JawaPos Radar

Kabar Baik Bagi Mahasiswa, Nasir akan Terbitkan Permen E-Learning

07/09/2018, 13:47 WIB | Editor: Imam Solehudin
Kemenristekdikti
Menristekdikti, Mohamad Nasir saat membuka Simposium Nasional Akuntansi (SNA) XXI Ikatan Akuntan Indonesia-Kompartemen Akuntan Pendidik (IAI-KAPd) di Universitas Mulawarman, Samarinda, Kamis (6/9). (Yesika Dinta/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Revolusi Industri 4.0 kini sedang ramai menjadi isu yang mengemuka di dunia, termasuk Indonesia. Sejumlah strategi dalam memasuki era baru tersebut pun terus dimatangkan. Pengajaran di perguruan tinggi juga dituntut untuk berubah.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, level universitas harus meningkatkan inovasi untuk menghadapi hal itu. Menurutnya, baik rektor, dekan, dosen, hingga mahasiswa harus berkembang. Termasuk menerapkan distance learning atau pembelajaran jarak jauh.

“Era pembelajaran kita yang selama ini yang dilakukan distruktif ini tidak akan mampu menyelesaikan masalah dalam perubahan ini, harus bergeser atau meningkatkan dengan distance learning,” ujarnya saat membuka Simposium Nasional Akuntansi (SNA) XXI Ikatan Akuntan Indonesia-Kompartemen Akuntan Pendidik (IAI-KAPd) di Universitas Mulawarman, Samarinda, Kamis (6/9).

Oleh karena itu, dalam waktu dekat ini, dia akan mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) yang berkaitan dengan pendidikan digital dan e-learning atau distance learning tersebut. Dengan demikian, tak ada lagi penghalang bagi calon mahasiswa di seluruh wilayah Indonesia.

“Melalui distance learning ini harapannya bisa menjangkau seluruh rakyat Indonesia. Jadi maka peraturan menteri segera kami keluarkan soal ini,” kata Nasir.

Pasalnya, dia memaparkan, angka pastisipasi kasar atau angka partisipasi penduduk Indonesia yang berpendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya hanya 32 persen. Angka tersebut sangat rendah jika dibandingkan dengan Korea Selatan dengan perolehan 92 persen.

"(Korea Selatan) itu dengan teknologi informasi. Indonesia sangat ketinggalan jauh. Kalau ini bisa berjalan, target saya di 2020 itu indonesia sudah 35-40 persen, apabila kita menerapkan teknologi informasi sebagai basis pembelajaran ke depan," terangnya.

Dengan distance learning, rasio dosen dan mahasiswa tidak lagi 1:20 untuk eksakta dan 1:30 untuk ilmu sosial. “Ke depan (dengan distance learning) saya harapkan 1:1.000, 1 dosen 1.000 mahasiswa. Ini distance learning harus kita garap dengan baik," tegas dia.

Para dosen pun harus terus meningkatkan kempuannya. Nasir berharap, prinsip pendidikan sepanjang hayat atau yang dikenal dengan long life education juga terus dijalankan.

"Long life education harus jalan terus nggak boleh berhenti lagi. Dosen harus terus meningkatkan kemampuannya," pungkasnya.

(yes/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up