JawaPos Radar

Diecast Mobil, Mainan Bukan untuk Main-Main

19/09/2018, 11:20 WIB | Editor: Mohamad Nur Asikin
Diecast Mobil, Mainan Bukan untuk Main-Main
Pasar Diecast mobil terus tumbuh dalam diam (Foto : Istimewa) (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com – Penggemar Diecast Mobil di Indonesia terus tumbuh cukup pesat belakangan ini. Ini bisa dilihat dari berkembangnya basis-basis komunitas diecast yang terus menawarakan berbagai model melalui berbagai website atau melalui kenalannya di komunitas diecast.

Awalnya, diecast tumbuh dalam diam, dan hanya bergerak antara kalangan pecintanya. Namun, setelah event Indonesia Diecast Expo di 2014 berlangsung, pasarnya mulai menunjukan tajinya. Merawat pasar miniatur mobil ini memang unik, karena harus saling mengenal antara penjual dan pembeli.

Feldani Effendy, Head of Promotion Indonesia Diecast Expo (IDE) berbagi cerita bahwa saat ini memang mereka belum memiliki data valid seputar diecast di Indonesia. Namun mereka yakin geliat diecast di Indonesia tetap terjaga.

Diecast Mobil, Mainan Bukan untuk Main-Main
Pasar Diecast mobil terus tumbuh dalam diam (Istimewa)

Hal ini dilihat dari jumlah pengunjung even IDE yang terus meningkat setiap tahun penyelenggaraannya. "Dulu saat Indonesia Diecast Expo pertama 2014 yang datang sekitar 10 ribu orang. Kemarin di 2017 pengunjungnya kurang lebih 15 ribu orang,” katanya pada JawaPos.com beberapa waktu lalu.

Perkembangannya memang terlihat lamban karena butuh waktu 3 tahun untuk buat ribuan orang mulai tertarik dan mencintai dunia dieacast ini. Dari sisi transaksi bisnis diecast menggiurkan. Transaksi di tahun 2014 yang hanya mencapai Rp 1 miliar naik menjadi Rp 3 miliar di tahun 2017.

“Ini berarti ada uangnya dan ada bisnisnya di sana. Dan diecast berarti mainan yang bukan main-main dan punya potensi yang baik untuk dikembangkan,” tukas pria optimis itu.

Pasar diecast terbilang unik selain karena marwahnya berbasis komunitas, berbagai keseruan dan keasikan ditawarkan di sana. Serunya bermain di pasar diecast seperti bermain saham ada tarik ulur dan ‘goreng-menggoreng’ untuk membuat diecast itu naik harga.

“Misalnya satu item miniatur mobil tertentu, bisa dibeli saat harganya masih murah, kemudian mulai diperkenalkan di ‘goreng-goreng’ dan dimainin hingga harganya mahal, baru dilepas,” ucapnya.

Hal unik lainnya dari pasar ini adanya lelang model-model tertentu yang harganya kadang tak terprediksi ia mencontohkan pada lelang di IDE 2016 ada salah satu unit diecast terjual Rp 18 juta. Lanjut ke 2017 sebuah miniatur mobil kembali terjualRp 32 juta.

Feldani punya optimisme pasar diecast akan terus berkembang karena mereka memiliki basis komunitas yang kuat. Selain itu pasarnya tak terbatas. Menyasar semua orang, karena pernah melewati masa kanak-kanak dan berhubungan dengan diecast.

“diecast bring the memory. Emosionalnya sesorang bisa keluar saat ornag bicara masa kecil. Orang mulai bilang guwe dulu punya ini atau itu. Jadi mulai hunting lagi, cari lagi. Belum lagi kalau orang gak jual. Dia harus tetap mencari cara untuk mendapatkannya. Keasikan-keasikan seperti ini yang membuat dunia diecast itu tetap ada,” tukasnya.

(wzk/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up