alexametrics

Masyarakat Diminta Tetap Waspada Terkait Potensi Pembobolan Data

17 Januari 2022, 11:48:07 WIB

JawaPos.com – Masalah kebocoran data di Indonesia sudah ramai pada awal 2022. Pekan lalu, data kesehatan milik masyarakat yang disinyalir milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) diduga bocor dan diperjualbelikan di pasar bebas di internet. Terkait dengan kasus-kasus kebocoran data lainnya, perusahaan riset dan keamanan siber Kaspersky meminta masyarakat dan pelaku bisnis untuk tetap waspada. Pasalnya, kasus serupa diprediksi akan tetap marak terjadi sepanjang 2022 ini.

Para pelaku kejahatan siber disebut masih akan menargetkan berbagai industri, mulai dari maskapai penerbangan, rumah sakit, situs web pemerintah, bank, perusahaan telekomunikasi, universitas, E-Commerce dan bahkan raksasa media sosial melalui berbagai cara canggih.

Selain kasus kebocoran data, tim riset keamanan siber Kaspersky juga memprediksi tren serangan siber lainnya. Untuk tahun ini, meski serangan ransomware diprediksi cenderung menurun, ada serangan-serangan lainnya yang perlu diwaspadai.

“Inisiasi awal dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS), yang melibatkan FBI, dan bahkan keapabilitas ofensif Komando Siber AS. Kaspersky mengantisipasi bahwa serangan tersebut mungkin dapat muncul sewaktu waktu, dengan fokus untuk menyerang negara-negara berkembang dengan kemampuan investigasi siber minimal atau negara-negara yang bukan sekutu AS,” kata Vitaly Kamluk, Direktur Global Research & Analysis Team (GReAT) untuk Asia Pasifik di Kaspersky.

Hal yang perlu diwaspadai selanjutnya adalah penipuan online tingkat lanjut dan rekayasa sosial atau Social Engineering akan ramai di tahun 2022. Para pelaku kejahatan siber tahun ini dikatakan bakal lebih berfokus pada serangan non-teknologi, eksploitasi kerentanan manusia, melibatkan segala jenis macam rekayasa sosial melalui SMS, panggilan telepon otomatis, pengirim pesan populer, jejaring sosial dan lainnya.

Selain itu, dengan berkurangnya serangan ransomware yang ditargetkan secara terbuka mengekspos data curian, kita akan melihat munculnya data curian yang diperjualbelikan di pasar gelap selama 2022 ini.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami mengamati bahwa dalam banyak kasus pelanggaran data, para korban tidak dapat mengidentifikasi penyerang, atau mengetahui bagaimana skema yang menyebabkan data pribadi mereka dicuri,” jelas Kamluk lagi.

Para ahli dari Kaspersky melihat hal tersebut bukan lagi sekedar tantangan, melainkan juga sinyal yang mendorong para pelaku kejahatan siber pasif untuk meluncurkan ancaman mereka melalui pencurian data dan perdagangan ilegal.

Serangan industri cryptocurrency dan NFT atau Non Fungible Token juga diprediksi akan ramai di tahun 2022 ini. Dengan mengamati penyerang canggih dengan sumber daya manusia yang mumpuni, seperti grup Lazarus dan sub-grupnya, BlueNoroff, peneliti Kaspersky menyimpulkan bahwa kita akan dihadapkan dengan gelombang serangan yang lebih signifikan terhadap bisnis cryptocurrency dam aset digital lainnya.

Bahkan industri NFT yang berkembang tidak luput dari sasaran para pelaku kejahatan siber. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa negara-negara di Asia Tenggara memimpin dalam hal kepemilikan NFT, dengan Filipina menduduki puncak daftar dengan 32 persen mengatakan mereka memiliki aset digital tersebut.

Di antara 20 negara yang disurvei, Thailand (26,2 persen) menempati peringkat kedua diikuti oleh Malaysia (23,9 persen). Vietnam berada di peringkat ke-5 (17,4 persen) dan Singapura di peringkat 14 (6,8 persen). Selain itu, para ahli dari perusahaan keamanan siber global memperkirakan bahwa serangan ini tidak hanya akan berdampak pada pasar cryptocurrency global tetapi juga harga saham masing-masing perusahaan, yang juga akan dimonetisasi oleh penyerang melalui perdagangan wawasan ilegal pasar saham.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Rian Alfianto

Saksikan video menarik berikut ini: