM berkoordinasi,” pungkasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan Permen PAN-RB 36/2018, formasi khusus di antaranya, yaitu lulusan terbaik, penyandang disabilitas, putra-putri Papua dan Papua Barat, diaspora, olahragawan berprestasi internasional, serta tenaga pendidik dan tenaga kesehatan mantan tenaga honorer kategori II yang memenuhi persyaratan. 

(yes/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up