JawaPos Radar

Karya Stikom buat Tunanetra, Tongkat Pintar Berbasis Mikrokontroler

05/03/2017, 18:34 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Karya Stikom buat Tunanetra, Tongkat Pintar Berbasis Mikrokontroler
BERI KEMUDAHAN: Dimas Aditya, mahasiswa Stikom Surabaya, memperagakan pemakaian tongkat pintar karya rekannya Moh. Nur Bimantoro. (Dika Kawengian/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com – Langkah untuk membuat fasilitas ramah difabel terus dilakukan banyak pihak. Salah satunya dilakukan Moh. Nur Bimantoro, mahasiswa S-1 Sistem Komputer Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya. Dia membuat tongkat pintar berbasis mikrokontroler untuk penyandang tunanetra.

Tugas akhir itu dibuat seiring dengan kemajuan teknologi yang memberikan kemudahan kepada manusia. Dia ingin kalangan dengan gangguan penglihatan atau tunanetra ikut menikmati kemudahan tersebut. Nah, Bima berusaha membuat tongkat pintar.

Sebenarnya tongkat itu merupakan tongkat biasa. Yang membedakan, tongkat tersebut dilengkapi dua sensor ultrasonik. Sensor itu diletakkan di bagian atas dan bawah tongkat. Sensor bagian atas digunakan untuk mendeteksi benda seperti tembok rumah, pintu, pagar, tiang, atau benda lain.

Karya Stikom buat Tunanetra, Tongkat Pintar Berbasis Mikrokontroler
BERODA: Sensor ultrasonik yang terdapat di bagian atas dan bawah tongkat akan memberi sinyal bila mendapat halangan. (Dika Kawengian/Jawa Pos/JawaPos.com)

Sementara itu, sensor bagian bawah diharapkan memudahkan mendeteksi permukaan jalan yang tidak rata. Misalnya, ada batu ataupun lubang di sekitar pengguna. Sensor tersebut akan menghasilkan bunyi jika terhalang sesuatu.

Dalam sistem karya Bima itu, sensor ultrasonik mengeluarkan suara yang akan terpantul jika mengenai benda padat. Selanjutnya, receiver menerima suara. Kemudian, sinyal ultrasonik bakal masuk ke mikrokontroler. Sinyal ultrasonik lantas diolah menjadi jarak dengan satuan sentimeter. ”Mendeteksi untuk jarak 50 sentimeter,” ucapnya.

Bima membuat tongkat itu dengan menggunakan pipa paralon. Di bagian bawah, diberi roda untuk memudahkan pengguna. Termasuk memudahkan gerak tongkat ketika mendeteksi benda di hadapannya. Suara sensor bagian atas dan bawah juga dibedakan agar bisa memudahkan pengguna.

Bima berharap tugas akhir hasil bimbingan Susijanto Tri Rasmana dan Pauladie Susanto tersebut bisa memudahkan para tunanetra. Terutama bagi mereka yang memiliki ruang gerak terbatas untuk mengetahui benda di depannya ketika berjalan dengan menggunakan tongkat konvensional. Para tunanetra pun tidak perlu mengetuk-ngetukkan tongkat di sekitar pijakan saat berjalan. ”Mudah-mudahan bisa lebih terbantu. Ke depan, pengembangan menjadi lebih baik,” terangnya. (puj/c16/nda/sep/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up