alexametrics

FoMO, Sindrom Baru Warganet Setelah Narsis

20 Oktober 2017, 18:57:45 WIB

JawaPos.com – Apakah Anda termasuk sering berada dalam kondisi seperti ini? Meletakkan smartphone di dekat tempat tidur. Nggak bisa tidur kalau belum cek semua timeline medsos. Cemas ikon baterai di layar ponsel memerah. Rutin cek ponsel minimal setiap 10 menit.

Jika jawabannya iya, bisa jadi Anda mengidap FoMO (Fear of Missing Out).

Apa itu FoMO? FoMO adalah rasa cemas yang berlebihan karena mengetahui peristiwa seru atau menarik sedang terjadi di tempat lain. Kebanyakan dipengaruhi setelah melihat posting di media sosial.

Kata yang baru muncul pada abad 21 itu merupakan fobia sosial baru dalam ilmu psikologi. Penelitian tentang FoMO dilakukan psikolog Dr. Andy Przybylski dari University of Essex, Inggris. Dia mengamati bagaimana smartphone menjerat penggunanya. Salah satu fakta temuannya adalah pengidap FoMO bisa berulang-ulang membuka akun media sosial hanya dalam waktu satu jam.

Hasrat KEPO atau yang saat ini juga biasa diartikan knowing every particular object Anda sangat besar. FoMO secara sederhana bisa diterjemahkan sebagai rasa khawatir berlebih karena kudet alias kurang update informasi terbaru, baik tentang teman maupun orang lain.

Przybylski juga mendapati fakta bahwa pengidap FoMO mampu meninggalkan kebutuhan fundamental, termasuk makan dan minum, demi online di dunia maya. Scroll, scroll, dan scroll! Jangan sampai ada timeline bertanggal usang di akun medsos. Apalagi beberapa fitur di media sosial sangat mendukung tampilan kejadian yang terjadi saat ini juga atau live streaming.

Kini FoMO dianggap menjadi sindrom warganet setelah narsistis. Bahkan, FoMO bisa berdampak negatif terhadap kesehatan penderita yang didominasi usia di bawah 30 tahun. ”Jika kebutuhan utama terlewati, otomatis kesehatannya terganggu. Mereka juga jadi orang yang sulit fokus dan mudah pecah konsentrasi hanya karena suara notifikasi di ponselnya.

Saat itu juga langsung menoleh dan cek, jadi juga sulit diajak kooperatif,” kata psikolog Siloam Hospitals Surabaya Dra. Astrid Regina Sapii W., S.Psi. Pengidap FoMO juga berisiko sulit happy karena lebih sering membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Belum lagi rasa iri karena orang lain punya pengalaman asik dan post foto lebih menarik. Mereka juga bakal langsung cari tahu kalau ada pembahasan yang nggak dimengerti.

Akibatnya, FoMO punya dampak kuat terhadap ketidakpuasan penderita terhadap kehidupannya. Fenomena itu mampu menggambarkan peribahasa rumput tetangga selalu lebih hijau, hanya lewat sekeping smartphone.

Karena FoMO pula seseorang tergerak untuk memaksakan diri datang ke suatu event meskipun merasa nggak enak badan. Sebab, fobia itu membangun rasa khawatir karena melewatkan momen kumpul bareng teman. Pertanyaan mereka ngobrol tentang apa aja dan ngapain aja tadi bisa bikin penderita gagal tidur nyenyak malam ini.

Bahkan, membayangkan mereka having fun tanpa si tukang KEPO akut bisa membuat sajian makan siang terasa hambar. Kalau kata penulis Etty Hillesum, that fear of missing out on things makes you miss out on everything.

Lantas, bagaimana agar terhindar dari FoMO? ”Kita harus belajar keterampilan baru untuk mengendalikan penggunaan media sosial secukupnya,” kata Przybylski yang diunggah di website University of Essex.

Ya, puasa itu sehat, termasuk puasa untuk nggak selalu melihat timeline dan fokus terhadap pekerjaan Anda. Punya rasa ingin tahu besar itu bagus, tapi jangan sampai kebablasan hingga FoMO tingkat tinggi.(*)

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : nad/kkn/ce1

Close Ads
FoMO, Sindrom Baru Warganet Setelah Narsis