Main HP di SPBU Disebut Memicu Kebakaran, Simak Penjelasannya

30 Juni 2022, 14:45:40 WIB

JawaPos.com – Masyarakat Indonesia di beberapa daerah akan diwajibkan untuk mendaftar di laman Subsidi Tepat MyPertamina saat membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Solar dan Pertalite per 1 Juli 2022. Cara ini diklaim pemerintah untuk melakukan kontrol terhadap pembelian BBM subsidi agar tepat sasaran.

Setelah mendaftar di website Subsidi Tepat MyPertamina, selama tujuh hari kerja, nantinya masyarakat yang daerahnya di tahap awal kena implementasi uji coba aturan ini akan mendapat kode batang atau QR Code. Itu terkait identitas dirinya dan kendaraan yang akan menenggak BBM bersubsidi.

QR Code inilah yang nantinya mesti ditunjukkan kepada pihak SPBU Pertamina untuk divalidasi dan membuat kita mengeluarkan atau menggunakan smartphone di area SPBU.

Lantas, apakah informasi main atau menyalakan HP di area SPBU bisa memicru kebakaran? Hal ini dibantah oleh penelitian yang telah dilakukan banyak ahli di seluruh dunia. Dijelaskan pakar gadget Lucky Sebastian, berdasarkan studi Dr Adam Burgess of the University of Kent, menggunakan ponsel di SPBU disebut aman.

Pakai HP, menelepon, atau menggunakan ponsel di dekat area nozzle atau keran BBM dapat menyebabkan kebakaran. Dijelaskan Lucky hal itu dipastikan hanya mitos belaka. Hal tersebut sebagai mitos yang berkembang dan menjadi keyakinan.

“Dia (Dr Adam) selama 11 tahun meneliti 243 kebakaran di SPBU seluruh dunia, ternyata tidak satu pun hasilnya mengungkapkan bahwa kebakaran SPBU yang ada disebabkan oleh ponsel,” ungkap Lucky kepada JawaPos.com.

Lucky menerangkan lebih lanjut, awal mula kecurigaan ponsel menjadi penyebab kebakaran di SPBU dimulai dari surat kabar Guardian pada 2005 silam. Dikabarkan seorang pengendara motor yang sedang mengisi bahan bakar merogoh saku baju dan celananya untuk mencari ponsel. Tak lama kemudian ada api keluar dari motonya yang sedang diisi BBM.

“Diambil kesimpulan penyebabnya ponsel. Tetapi diperkirakan, tetesan bensin yang keluar meluber dari tangki mengenai mesin motor yang panas sehingga terjadi kebakaran,” terang Lucky.

Atau bisa juga, menurut Lucky, banyak kejadian kebakaran di SPBU terjadi karena listrik statis yang diciptakan oleh pengendara, gesekan antara kulit dengan bahan pakaian seperti katun dan sejenisnya, atau gesekan pakaian seseorang dengan material di sekelilingnya. Itu bisa dengan kendaraannya dalam hal ini adalah tangki sepeda motor yang kemudian memicu adanya kekuatan listrik statis yang kemudian disambar bahan bakar.

Gelombang Elektromagnetik HP Tak Cukup Kuat Menciptakan Api

Lucky melanjutkan bahwa sinyal dari ponsel atau gelombang elektromagnetik yang keluar dari ponsel terlalu kecil atau tidak cukup kuat untuk bisa memicu api. Untuk bisa memercik uap gas dari bahan bakar yang kemudian memicu kebakaran.

“Secara teknis, sinyal dari HP atau gelombang elektromagnetik yang timbul saat menggunakan HP atau menelepon di dekat pompa BBM tidak cukup kuat untuk menciptakan sumber api,” ungkap Lucky.

Bahkan, lanjut Lucky, televisi yang dulu kadang-kadang terganggu zaman awal ponsel, sekarang tidak lagi terjadi. Hal ini karena untuk bisa beroperasi di sebuah negara ada ukuran SAR (Specific Absorption Rate) yang ada batas maksimalnya saat mengenai kepala atau badan sehingga tidak mempengaruhi kesehatan dari penggunaan sebuah ponsel.

Studi terbaru juga sudah dilakukan oleh lembaga independen BakerRisk dan Technical Standards and Safety Authority (TSSA) di Kanada. Kesimpulannya, TSSA memperbolehkan masyarakat menggunakan ponsel untuk melakukan pembayaran di SPBU di Ontario, Kanada. Menurut studi tersebut, kemungkinan HP bisa memicu ledakan di SPBU adalah 1:10.000.000.000 (1 berbanding 10 miliar).

Sementara di dalam negeri, peneliti utama Electromagnetic Design Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), juga mengungkapkan bahwa membuka HP di SPBU bisa memicu ledakan dan kebakaran, tidak sepenuhnya benar.

“Larangan mengaktifkan ponsel saat mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU bukan karena bisa meledak seperti yang dipikirkan,” kata Peneliti utama Electromagnetic Design Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian LIPI, Harry Arjadi, dikutip dari laman resmi LIPI.

Menurut penelitian LIPI, kemungkinan terjadinya ledakan akibat membuka HP di SPBU sangat kecil. Sebab, radiasi elektronik yang ditimbulkan oleh HP sudah tercampur dan terurai dengan komponen di udara.

Meski aman, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan menjaga sikap di area SPBU. Bukan karena HP, pemicu kebakaran justru bisa timbul dari hal lainnya seperti merokok, posisi mesin tidak mati, saat mengisi bensin dan banyak hal lainnya.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Rian Alfianto

Saksikan video menarik berikut ini: