alexametrics

Daniel Hazman: Peluang Digitalisasi Work Flow di Indonesia Luar Biasa

6 April 2022, 20:20:12 WIB

JawaPos.com – Pada 2018, Daniel Hazman mengunjungi salah satu perusahaan ritel terbesar di dunia yang memiliki 8.000 toko di Amerika Serikat. Dia tahu, perusahaan itu menyebar ratusan konsultan lapangan setiap minggunya. Tujuannya, untuk memastikan semua toko menerapkan standar operasional prosedur dengan tepat. Proses ini dilakukan secara manual dengan pulpen dan kertas.

Mantan Senior Manager Walmart itu mengaku terkejut bahwa perusahaan sebesar itu masih belum mendigitalisasikan proses operasionalnya. Pengalaman itu menginspirasi Daniel untuk membangun sebuah software manajemen operasional yang kini disebut Nimbly Technologies. Menariknya, dalam tiga tahun Nimbly berhasil masuk ke rising startup di Asia.

JawaPos.com berkesempatan untuk berbincang secara khusus dengan pria yang pernah menjadi di Direktur Regional Asia IDH – The Sustainable Trade Initiative itu. Mulai dari ketertarikannya dengan teknologi, hingga soal proses digitalisasi di berbagai perusahaan Indonesia. Berikut wawancaranya dengan pendiri dan CEO Nimbly Technologies, Daniel Hazman.

Bisa diceritakan, apa yang membuatmu tertarik dengan teknologi?

Sejak muda, saya selalu bermimpi untuk dapat membangun sesuatu yang berdampak besar terhadap kesejahteraan banyak orang. Nah, teknologi adalah caranya. Saya gembira bahwa kini, melalui perusahaan teknologi, tepatnya Software-As-A-Service yang saya namakan Nimbly, saya bisa mendorong kultur sejumlah organisasi secara kian positif. Meningkatkan operasional perusahaan secara drastis, membantu mereka meningkatkan daya saing, dan juga meningkatkan keterampilan sumber daya manusia dalam skala yang cukup besar dan terus meningkat.

Teknologi kini mempengaruhi kehidupan dalam tingkat dan skala yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia sebelumnya, dan dampaknya terus meningkat secara cepat.

Dalam hal perekonomian dan kesejahteraan, teknologi mendorong pembangunan ekonomi dan memberikan kontribusi luar biasa pada pertumbuhanya. Membuka peluang baru serta meningkatkan daya saing dari tingkat pekerja, perusahaan, dan bahkan dalam tingkat negara. Ini yang membuat saya betul betul tertarik pada dunia teknologi sejak usia muda.

Kabarnya pada 2018 Anda melihat perusahaan besar yang belum mendigitalisasikan proses kerjanya. Padahal, itu di Amerika yang tergolong negara maju. Kenapa itu bisa terjadi?

Pada saat itu saya juga terkejut. Namun untung saja saya melihat langsung. Jika tidak, saya tidak akan mendirikan Nimbly. Yang saya amati, langkah terakhir operasional (last mile execution) sering diabaikan atau dilupakan oleh perusahaan besar. Dan Nimbly didirikan khusus untuk menanggulangi bagian operasional terakhir ini, seperti niche. Jadi perusahaan beralih dari pencatatan dengan kertas ke pensil menjadi digital melalui aplikasi mobile yang saya bangun. Perusahaan di Amerika Serikat tersebut lantas menjadi pembeli pertama Nimbly, pada 2018.

Saya memiliki pengalaman yang cukup luas dalam eksekusi langkah terakhir operasional, khususnya operasional karyawan lapangan. Pekerjaan saya sebelumnya di Walmart. Di sana, pekerjaan saya adalah menangani operasional langkah terakhir baik untuk internal Walmart dan juga eksternal dengan vendor dan mitra mereka.

Nah, Nimbly dibangun untuk mengatasi tantangan-tantangan operasional tersebut dan menyederhanakan tugas sehari-hari para pekerja lapangan. Solusi Nimbly juga memberikan visibilitas menyeluruh secara real-time kepada manajemen. Hasilnya, Nimbly menekan biaya operasional, meningkatan pendapatan, dan meningkatkan kualitas kerja karyawan secara drastis bagi para pengguna.

