JawaPos Radar

Sekolah Kekurangan Guru Mata Pelajaran

02/08/2017, 19:41 WIB | Editor: Miftakhul F.S
Sekolah Kekurangan Guru Mata Pelajaran
Ilustrasi (Canggih Putranto/Radar Bojonegoro/JPG)
Share this

JawaPos.com- Kebutuhan terhadap guru pegawai negeri sipil (PNS) cukup tinggi. Hal itu terlihat dari kekosongan formasi guru SMA/SMK Surabaya pada beberapa mata pelajaran (mapel). Untuk memenuhi kebutuhan itu, sekolah menghadirkan guru tidak tetap (GTT). Bahkan, guru PNS mengajar melampaui 24 jam setiap minggu.

Kepala SMAN 1 Surabaya Johannes Mardijono mengatakan, sekolahnya kekurangan guru mapel matematika. Kebutuhan terhadap dua guru matematika digantikan oleh GTT. Itu pun, menurut dia, masih dengan kondisi jam mengajar tinggi.

Selain itu, tidak ada satu pun guru PNS mapel bahasa Jawa. Karena mapel itu wajib diajarkan, Johannes mengisinya dengan GTT. Begitu pula mapel olahraga. Dari kebutuhan tiga guru, hanya ada seorang guru PNS.

Memang, Johannes mengakui, jam mengajar para guru terbilang tinggi. Bahkan, melebihi batas minimal jam mengajar. Belum lagi, kata dia, akan ada guru yang pensiun. Kebutuhan akan guru PNS dipastikan meningkat.

Waka Kurikulum SMAN 1 Surabaya Ari Suprapto menyebut, seorang guru agama pensiun tahun depan. Pada tahun selanjutnya atau 2019, menyusul dua guru lagi. Maka, posisi tiga guru mapel itu kosong dalam dua tahun mendatang. Hal serupa terjadi pada mapel fisika, kimia, dan biologi. Masing-masing akan berkurang satu guru pada 2019.

Kondisi serupa terjadi di SMAN 9 Surabaya. Waka Kurikulum SMAN 9 Surabaya Kardiono menyebut bahwa kebutuhan terhadap guru BK cukup tinggi. Dari jumlah ideal tujuh guru, hanya ada empat guru PNS. Jumlah itu bahkan tidak ditambah GTT. Karena itu, menurut Dion, sapaan Kardiono, para guru bekerja ekstra. ”Idealnya, satu guru BK menangani 150 siswa. Saat ini, setiap guru BK harus mengatasi 250 siswa,” tuturnya.

Berbeda dengan SMAN 1, di SMAN 6 Surabaya justru ada empat guru PNS untuk mapel olahraga. Untuk mapel bahasa Jawa dan seni budaya, tidak ada satu pun guru PNS. Begitu pula mapel sejarah. Selain mengisi kekosongan melalui GTT, Dion menyebut jam mengajar guru naik drastis. ”Bisa sampai 28, 30, dan 33 jam,” ujarnya.

Dion mengajar hingga 20 jam setiap minggu. Padahal, sebagai Wakasek, sebetulnya dia hanya dituntut 12 jam mengajar. Kondisi tersebut telah dibantu 11 GTT. Belum lagi, pada 2019, banyak guru di sekolah tersebut yang akan pensiun. Yakni, tiga guru BK akan pensiun bersamaan dan seorang guru sosiologi.

Kepala SMAN 7 Surabaya Achmad Djunaidi mengalami hal serupa. Tidak sedikit mata pelajaran yang diisi GTT. Di antaranya, mata pelajaran matematika, geografi, agama, seni budaya, PKN, sosiologi, olahraga, dan fisika. ”Matematika dan agama masing-masing dua GTT,” katanya.

Guru BK juga kurang. Di sekolahnya ada lima guru BK. Padahal, idealnya dibutuhkan tujuh guru BK untuk meng-cover lebih dari seribu siswa. Kondisi antara lima guru BK dengan tujuh guru BK tentu berbeda.

Ada pula guru yang mengajar dua mata pelajaran. Yakni, guru bahasa Indonesia merangkap guru bahasa Jawa. Sebab, SMAN 7 Surabaya tidak memiliki guru bahasa Jawa. Guru mapel yang jam mengajarnya masih kurang merangkap mata pelajaran lain. Yakni, mengajar mata pelajaran kewirausahaan (KWU). Mereka adalah guru biologi, fisika, dan ekonomi. ”Karena setiap guru butuh 24 jam mengajar,” terangnya.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Saiful Rachman mengatakan, ketersediaan guru tengah menjadi perhatiannya. Sebab, secara nasional, memang tidak ada pengangkatan guru PNS. Sementara itu, guru yang akan pensiun hingga 2019 mencapai 32 ribu orang. Artinya, sekolah memang menggunakan guru tidak tetap.

Dalam rapat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk cabang dinas pendidikan di kabupaten/kota dan musyawarah kerja kepala sekolah (MKKS), persoalan ketersediaan guru tersebut mengemuka. Karena itu, pemetaan guru dilakukan. Sebenarnya, lanjut dia, secara jumlah, ketersediaan guru tidak kurang. Sebab, rasio guru dan siswa mencapai 1:13. Namun, jika ditilik per bidang studi atau mata pelajaran, ketersediaan guru tersebut tidak merata. Bahkan, tidak sedikit yang kekurangan guru. ”Dan bisa minus,” tambahnya.

Dia mengakui, kekurangan guru berpengaruh pada kualitas pendidikan. Karena itu, mantan kepala Badan Diklat Jatim itu akan bekerja sama dengan tim ITS. Terutama dalam memetakan secara sistemik. ”Untuk SMK, ada program guru keahlian ganda, terutama untuk mengisi guru bidang keahlian produktif,” terangnya.

(kik/puj/c6/nda)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up