alexametrics

Perhatikan Cara Merawat Aki Agar Tak Repot di Jalan

25 Juni 2019, 13:37:23 WIB

JawaPos.com – Aki merupakan salah satu komponen paling vital pada kendaraan bermotor. Tentunya membutuhkan perhatian lebih. Salah-salah atau kurang teliti, kerusakan aki bakal membawa pengguna kendaraan bermotor pada situasi yang kurang menyenangkan. Mogok misalnya, atau parahnya kendaraan mengalami kerusakan di sektor kelistrikan.

Aki menjadi komponen yang paling harus diperhatikan bagi pengguna kendaraan bermotor dengan transmisi otomatis, mobil atau sepeda motor. Berbeda dengan kendaraan bertransmisi manual, mobil atau sepeda motor dengan transmisi otomatis tidak bisa dihidupkan dengan metode lain selain dengan menggunakan motor starter yang listriknya disuplai dari aki.

Kebalikannya, mobil atau motor dengan transmisi manual jika akinya mati atau tekor, menghidupkan mesinnya masih bisa dengan cara lain. Didorong misalnya untuk menciptakan percikan api di dalam jantung pacu kendaraan.

Yang semakin membuat repot, jika Anda kurang teliti sebagai pemilik kendaraan bermotor roda dua dengan transmisi otomatis. Saat ini pabrikan sepeda motor sudah banyak yang jarang menyertakan alternatif starter lain, seperti kick starter atau engkol istilah umumnya. Engkol saat ini sudah jarang hadir pada sepeda motor otomatis keluaran terbaru. Jika aki mati, starter tidak bisa dinyalakan. Tentunya akan sangat merepotkan.

Agar tak repot di jalan gara-gara aki mati atau tekor, berikut cara sederhana merawat aki agar tahan lama.

Direktur GS Battery, Antonius Reiner (kiri) saat meluncurkan aki GS Gold untuk motor terbaru di Jakarta, Senin (24/6) malam WIB. (Rian Alfianto/JawaPos.com)

1. Perawatan Berkala
Hal yang paling penting dilakukan untuk menjaga usia pakai aki lebih lama adalah dengan perawatan rutin atau berkala. Direktur GS Battery, Antonius Reiner menyebut, semua aki pada dasarnya tahan lama. Namun, hal tersebut tergantung dari kualitas pembuatan dari pabrik yang bersangkutan.

Usia pakai aki selain ditentukan dari kualitas pembuatannya, perawatannya juga penting diperhatikan. Selain akinya sendiri, faktor yang juga penting adalah kendaraan yang bersangkutan. “Mobil atau motornya itu sendiri. Itu juga menentukan usia pakai aki,” ujar Anton usai acara peluncuran aki GS Gold terbaru di Jakarta, Senin (24/6) malam WIN.

Perawatan aki sendiri dikatakannya akan lebih bagus mengikuti pola perawatan kendaraan. Maksudnya, mobil atau seped motor masuk ke bengkel untuk perawatan rutin, sekalian dilakukan pengecekan aki.

Merawat aki sendiri juga mudah. Paling gampang dilihat di area sekitar aki. Biasanya pada aki kerap terdapat kerak berwarna putih. Kalau mendapati itu, segera dibersihkan. Sementara kalau aki premium atau aki basah, dilihat ada air atau tidak. Kemudian airnya tawar atau tidak.

Pada aki basah biasanya ada indikator yang ditunjukkan dengan warna air biru atau merah. Biru artinya baik, merah artinya aki kurang setrum. Andai saat mengecek aki didapati kurang setrum, segera lakukan pengisian ulang air aki atau setrum ulang.

2. Rutinitas Sehari-hari
Yang kedua dan ternyata kerap diabaikan adalah penggunaan dalam rutinitas sehari-hari. Ada anggapan bahwa kendaraan jika jarang dipakai akan lebih awet. Padahal hal tersebut tak sepenuhnya benar. Kendaraan justru jika jarang dipakai akan menyebabkan kerusakan pada komponen di dalamnya. Salah satunya aki.

“Dari sisi pemakaian kendaraan menentukan usia pakai aki. Semakin sering kendaraan yang menggunakan aki dipakai, itu malah lebih baik. Jauh lebih baik daripada kendaraan yang tidak pernah dipakai,” papar Anton.

Hal tersebut merupakan mekanisme aki sendiri, kendaraan memiliki dinamo pengisian atau istilahnya dinamo ampere. Kendaraan dipakai, dinamo berputar, aki terisi. Sebaliknya, kendaraan jarang dipakai aki jadi jarang terisi.

3. Hindari Pemasangan Aksesori Berlebih
Ketiga, selain perawatan rutin dan pola pemakaian, usia pakai aki juga ditentukan oleh beban aki itu sendiri. Untuk usia pakai aki yang lebih lama, hindari pemasangan aksesori yang melibatkan kelistrikan berlebih.

Pemasangan aksesori di sini adalah audio tambahan, lampu tambahan, dan yang lain yang melibatkan kelistrikan. Yang paling sering dilakukan adalah aksesori audio dan lampu.

“Aki itu komponen kelistrikan yang memiliki ukuran. Kalau dipakai untuk kelistrikan yang memiliki ukuran lebih daripada kapasitas akinya, aki akan cepat rusak atau parahnya kendaraan yang menggunakannya yang akan bermasalah,” tutur Anton.

Dirinya menyarankan, sebaiknya komponen standar saja yang digunakan. Kalau memang ingin menggunakan kapasitas kelistrikan yang lebih besar, disarankan untuk dikonsultasikan ke bengkel. Yang dibutuhkan berapa, kapasitas aki yang diperlukan berapa dan tipe aki yang seperti apa.

4. Hindari Panas Berlebih
Terakhir, yang juga penting untuk diperhatikan adalah menghindari kendaraan dari panas berlebih. Panas di sini bisa karena suhu di luar ruang mesin atau di dalam ruang mesin itu sendiri karena kerusakan yang ada.

“Iklim atau suhu juga memengaruhi masa pakai aki. Aki tergantung dari suhu. Aki dirancang pada suhu di kisaran tertentu. Tapi yang jelas, masa pakai juga bisa dipengaruhi oleh suhu. Kalau panas, untuk aki basah airnya cepat menguap, kalau aki kering bisa cepat rusak komponen di dalamnya,” tegas Anton.

Untuk sektor ini, penting untuk menjaga kendaraan dari hawa panas. Misalnya mencari tempat parkir yang teduh saat dibawa beraktivitas atau memarkir di garasi tertutup saat berada di rumah. Untuk mobil, ruang mesin yang panas juga bisa disebabkan karena gangguan di sistem pendingin atau radiator.

Sementara untuk pilihan aki kering atau basah, hal tersebut dikatakan Anton hanya pilihan saja. Jika mau yang praktis, pakai yang Maintenance Free atau aki MF atau aki kering. Sementara untuk yang agak rajin bisa menggunakan aki basah atau aki hybrid yang merupakan gabungan dari aki basah dan aki kering. Untuk kualitas dan ketahanan, semua tipe aki tersebut disebutnya sama.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Rian Alfianto



Close Ads