Bagi perusahaan besar, Nimbly dapat diintegrasikan dengan sistem back-end operasional lainnya. Sehingga operasional perusahaan dari hulu ke hilir dapat didigitalisasikan, dan membantu perusahaan yang menggunakannya mencapai keunggulan operasional tertinggi. Untuk perusahaan yang lebih kecil, saya lihat Nimbly bisa menjadi cara cepat dan aman untuk transformasi digital dengan fokus pada fungsi operasional.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Bukankah, kami lebih jauh tertinggal dibanding perusahaan Amerika?

Perusahaan besar di Indonesia tidak kalah canggih kok dalam hal transformasi digital jika dibandingkan dengan perusahaan di perekonomian yang lebih maju. Namun mirip dengan situasi yang saya alami di Amerika Serikat, langkah terakhir operasional sering diabaikan, dan dijalankan dengan ‘kertas dan pensil’. Disini Nimbly dapat memberikan jawaban. Mungkin karena hal ini, dalam tahun terakhir saya melihat bahwa semakin banyak perusahaan besar di Indonesia dan di Asia mulai melirik solusi yang kami tawarkan. Bahkan sejumlah dari mereka telah menjadi pelanggan kami dengan kontrak tahunan contohnya KFC Indonesia.

Perusahaan kecil dan bisnis keluarga di Indonesia pada umumnya masih cukup tertinggal. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, mereka semakin melek betapa pentingnya melakukan digitalisasi. Pandemi mendorong urgensinya secara lebih lanjut.

Perusahaan menengah merupakan “sweet spot” Nimbly. Mereka dapat melakukan digitalisasi operasional mereka secara pesat dan meraup manfaat yang luar biasa. Contohnya PT. Astari Niagara, perusahaan manufaktur dan eksportir bingkai kayu yang meraup manfaat luar biasa dengan Nimbly. Setelah Nimbly mereka pun dinobatkan sebagai vendor terbaik oleh sejumlah perusahaan raksasa ritel di Amerika Serikat , karena proses mereka yang konsisten dan dapat diandalkan.

Berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk membangun Nimbly? Apa tantangan terbesar saat itu?

Pembangunan Nimbly adalah proses yang berkelanjutan. Karena Nimbly adalah sebuah Perangkat Lunak yang dijual sebagai Layanan (Software as A Service) , kami terus memperbarui solusi kami dengan teknologi terkini. Karena Nimbly berusia tiga tahun, ya berarti tiga tahun juga dalam pembuatannya hingga sekarang, dan proses ini akan terus berlanjut.

Dengan melayani ratusan perusahaan, kami terus belajar mengenai peningkatan solusi. Seperti fitur apa yang perlu ditingkatkan, atau ditambah.

Kami memiliki sejumlah tim pengembang di Indonesia, India dan Filipina untuk memastikan Nimbly benar-benar menjadi solusi global. Dalam beberapa tahun ke depan saya ingin memperluas pasar ke seluruh dunia. Kini saja kami sudah digunakan di 8 negara lho terutama di industri F&B, Manufaktur, Ritel, Agrikultur, Fasilitas, Distribusi dan lainnya.

Bagaimana dengan sekarang, apakah Nimbly sudah sesuai dengan mimpimu? Apa yang ingin ditingkatkan?

Saya sungguh sangat bangga dengan kemajuan Nimbly sejak didirikan pada 2018. Meskipun dengan tantangan yang dialami selama pandemi, kami dapat terus tumbuh secara signifikan dan konsisten. Pasar utama kami adalah Indonesia, dan sekitar 70 persen pelanggan kami berpusat di Indonesia. Begitu juga karyawan kami, paling banyak di Indonesia. Setelah itu di Singapura, India, Filipina, Malaysia, dan juga di Amerika,

Nah, kedepannya, hal yang kami ingin tingkatkan adalah 4 hal inti :

