alexametrics
JawaPos Radar | Iklan Jitu

Outlook 2019

2019, Mobil MPV Masih Jadi Primadona Pasar Otomotif

27 Desember 2018, 17:53:22 WIB
2019, Mobil MPV Masih Jadi Primadona Pasar Otomotif
Pameran otomotif di acara GIIAS 2018 (Dery Ridwansah/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Industri otomotif sejauh ini memberikan kontribusi yang cukup besar pada perekonomian nasional. Kontribusinya sekitar 10,16 persen pada produk domestik bruto (PDB). Sama dengan bisnis properti, suku bunga menjadi kendala utama di industri otomotif.

---

TAHUN ini penjualan roda empat diprediksi tumbuh tipis jika dibandingkan dengan tahun lalu. Untuk 2019, penjualan diperkirakan tidak jauh berbeda. Multipurpose vehicle (MPV) masih menjadi primadona pasar mobil tahun depan. Kelas itu mencapai 60 persen dari total penjualan.

2019, Mobil MPV Masih Jadi Primadona Pasar Otomotif
Pameran otomotif di acara GIIAS 2018 (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Menurut Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto, pasar mobil Indonesia masih bisa meningkat signifikan. Sebab, kepemilikan mobil di Indonesia baru 87 mobil per 1.000 orang. Dia membandingkan Indonesia dengan Malaysia dan Thailand yang kepemilikan mobilnya sudah mencapai 450 dan 120 mobil per 1.000 orang. "Kalau kita lihat baru 87 mobil, berarti potensinya untuk meningkat masih sangat besar," ujarnya.

Toyota masih menjadi market leader di kelas MPV dengan produk Avanza. Sepanjang 2018, Avanza mendapat perlawanan yang cukup sengit dari andalan baru Mitsubishi di kelas MPV, yakni Xpander. Bahkan, Xpander berhasil mengungguli Avanza selama beberapa bulan.

"Persaingan ketat itu justru indikasi baik. Saat APM (agen pemegang merek) berlomba-lomba menghadirkan produk baru yang berkualitas, ujung-ujungnya yang diuntungkan adalah konsumen," katanya.

Berdasar catatan Gaikindo, pengiriman unit dari pabrikan ke diler (wholesales) sepanjang semester pertama 2018 menunjukkan pertumbuhan meyakinkan. Merujuk data Gaikindo, penjualan mobil pada semester pertama tercatat lebih banyak 21.340 unit atau tumbuh 4 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Dari 533.506 unit menjadi 554.846 unit.

Capaian tersebut membukukan 50,44 persen dari target sepanjang 2018 sebanyak 1,1 juta unit. Padahal, biasanya capaian pada semester pertama hanya di kisaran 48 persen. Dengan begitu, pemenuhan target pada semester kedua semestinya akan lebih ringan. ''Umumnya, penjualan pada semester kedua itu 52 persen dari target. Tetapi, banyak kondisi yang harus diperhatikan pada semester kedua. Misalnya, nilai tukar mata uang asing, perang dagang, suku bunga, dan sebagainya,'' papar Executive General Manager TAM Fransiscus Soerjopranoto.

Kondisi itu juga menjadi cerminan proyeksi pasar otomotif pada 2019. Sebab, tantangan ekonomi, baik secara global maupun domestik, diprediksi tidak jauh berbeda. Terlebih lagi, ada isu kenaikan bunga bank yang sedikit banyak bakal memengaruhi pertimbangan masyarakat membeli mobil.

Soerjo menyebutkan, secara umum, pasar otomotif dibagi menjadi dua kelas harga. Pertama, pasar kendaraan roda empat kelas menengah ke bawah. Kedua, pasar kendaraan mobil segmen menengah atas.

"Pasar bawah membutuhkan dukungan kredit dalam pembelian mobil. Karena itu, pasar akan tertekan peningkatan suku bunga acuan yang mengerek bunga pinjaman. Sebaliknya, pasar segmen atas diperkirakan tetap baik mengingat tidak ada masalah keuangan bagi konsumen," jelasnya.

Menurut dia, segmen pasar atas bakal melakukan pembelian ketika terdapat produk atau edisi baru yang sesuai. "Kelas di atas yang punya uang akan cari produk yang sesuai. Khususnya yang baru atau new edition. Jadi, gencarnya upaya produsen untuk menghadirkan line-up terbaru tahun depan menjadi pendorong penjualan,'' tutur Soerjo.

Secara garis besar, Gaikindo memprediksi penjualan 2019 tetap berkisar 1,1 juta unit yang mengacu pada pertumbuhan ekonomi nasional 5,2 persen. Jongki menuturkan bahwa tidak ada kenaikan target karena pihaknya masih mempertimbangkan banyak pengaruh dalam perekonomian Indonesia. Mulai pertumbuhan yang cenderung stagnan hingga suku bunga acuan yang berisiko mengalami kenaikan.

Menurut dia, tingkat suku bunga acuan sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya penjualan mobil. Sebab, 70 persen pembelian mobil Indonesia dilakukan melalui kredit. ''Jadi, kalau bunganya naik, cicilannya juga bakal naik, orang tidak sanggup beli. Dengan begitu, penjualan akan turun,'' tandasnya. 

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : (agf/c14/oki)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini