JawaPos Radar

Cegah Radikalisme di Kampus, UMM Dampingi Setiap Kegiatan Organisasi

06/06/2018, 03:30 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Formasi Baru
UMM: Formasi mahasiswa baru di UMM. Mencegah radikalisme, kampus ini menerapkan pendampingan di setiap kegiatan. (dok. UMM)
Share this

JawaPos.com - Baru-baru ini, BNPT merilis beberapa nama kampus yang disinyalir menjadi pertumbuhan paham radikalisme. Terbaru, Tim Densus 88 Antiteror juga menangkap tiga terduga teroris di kampus Universitas Riau (UNRI)

Bersama tiga terduga teroris yang merupakan alumni itu, Densus 88 juga menemukan 4 bom pipa rakitan yang siap diledakkan. Bahkan menuut Kapolda Riau, daya ledaknya sama besar seperti di Surabaya, beberapa waktu lalu. Rencananya, bom rakitan tersebut akan dibuat untuk meledakan DPR RI dan DPRD Riau. 

Mengenai tumbuhnya paham radikal di kampus, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sudah melakukan langkah antisipatif. Rektor UMM Fauzan, menjelaskan, upaya yang mereka lakukan untuk deradikalisasi adalah dengan memberikan pendampingan terhadap seluruh kegiatan mahasiswa. 

Pendampingan ini dilakukan oleh kampus, melalui dosen. Setiap kegiatan dan organsiasi mahasiswa, selalu didampingi oleh dosen. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengontrol dan memantau ideologi yang berkembang. Dikhawatirkan jika mengarah pada radikalisme. "Itu sudah kami lakukan lama, sejak sebelum isu ini mencuat," katanya, kepada wartawan, Selasa (5/6). 

Dia menegaskan, alasan kampusnya melakukan pendampingan terhadap semua kegiatan mahasiswa dan juga pencegahan dini, karena hal ini sesuai dengan ideologi Muhammadiyah yang mereka usung. 

Pasalnya, Muhammadiyah menolak keras segala bentuk upaya radikalisme. UMM, lanjut Fauzan, melakukan kontrol untuk itu. Dia berpendapat, paham radikalisme bisa tumbuh subur di kampus negeri, karena kampus negeri menganut ideologi yang lebih global. Tidak seperti UMM dengan ideologi keislaman.

Fauzan tidak menampik, jika tumbuhnya paham radikalisme biasanya masuk melalui kegiatan di organsiasi mahasiswa ekstra kampus (omek). Namun, untuk aktivitas ini pun dipantau oleh UMM. 

Mantan wakil rektor II ini bercerita, tahun 2005 lalu, ada lima mahasiswa UMM yang menjadi korban dari paham radikal. Mereka dicuci otaknya oleh salah satu kelompok radikal. Bahkan, kelimanya juga sempat dikabarkan hilang selama beberapa hari. 

"Pernah ada kejadian mahasiswa terpapar radikalisme, tapi mereka korban. Saya ingat betul karena waktu itu menjabat sebagai Kabiro Kemahasiswaan," tandasnya.

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up