alexametrics
GIIAS 2019

Kehadiran Mobil Listrik Harus Diimbangi Infrastruktur Memadai

24 Juli 2019, 22:07:14 WIB

JawaPos.com – Rencana soal mobil listrik atau elektrifikasi kendaraan santer terdengar belakangan ini. Terlebih pameran otomotif Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2019 yang mengusung tema Future in Motion banyak menghadirkan teknologi-teknologi terkini kendaraan utamanya yang membawa teknologi listrik sebagai pokok penggerak utama.

Soal mobil listrik di Indonesia sendiri masih terkendala aturan dan regulasi yang belum rampung. Karenanya, belum tersedia infrastruktur penunjang, aturan pajak, dan sebagainya yang terkait kendaraan listrik. Tentunya itu masih terganjal lantaran belum ada regulasi.

Ketika ditanya soal apakah elektrifikasi masih jauh dari realisasi di Indonesia, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi menyebut perlu membangun infrastruktur terlebih dahulu baru kemudian bicara banyak soal mobil listrik. Menurut Nangoi, ketika bicara mobil listrik juga harus tahu dulu jenis-jenisnya.

“Mobil listrik kan banyak jenisnya, hybrid juga listrik. Kalo hybrid kan nggak perlu dicolokin, dia jalan saja mesin (fuel)-nya, bergantian saling mengisi baterai elektriknya. Plug in Hybrid juga demikian. Nah kalau mobil pure listrik atau Battery Electric Vehicle (BEV) kalau infrastrukturnya belum terbentuk kan bahaya, dikhawatirkan kalau lagi jalan, di tengah jalan kehabisan listrik, bubar dia,” ujar Nangoi kepada JawaPos.com di sela-sela acara Gaikindo International Automotive Conferences di ICE BSD, Tangerang, Rabu (24/7).

Menurut Nangoi, BEV proses charging-nya juga memakan waktu, beda dengan kendaraan biasa dengan bahan bakar fosil yang satu menit colok (isi bahan bakar) bisa langsung penuh. “Kalau listrik kan butuh paling tidak 40 menit dengan voltase yang besar. Kalau normal (voltase) malah bisa tiga sampai empat jam atau lebih, nah ini yang harus dibentuk infrastrukturnya,” sambungnya.

Jalan Tengah

Sebagai alternatif, jika realisasi kendaraan listrik di Indonesia masih belum terwujud dalam waktu dekat, Nangoi menyebut Indonesia bisa menggunakan jalan tengah.

“Indonesia bisa pakai jalan tengah, maksudnya kita kan penghasil mobil, semua pabrik kita kan energinya combustion (menggunakan bahan bakar fosil). Saat ini, ya combustion jelek jika dibandingkan dengan mobil listrik (untuk dampak lingkungan). Tapi kan kita juga sudah mulai memakai green fuel. Bahkan nanti seperti di Brasil, 100 persen mobil bensinnya menggunakan etanol dari tebu. Berarti kan nggak butuh bahan bakar fosil,” papar Nangoi.

Energi lain yang bisa dimanfaatkan adalah bahan bakar gas atau BBG. Hal tersebut juga bisa dimanfaatkan. “Ya mungkin. Tapi kenapa belum bisa jalan karena kemarin SPBBG-nya juga nggak berjalan. Lagi-lagi infrastrukturnya yang belum berjalan. Konversi mobil konvensional ke BBG? Bisa. Tapi kalau infrastrukturnya tidak ada nggak akan bisa jalan,” jelas Nangoi.

Terkait mobil listrik, Nangoi memprediksi bahwa untuk elektrifikasi di Indonesia sesegera mungkin harusnya sudah bisa jalan dalam waktu dekat.

“Yang saya sebut elektrik tadi kan sudah dijelasin, jenis-jenis kendaraannya. Desas-desusnya kan pemerintah akan segera merilis aturan mobil listrik, ya kita tunggu saja, mudah-mudahan langsung bisa jalan. Tapi kan bertahap untuk ke elektrifikasi seperti apa. Belum tentu kan dunia juga larinya akan ke BEV 100 persen. Juga belum tahu,” tutup Nangoi.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Rian Alfianto

Alur Cerita Berita

Lihat Semua

Close Ads