alexametrics
Kaleidoskop Otomotif 2018

Tren Kendaraan Listrik Kian Seksi

23 Desember 2018, 03:00:30 WIB

JawaPos.com – Isu pencemaran lingkungan akibat bahan bakar fosil dan migrasi menuju sumber energi terbarukan menjadi ujung pangkal evolusi kendaraan bermotor menuju tren elektrifikasi.

Sekitar tahun 2015, beberbagai merek sepeda motor listrik mulai merembes ke pasar Indonesia. Beberapa di antaranya diproduksi oleh Amerika dan Jepang. Namun arus perubahan itu nampaknya masih harus terganjal oleh regulasi di Indonesia yang belum siap.

Tahun 2017, sepeda listrik (Selis) yang mirip skuter matik ini dipajang di GIIAS. Selis ini bisa melaju dalam kecepatan 90 km / jam.  Pengendaranya tidak diwajibkan memiliki SIM. “Selis Merak mampu menempuh jarak 60 km untuk sekali pengisian aki,” ujar Eko, tim marketing  Selis.

Tren Kendaraan Listrik Kian Seksi
Ilustrasi (Rofiah Darajat & Ane / JawaPos.com)

Didesain mirip seperti sekuter matik. Selis ini juga dibekali dengan lampu depan jauh-dekat, lampu belakang dan sein. Sebagai sarana pengaman, sepeda listrik ini juga memiliki kunci setang, sama persis kunci yang diaplikasikan pada skuter matik. Agar tak mudah dibobol pencuri, kunci dilengkapi dengan pelindung atau penutup.

Meskipun mejeng di atas booth yang berada di belakang, saat itu si Selis Merak menjadi pusat perhatian pengunjung GIIA 2017. Tema kendaraan listrik belum diendus oleh para APM yang berada di Booth utama.

Pada Maret 2018, isu kendaraan listrik kembali dihembuskan di ajang Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) 2018. Saat itu, PT Mobil Anak Bangsa (MAB), perkenalkan prototipe kedua dari bus listrik yang berhasil menyita perhatian banyak pengunjung.

Tren kendaraan listrik semakin terasa meriah saat GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 yang diselenggarakan pada 02-12 Agustus di ICE-BSD City, Tangerang, Jawa Barat. Saat itu banyak APM memamerkan kendaraan yang menerapkan teknologi elektrifikasi. Seolah-olah teknologi elektrifikasi menjadi tema perhelatan itu.

Wuling, menampilkan mobil lestrik E100 di boothnya. Mobil bertenaga listrik itu, punya daya tarik tersendiri. Selain karena bentuknya yang menyerupai kapsul, warnanya juga mentereng. 

Sayanganya, konsumen di Indonesia masih harus menunggu. Karena mobil itu belum mengaspal di Indonesia. Wuling masih menunggu regulasi dari pemerintah soal mobil zero carbon. 

Brand Manager Wuling Motors Indonesia Dian Asmahani mengatakan, saat ini Wuling E100 sudah mengaspal di negara asalnya, Tiongkok. Di sana mobil itu mendapat subsidi.

Merek lain yang memboyong mobil listrik di ajang GIAS 2018 adalah Daihatsu, dengan kendaraan bernama DN Pro Cargo.

Awalnya, kendaraan ini didesain bagi pekerja masa depan, utamanya kaum wanita dan manula. Lantainya yang rendah membuat Daihatsu DN Pro Cargo ramah bagi wanita dan kaum lanjut usia. Selain itu juga juga membuat interior menjadi lebih lega.

Interior kabin memiliki dimensi ketinggian 1.600 mm. Kabin yang lega seperti itu memungkinkan penumpang bisa berpindah dan bergerak secara leluasa. Mobil ini mengaplikasin mesin listrik. Menawarkan konsep easy-to-use.

Tak mau kalah dengen merek lain, Honda juga menyuguhkan mobil listrik pintarnya bernama pintar Honda NeuV.

Tanggapan GAIKINDO

Seperti yang dikutip dari situs resmi GAIKINDO, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mendukung pengembangan mobil listrik di Indonesia. Catatnya, pemerintah harus melakukan kajian mendalam terhadap rumusan kebijakan yang kini tengah digarap dalam bentuk draft peraturan presiden (perpres). Khususnya untuk membangun industri baterai dalam negeri lebih dulu.

Ketua Umum GAIKINDO Yohannes Nangoi menjelaskan, pembangunan industri baterai dalam negeri memungkinkan perakitan mobil listrik dapat dilaksanakan secara lebih hemat. Apabila tidak memiliki manufakturnya, Indonesia harus mengimpor dari sejumlah negera seperti China.

Di saping itu, pemerintah juga seharusnya mempersiapkan pengolahan limbah baterai. Intinya, pengembangan mobil listrik jangan semata memikirkan ‘cangkang’ dan sisanya impor.

Selain baterai, infrastruktur listrik juga harus diperhatikan. Nangoi mengingatkan, produsen harus mampu menyiapkan fasilitas manufaktur yang mampu mengoperasikan untuk produksi mobil listrik ini. “Belum lagi, ketersediaan listrik dari PLN. Idealnya, kalau mau mengembangkan (mobil listrik), jaringan harus merata,” katanya.

Editor : Teguh Jiwa Brata

Reporter : (wzk/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Tren Kendaraan Listrik Kian Seksi