  1. Ekspansi geografis secara agresif khususnya memperluas penetrasi di luar Indonesia , dimulai dengan Asia Tenggara – tepatnya Singapura, Filipina, Thailand, dan Malaysia. Sekarang kami sedang mengerjakan sejumlah POC (Proof of Concept) pada perusahaan ternama di luar Indonesia. Saya yakin pada quartal ini dan quartal selanjutnya kami dapat memenangkan ejumlah pelanggan baru dari luar Indonesia. Sangat menyenangkan!
  2. Ekspansi ke perusahaan yang lebih besar. Kami ingin lebih fokus ke sektor enterprise dan perusahaan menengah ke atas . Tentu kami tidak mengabaikan perusahaan kecil, namun perusahaan menengah dan besar dapat meraup manfaat yang lebih bermakna. Terutama jika mereka memiliki banyak lokasi operasional, atau menangani daerah.
  3. Pembangunan Rangkaian Produk Lengkap dan Canggih untuk karyawan lapangan. Berdasarkan pengalaman kami yang mendalam, khususnya operasional langkah terakhir di industri F&B, retail, manufaktur, agrikultur, fasilitas dan logistik/distribusi, kami melihat peluang besar untuk solusi ekosistem yang membantu karyawan lapangan mencapai konsistensi optimal dalam hal kualitas produ.  Dan pengalaman kami menggabungkan solusi ini ke dalam tiga lini produk inti: Smart Routine / Audit, Smart Force, dan Smart Insights mencakup hal-hal seperti digitalisasi ceklis/SOP, alur-kerja dan manajemen isu, sistem pembelajaran & manajemen, kehadiran & produktivitas, umpan balik pelanggan, analisis sentimen, dan lainnya.
  4. Peningkatan Loyalitas Pelanggan dan Bukti Sosial. Semakin banyak pelanggan kami berbicara secara terbuka tentang nilai yang mereka dapatkan dari Nimbly, itu memberikan kami efek “bola salju” pada peningkatan penjualan. Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kepuasan pelanggan. Memberikan mereka time to value atau ROI yang luar biasa pesat, penggunaan yang sangat mudah, arsitektur yang fleksibel, keamanan penuh, dan skalabilitas.

Tahun lalu, Nimbly masuk dalam 50 rising startup di Asia Apa catatanmu terkait itu, dan bagaimana Nimbly menatap 2022?

Benar-benar merupakan suatu kehormatan besar bagi kami! Kami diakui sebagai startup yang naik daun tidak hanya di Indonesia tetapi juga secara regional di Asia Tenggara. Pertama kali kami ditampilkan di TechCrunch, dan awal tahun ini kami kembali ditampilkan sebagai startup terbaik di Asia Tenggara oleh publikasi Startup Asia.

Pemilihan startup terbaik ini didasarkan pada sejumlah kriteria. Seperti inovasim terkait produk atau penawaran dan rute pasar. Lalu, pertumbuhan. Pertumbuhan yang pesat dalam hal penambahan jumlah pelanggan dan strategi perkembangan yang solid,. Selain itu terkait manajemen, dan pengaruh.

Itu selaras dengan fundamental bisnis Nimbly yang kuat, dan terus meningkat jika dilihat dari penawaran unik ke pasar, pertumbuhan yang pesat, dan strategi pertumbuhan yang solid.

Bagaimana Anda melihat pasar indonesia untuk peluang digitalisasi proses bekerja?

Selama empat tahun ke depan, Indonesia diperkirakan akan memimpin Asia-Pasifik dalam pembelanjaan IT. Didukung oleh pergeseran kuat menuju layanan terkait cloud yang diakselerasikan oleh pandemi Covid-19. Seperti dijelaskan di sebuah laporan perusahaan konsultan bisnis ternama, pengeluaran IT spending di Indonesia diperkirakan akan tumbuh

Pada tingkat tahunan gabungan (CAGR) sebesar 13 persen selama beberapa tahun ke depan. Aplikasi proses bisnis di mana kami beroperasi adalah segmen utama dalam pengeluaran IT ini. Teknologi seperti Nimbly menghadirkan peluang besar bagi bisnis untuk meningkatkan operasional mereka secara tajam, melakukan inovasi, meningkatkan pemasukan dan melakukan penghematan biaya.

Selain itu, dengan mendigitalisasikan operasional perusahaan dengan Nimbly, perusahaan dapat menjadi gesit dan lincah. Dapat cepat beradaptasi pada situasi yang terjadi di pasar. Dengan memanfaatkan platform digital berbasis data, perusahaan dapat terus mengembangkan model operasi yang lebih efektif dan mendaoat keunggulan operasional tertinggi. Pada akhirnya memberikan kinerja maksimal dan memuaskan pelanggan secara optimal. Kesimpulan saya terhadap peluang digitalisasi proses bekerja di Indonesia? Luar Biasa!

