JawaPos Radar | Iklan Jitu

Jangan Korbankan Keselamatan Hanya Demi Suku Cadang Abal-abal Bro!

16 November 2018, 16:55:25 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Jangan Korbankan Keselamatan Hanya Demi Suku Cadang Abal-abal Bro!
Ilustrasi (Teguh Jiwa Brata / JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Komponen dan pelumas otomotif termasuk barang yang kerap dipalsukan. Hal ini memang meresahkan dan tentu sangat merugikan produsen dan konsumen pemilik merek-merek otomotif yang mrmpoduksi dan masyarakat yang menggunakannya.

Maraknya spareparts dan pelumas palsu sebenarnya masyarakat juga turrut membuka peluang baginya. Kebiasaan menggunakan part-part KW dengan alasan harga lebih murah kerap medorong menjamurnya pemalsuan.

Pertumbuhannya masif, bahkan banyak ditemui bengkel kendaraan non Agen Pemegang Merek (APM) yang menawarkannya dengan begitu bebas suku cadang dan pelumas abal-abal. Pemilik dan mekanik bengkelnya pu menawarkan dengan gamblang, dimana konsumen bisa memilih untuk menggunakan part asli atau part KW dengan kisaran harga yang cukup jauh berbeda.

Jangan Korbankan Keselamatan Hanya Demi Suku Cadang Abal-abal Bro!
MIAPI Justisiari P. Kusumah saat membukan diskusi penaanggulangan peredaran barang palsu di Indonesia. (Wilfridus Zenobius Kolo /JawaPos.com)

Terkait hal ini, Ketua Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), Justisiari P. Kusumah, mengatakan sepanjang masih ada demand dari pasti masih ada cara-cara yang tidak benar seperti penjualan barang palsu di sektor otomotif sehingga masuarakat perlu mendapat edukasi tentang bahaya penggunaan barang KW atau palsu.

"Mamang tak dapat dipungkiri masih banyak beredar pat-part otomotif palsu, KW yang memang kadang menjadi pilihan masyarakat karena harganya lebih murah. Tetapi perlahan-lahan harus di hentikan dengan edukasi terus menerus dari semua pihak," kata Justisiari saat berbincang dengan wartawan, di Jakarta Pusat, Kamis (15/11).

Ia berpendapat salah satu cara yang paling ampuh adalah dengan memberikan edukasi secara kontinyu pada konsumen pengguna part-part otomotif tersebut. Caranya dengan memberitahu kepada mereka tentang risiko yang bisa terjadi bila menggunakan part-part otomotif yang palsu.

"Memang tidak bisa satu atau dua hari. Harus memberi penyadaran terus menerus. Misalnya kita edukasi bagaimana risiko pakai kampas rem palsu atau apa sih risiko menggunakan disc brake palsu. Mungkin kalau pake disc rem palsu dan kampas rem palsu, pada saat ngerem motornya harus berhenti di jarak 1 meter jadinya 3 meter. Ini sangat berisiko bagi keselamatan. Ini harus  dibuat sadar bahwa menghemat uang mungkin penting. Tapi menyelamatkan nyawa jauh lebih penting," tukasnya.

Spareparts asli mungkin lebih mahal dari yang KW, ia menjelaskan hal tersebut tentu telah dipikirkan dengan matang oleh produsen dengan strategi market yang telah dipersiapkan oleh produsen dengan trik untuk membuat barangnya laku di pasaran.

"Kalau untuk harga terlalu mahal untuk (spareparts) orisinil. Saya  sang pemilik atau produsen barang mempunyai paket dan trik khusus untuk supaya bagaiamana barangnya, terjua dengan baik  tanpa mengesampingkan keamanan. Karena faktor keamanan paling penting di otomotif. Jadi  harga yes penting. Tetapi keselamatan lebih penting," ulangnya.

Ia memastika untuk sebuah keselamatan atau kesehatan orang tidak akan berhitung soal harga. Misalkan dalam studi MIAP kurang dari 10 persen orang Indonesia mau beli obat dengan indikasi yang tidak baik. Sementara untuk pembelian alat elektronik palsu jauh lebih tinggi.

"Nah itu kan contoh, kalau untuk kesehatan orang tidak akan berani beli dan untuk kesehatan mereka berani membayar berapapun harganya. ini yang perlu dikomunikasikan kepada masyaraat," ujarnya.

Untuk otomotif ia menambahkan masyarakat  mungkin, bisa diedukasi dan diberitahu bagaimana dampak buruknya jika menggunakan barang palsu atau KW.

"Kita bisa bilang jangan pikir rem itu, tak ada urusan sama nyawa, loh. atau oli juga jangan dipikir untuk dapat murahnya tetapi harus di edukasi kalau pake oli murah yang palsu life time mobilnya mungkin lebih pendek. Jangan dipikir lebih murah 100 atau 200 ribu sebanding dengan biaya kerusakan yang akan ditanggung jika terjadi trouble pada mobil,"  bebernya.

Dia berharap edukasi yang masif dan kerjasama lebil intensif berupa pembagian informasi dan edukasi bisa dijalankan barengan antara pemangku kepentingan seperti konsumen, pemilik merek, penegak hukum dan semua lembaga yang terkait dengannya.

(wzk/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up