JawaPos Radar

Kuliah di Kedokteran Unair, Uang Pangkalnya Minimal Rp 70 Juta

07/07/2018, 12:07 WIB | Editor: Ilham Safutra
Kuliah di Kedokteran Unair, Uang Pangkalnya Minimal Rp 70 Juta
Calon mahasiswa mengikuti ujian SBMPTN beberapa waktu lalu (Miftahulhayat/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Meski pengumuman kelulusan seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) sudah usai, namun calon mahasiswa masih berharap bisa berkuliah di perguruan tinggi negeri (PTN). Salah satu solusinya dengan menempuh jalur mandiri. Untuk jalur itu dari tahun ke tahun peminatnya.

Padahal, jalur tersebut mewajibkan calon mahasiswa baru (camaba) membayar lebih mahal daripada jalur-jalur lainnya. Tidak hanya membayar uang kuliah semester (UKS), tetapi juga ada sumbangan yang dibayar sekali ketika masuk. Penyebutannya berbeda-beda. Di Unair disebut uang kuliah awal (UKA), sementara di ITS dinamai sumbangan pengembangan institusi (SPI). Besarannya juga beda.

Ketua Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) Unair Dr Achmad Solihin mengatakan, mayoritas sasaran jalur mandiri adalah kalangan ekonomi menengah ke atas. UKS yang diberikan akan disesuaikan dengan kemampuan camaba.

Kuliah di Kedokteran Unair, Uang Pangkalnya Minimal Rp 70 Juta
Calon mahasiswa mengikuti ujian SBMPTN beberapa waktu lalu (MHD Akhwan/Riau Pos/Jawa Pos Group)

Namun, pastinya ada di golongan 4 dan 5. "Paling besar UKS golongan 5 sekitar Rp 21,5 juta per semester untuk prodi kedokteran," katanya.

Tahun ini ada lima golongan UKS. Paling murah golongan 1 Rp 500 ribu. Besaran di setiap prodi akan berbeda-beda. Begitu juga UKA. Solihin menjelaskan, Unair sudah menentukan UKA dan UKS minimal di setiap prodi. Namun, saking tingginya antusiasme masyarakat untuk masuk Unair, banyak yang berlomba-lomba membayar UKA tinggi tanpa melihat kemampuan sang anak.

Di Unair UKA minimal paling sedikit adalah Rp 15 juta untuk prodi ilmu sejarah dan fisika. Sementara jumlah minimal tertingginya ada di prodi kedokteran yakni Rp 70 juta. Tidak ada batas maksimal yang ditentukan. "Namun kalau ada pemamaham semakin besar sumbangan, peluang lebih besar, itu salah. Tidak ada hubungannya antara besaran sumbangan dan peluang," katanya.

Jika sumbangan yang dibayar sangat besar, tetapi kemampuan atau nilai hasil seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) rendah, peserta tetap tidak diterima. "Nilai SBMPTN menjadi prioritas," ujarnya.

Meski harus membayar mahal, pendaftar tetap menggandrungi jalur mandiri. Hingga kemarin, total pendaftar jalur mandiri mencapai 15.137 orang. Pendaftar paling banyak justru di prodi dengan biaya UKS dan UKA paling tinggi. Misalnya, prodi kedokteran 3.438 orang, kedokteran gigi 2.173 orang, dan farmasi 1.599 orang.

Sementara itu, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jatim juga masih membuka jalur mandiri. Pendaftaran jalur mandiri UPN dibuka sejak 20 hingga 20 Juli. Berbeda dengan Unair dan ITS, UPN menggunakan tes tertulis untuk seleksi. "Pendaftarnya sampai saat ini per pukul 11.30 (kemarin, Red) masih 711 orang," kata Ramdan Hidayat, wakil rektor (Warek) I UPN Veteran Jatim, kemarin.

Ramdan menuturkan, jalur mandiri menggunakan uang kuliah tunggal (UKT) golongan 3 hingga 7. Sementara itu, UKT golongan 1, 2, dan bidikmisi sudah dipenuhi di jalur SNMPTN dan SBMPTN minimal 25 persen dari total kuota tahun ini. "Kami sudah memenuhi 25 persen," ujarnya.

Tahun ini UPN menerima 3.000 orang. Kuota jalur mandiri maksimal 30 persen dari total daya tampung yang dibuka, yakni sekitar 972 orang. Namun, angka tersebut masih bisa bertambah jika ada camaba dari jalur SBMPTN yang tidak mendaftar ulang. "Kalau ada kursi yang belum diisi, dimasukkan secara otomatis lewat jalur mandiri," katanya.

Ramdan mengatakan, jalur mandiri memang digunakan untuk memenuhi penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Setiap PTN memanfaatkan sumbangan pengembangan instansi tersebut. UKT akan ditentukan sesuai dengan sejumlah kriteria. Di antaranya, gaji orang tua, listrik, rumah, hingga kendaraan.

Untuk SPI, UPN menentukan batas minimal Rp 0 dan tertinggi tak terbatas. Camaba yang mendaftar jalur mandiri bisa langsung mengisi SPI sesuai kemampuan. Mulai Rp 0, Rp 15 juta, Rp 30 juta, hingga seterusnya, tak ada batasan maksimal. "Di seluruh prodi berlaku hal yang sama," ujarnya.

Ramdan menjelaskan, besaran UKT dan SPI setiap PTN memang berbeda-beda. Hal itu disesuaikan dengan grade kampus. Untuk kampus yang masuk 500 besar world class university, tentu saja biayanya mahal. "Dampaknya sumbangan besar untuk kebutuhan pengembangan kampus," katanya.

Sementara itu, Rektor ITS Prof Joni Hermana mengatakan, peminat jalur mandiri ITS meningkat jika dibandingkan dengan tahun lalu. Kemarin total lebih dari 8.000 pendaftar jalur mandiri. "Setelah SBMPTN diumumkan, langsung membeludak," ujarnya.

Joni menyebutkan, biaya UKT sama dengan tahun lalu. Untuk SPI minimal, terendah Rp 20 juta dan tertinggi Rp 75 juta. "Kalau mau menyumbang lebih banyak, juga tidak apa-apa. Namanya juga sumbangan. Tetapi, kami tetap memprioritaskan nilai SBM PTN, bukan besar sumbangannya," tegasnya. 

(ayu/c6/ayi)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up