
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berbincang dengan siswa di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi, Bandung. (Tim Media KDM)
JawaPos.com–Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya Radius Setiyawan menyoroti kebijakan mengirim anak nakal ke barak militer ala Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Menurut Radius, pendekatan tersebut bertentangan dengan paradigma pendidikan yang humanis. Dia khawatir kebijakan ini justru berdampak negatif terhadap psikologis dan perkembangan sosial anak-anak.
"Mengirim anak-anak nakal ke barak militer bukan solusi yang tepat. Terdapat tiga alasan utama mengapa kebijakan ini problematik dari sudut pandang pendidikan," tutur Radius di Surabaya, Selasa (13/5).
Alasan pertama, barak militer memiliki tujuan berbeda dengan lembaga pendidikan anak. Di sana, tentara ditempa dengan pelatihan fisik, mental, dan disiplin yang keras, termasuk bentakan serta hukuman fisik.
"Secara paradigmatik, logika kebijakan ini bermasalah. Pendidikan pada anak tidak seharusnya disamakan dengan pendidikan militer," imbuh Radius yang mengajar Kajian Budaya dan Media di UM Surabaya.
Alasan kedua, jika sekolah dinilai gagal membentuk karakter siswa, solusinya meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Jadi bukan menyerahkan anak ke lembaga militer yang tujuannya berbeda dari sekolah.
"Ketiga, harus dipahami secara komprehensif definisi anak nakal. Mereka bukan berarti tidak cerdas atau tidak punya potensi. Kenakalan harus dipandang sebagai gejala dari permasalahan yang lebih mendasar," tutur Radius Setiyawan.
Alih-alih mengirim anak ke barak militer, Radius mendorong pemerintah untuk mencegah kenakalan anak melalui pendekatan pendidikan konstruktif dan psikologi perkembangan anak. Seperti menguatkan peran sekolah, keluarga, dan lingkungan komunitas anak.
Sebelumnya, Gubernur Dedi Mulyadi telah mengirimkan 272 siswa SMA sederajat di Jawa Barat ke Barak Militer. Tepatnya di Dapo Pendidikan Atletik Bela Negara Rindam III Siliwangi.
Para siswa yang dikirimkan ke barak militer disebut telah mendapat izin dari para orang tua mereka. Mereka dilatih secara fisik, dididik menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, hingga dilatih bela negara.
Adapun 272 siswa angkatan pertama yang dikirim ke barak militer adalah pelaku bullying, pengguna narkoba, pelaku pelecehan seksual, tawuran, geng motor, hingga mereka yang suka mabuk-mabukan.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