Banyak pekerja di Indonesia yang berusia lanjut. Kebanyakan, mereka tidak siap untuk beralih ke proses digital. Bagaimana anda melihat itu? Apakah ada tips agar pekerja yang berusia lanjut bisa berjalan bersama milenial untuk bertransformasi ke digital?

Sebagai pelaku industri, kami harus mengatasi kesenjangan dan tantangan yang menghalangi pekerja berusia lanjut untuk meraup manfaat dari transformasi digital. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan untuk mengelola teknologi yang dapat diakses oleh semua orang, umur berapa pun.

Pertama-tama, kami perlu fokus terhadap pengguna teknologi dan mengelompokan mereka sesuai kebutuhan. Apakah itu berdasarkan tingkat pendidikan maupun usia. Selanjutnya, memastikan bahwa aplikasi, teknologi, platform yang dikembangkan mempertimbangkan kebutuhan mereka.

Solusi Nimbly untungnya sangat mudah digunakan dan cocok untuk segala usia, atau tingkat edukasi. Solusi kami mirip dengan platform media sosial seperti Facebook. Setiap karyawan dapat menggunakannya. Dari manajemen hingga pekerja pabrik ataupun petani sekalipun. Pelatihan biasa kami lakukan dalam beberapa jam saja. Kami belum pernah mengalami masalah dalam pelatihan pekerja.

Terakhir, saya percaya bahwa pelaku industri sebaiknya mendorong budaya yang mempertimbangkan kebutuhan orang berusia lanjut di dunia korporat dan mendukung peningkatan keterampilan digital mereka. Misalnya pendanaan pelatihan digital, membangun kultur yang saling membantu. Menurut saya penting untuk menciptakan inklusivitas karyawan usia lanjut agar setiap karyawan dapat menjadi karyawan digital yang seutuhnya. Tanggung jawab kami untuk melakukan hal ini,

Apa tantangan terbesar saat menggarap pasar Indonesia

Indonesia sangat menjanjikan untuk kami. Namun, “kompetisi” terbesar kami saat ini ketika mendekati calon pelanggan di Indonesia adalah saat mereka memutuskan untuk membangun solusi mereka sendiri. Pembangun solusi atau aplikasi sendiri tidak selalu merupakan ide yang terbaik.

Keputusan apakah lebih baik membangun solusi atau membeli perangkat lunak mungkin tergantung pada preferensi pribadi. Sistem yang dibangun sendiri dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan harapan pengguna tanpa harus bergantung pada pengaruh kemana produk pihak ketiga ini akan menuju. Namun, jika pelanggan menginginkan skalabilitas, kinerja, dan fungsionalitas yang canggih, serta tidak ada tekanan dan biaya maintenance; membeli perangkat lunak dari vendor terkemuka dan terbukti seperti Nimbly menjadi pilihan yang paling masuk akal.

Umumnya, saya mengatakan kepada calon pelanggan jika solusi yang kami tawarkan setidaknya cocok sebesar 60 persen atau lebih (pada proses mereka). Saya sarankan lebih bijaksana untuk membeli solusi siap pakai daripada membangun solusi sendiri. Membangun perangkat lunak sendiri mungkin tampak sangat menarik di awal, tetapi biaya dan risiko akan terus bertambah dengan berjalannya waktu.

Membangun solusi dari awal memakan waktu berbulan-bulan sebelum dapat diimplementasikan dan digunakan. Belum tentu solusi yang dibangun sendiri berjalan dengan baik dan mudah digunakan. Selain itu maintenance dan upgrade harus selalu dilakukan. Tentu akan memakan waktu, biaya dan resiko besar jika dilupakan. Perusahaan harus membangun tim teknologi, lalu bagaimana kelanjutannya kalau tim teknologi inti mereka keluar dari perusahaan?

Pertanyaannya adalah: pilihan apa yang terbaik untuk jangka panjang? Apa yang akan menghemat biaya ? Apa yang paling aman?

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads