JawaPos Radar

Sukses Menekan Impor Bahan Baku, Kemenperin Apresiasi Shell Indonesia

16/08/2018, 03:40 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Sukses Menekan Impor Bahan Baku, Kemenperin Apresiasi Shell Indonesia
Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (Kemenperin), Achmad Sigit Dwiwahjono (kanan), bersama Dian Andyasuri, Direktur Pelumas PT Shell Indonesia (tengah) saat malakukan Plant Tour di Pabrik Oli Shell, Marunda. (Teguh Jiwa Brata / JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengapresiasi kinerja PT Shell Indonesia yang telah meluncurkan produk pelumas bersertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan juga kemampuannya memanfaatkan bahan baku dalam negeri dalam proses produksinya.

Sebagai perusahaan migas internasional, komitmen untuk meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri ( TKDN ) dianggap sejalan dengan komitmen pemerintah mendorong penggunaan bahan baku lokal agar tingkat importasi di industri bisa ditekan.

Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (Kemenperin), Achmad Sigit Dwiwahjono, mengatakan dengan mencantumkan label SNI pada produk pelumas Shell dipastikan customer akan mendapatkan jaminan produk yang bermutu. Selain itu dengan adanya komitmen TKDN dan juga label SNI akan mendorong daya saing produk pelumas di pasar internasional.

"Saya apresiasi sekali (pada Shell), ini merupakan internasional brand pelumas pertama yang bersertifikat SNI. Kemenperin sedang mendorong bagaimana kita bisa tingkatkan kualitas produk industri dalam negeri, jadi tujuan SNI adalah untuk meningkatkan kualitas produksi industri domestik disamping untuk mengamankan masyarakat untuk mendapatkan produk berkualitas," kata Achmad Sigit saat meresmikan peluncuran produk SNI, TKDN dan Customer Experience Center di Bekasi, Rabu (15/8).

Dikatakannya bahwa base oil untuk bahan baku produk pelumas nasional masih didominasi produk impor, sehingga sangat berpotensi menganggu neraca perdagangan nasional. Diperkirakan nilai importasinya masih tinggi yaitu sekitar USD20 miliar. Dengan komitmen Shell Indonesia memanfaatkan bahan baku lokal dipastikan dapat membantu pemerintah menekan defisit transaksi karena dapat mengurangi penggunaan bahan baku impor.

"Ini beban kepada neraca perdagangan kita yang sedikit memburuk, defisit akhir - akhir ini, sehingga Kemenperin mendorong sekali pemberlakuakn SNI dan TKDN ini supaya bisa memperkecil defisit neraca perdagangan, syukur - syukur bisa kembali positif," ulasnya.

Lebih lanjut, Sigit mengatakan saat ini terdapat 44 perusahaan pelumas di dalam negeri dengan kapasitas produksi mencapai 2 juta kilo liter (KL). Dari total kapasitas ini tingkat utilisasinya baru mencapai 45 persen atau kurang dari 1 juta KL per tahun. Oleh sebab itu Kemenperin mendorong agar perusahaan - perusahaan pelumas nasional dapat melakukan ekspansi bisnisnya karena peluang dan market pelumas nasional masih sangat besar.

"Kita dorong apabila diberlakukan SNI wajib, kita inginkan bisa tingkatkan kapsaitas menjadi 75 persen atau 80 persen, karena demand kita besar sehingga kita bisa berdiri di kaki sendiri dan mampu mensuplai kebutuhan sendiri," pungkasnya.

Di tempat yang sama, Direktur Pelumas PT Shell Indonesia, Dian Andyasuri, menyatakan pihaknya berkomitmen untuk melanjutkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri untuk seluruh produk pelumasnya. Ditegaskannya seluruh produk yang dihasilkan dari pabrik termodern di Marunda, Bekasi telah mencantumkan label SNI dan memiliki TKDN yang mendekati ketentuan.

Saat ini TKDN untuk produk - produknya memang baru mencapai 10 persen. Namun dipastikan secara bertahap kedepan TKDN diupayakan bisa mendekati 25 persen. Bahkan akan diusahakan untuk bisa lebih dari yang ditentukan pemerintah.

"Kita upayakan semaksimal mungkin ( TKDN ), kita jamin komitmen Shell Indonesia tidak hanya dari pelumas saja, kami terus bekerja keras untuk berikan yang terbaik bagi bangsa ini," ucap dia.

Sebagai informasi, sejak pertama kali produksi tahun 2015 lalu, Lubricants Oil Blending Plan Pelumas Shell di Marunda, Bekasi mampu memproduksi lebih dari 100 Stock Keeping Units. 100 persen pekerjanya dari Indonesia dengan volume produksi mencapai 136 juta liter atau 120.000 ton pelumas untuk kebutuhan ekspor.

(tjb/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up