alexametrics
Hari Kartini

Tegas Ambil Keputusan dengan Naluri Keibuan

21 April 2018, 16:27:00 WIB

JawaPos.com – Sosok RA Kartini banyak menginspirasi perempuan Indonesia. Salah satunya Dian Siswarini yang bisa dibilang Kartini masa kini. Dian merupakan CEO XL Axiata, salah satu operator telekomunikasi ternama di tanah air.

Di balik tegasnya sebagai seorang pemimpin, layaknya ibu yang lain, Dian tetaplah seorang wanita yang lembut hatinya. Dalam beberapa kesempatan, dia kerap kali menemui sesuatu yang dilematis.

Kepada JawaPos.com, Dian menceritakan, pernah suatu ketika dia harus mengambil satu keputusan terberat dalam karir profesionalnya. Berpikir akan kemuajuan perusahaan yang menjadi tanggung jawabnya, bercampur aduk dengan rasa tak tega dalam hatinya.

dian siswarini, presiden direktur xl
Presdir XL Dian Siswarini (Istimewa/Dian Siswarini)

“Ketika saya harus melakukan transformasi organisasi, di situlah keputusan terberat yang harus saya pikirkan matang-matang. Banyak hal yang sebetulnya jadi pertimbangan saya ketika memutuskan melakukan transformasi organisasi. Di satu sisi saya harus mengambil keputusan sebagai seorang CEO yang mewakili kepentingan perusahaan, di sisi lain, saya masih seorang wanita yang memiliki perasaan,” ungkap Dian.

Menurutnya, rasa memiliki serta kekeluargaan terhadap karyawan dan perusahaan ini adalah salah satu keputusan terberat dalam perjalanan karirnya sebagai CEO. “Alhamduliah saya bisa melewati semua ini, dan sekali lagi saya bisa memberikan yang terbaik buat karyawan dan perusahaan,” imbuh perempuan tangguh itu.

Keputusan terberat lainnya, dijelaskan Dian, adalah ketika dia harus meninggalkan keluarga untuk berkarir di XL Axiata. Berpisah dengan keluarga adalah momen yang paling berat baginya.

“Buat saya keluarga saya adalah harta saya yang paling berharga. Saya bersyukur sekali keluarga saya, suami dan anak-anak saya selalu mendukung saya dalam karir dan keputusan-keputusan yang harus saya ambil. Saya bisa melewati semua masa-masa terberat dalam hidup saya berkat mereka,” kisah Dian.

Membesarkan perusahaan atau mebesarkan anak? Pertanyaan itu sulit dijawab bagi Dian. Selain tanggung jawabnya sebagai CEO, Dian juga berperan sebagai Ibu dari anak-anaknya.

“Alhamdulillah, karena punya dukungan penuh dari keluarga dan juga tempat saya bekerja, hanya sekali saya berada di persimpangan ketika saya harus memilih di antara pekerjaan atau keluarga, yaitu saat anak kedua saya didiagnosis autis sehingga perlu terapi,” kata Dian bercerita.

“Saya harus pilih antara bekerja atau mendampingi proses recovery anak saya. Kemudian, karena keluarga besar mendukung jadi Alhamdulillah semua terapi dapat berjalan baik sampai dia menjadi fully recover. Kami bisa berkomunikasi dengan baik dan dia bisa sekolah dengan baik,” sambungnya.

Meski demikian, Dian mengaku bahwa keluarga tetap menjadi prioritas utama. “Kalau benar-benar harus memilih, tentu pilihan saya akan jatuh ke keluarga. Istilahnya, blood is more thicker than whatever,” ungkapnya.

Jika diminta harus memilih antara menjadi seorang CEO atau menjadi seorang ibu, tentu Dian Siswarini memilih menjadi seorang ibu. Tapi, kalau bisa melakukan keduanya, maka Dian akan berupaya maksimal untuk menjalaninya.

Memegang amanah sebagai seorang CEO sudah tentu memiliki kesibukan dan jadwal padat mengisi hari-harinya. Ketika bekerja, Dian mengaku tidak mengeluh karena harus bekerja lebih lama, sehingga tidak bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga. Namun, saat bersama keluarga, Dian juga tidak mau waktunya terganggu.

“Intinya adalah fokus. Saat Anda sedang bersama keluarga, berhentilah bermain gadget dan habiskan waktu Anda bersama mereka,” pungkas Dian.

Editor : Fadhil Al Birra

Reporter : (ryn/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Tegas Ambil Keputusan dengan Naluri Keibuan