alexametrics

KIA Berencana Jadikan Picanto Sebagai Mobil Listrik Ramah Kantong

21 September 2019, 22:11:22 WIB

JawaPos.com – Produsen mobil asal Korea, KIA tertarik untuk membuat mobil listrik yang ramah di kantong. Rencana tersebut akan berbasis pada city car Picanto terbaru. Kemungkinan pada kemudian hari Picanto melenggang sebagai mobil full listrik bertenaga baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV).

Hanya saja, sebagaimana dikutip JawaPos.com dari AutoNews, Sabtu (21/9), gagasan tersebut lagi-lagi terbentur cara untuk membuat atau menekan harga baterai yang tak murah. Saat ini mobil listrik memang dibanderol dengan harga yang lebih mahal ketimbang mobil bermesin combustion. Salah satu yang membuat harganya mahal adalah komponen penggerak dan baterainya.

Picanto yang baru mungkin berubah menjadi kendaraan listrik andai KIA dapat menemukan cara untuk membuat baterainya lebih murah. Bukan tak mungkin, KIA justru menganggap itu sebagai tantangan.

COO KIA Eropa, Emilio Herrera menyampaikan kepada AutoNews, meski menghadapi tantangan besar, mereka optimistis dapat membuat mobil listrik yang ramah kantong. “Tapi cepat atau lambat, kami harus melakukannya,” ujar Herrera.

Gagasan KIA bukan tanpa alasan. Selain tren industri otomotif memang disebut-sebut mengarah ke era elektrifikasi, hal tersebut juga mesti dilakukan karena aturan emisi di beberapa negara semakin ketat. Salah satunya Eropa. Sehingga, salah satu cara untuk lolos dari standar emisi lingkungan yang ketat, produsen mobil seperti KIA harus putar otak terkait mesin dan teknologi yang digunakannya. Sementara itu, memaksa mobil menambahkan teknologi baru yang mahal ke mobil dengan margin keuntungan yang sudah kecil, membuat mobil listrik murah dianggap bisa jadi solusi. Di Eropa, Ford akan berhenti menjual mobil kecilnya, Ka +, di wilayah tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh Opel dengan menjatuhkan model Karl dan Adam di Eropa karena standar emisi yang ketat.

Mobil KIA Picanto generasi paling anyar (Carscoops)

Volkswagen Group diharapkan untuk mengganti mobil pembakaran internal VW Up, Skoda Citigo dan Seat Mii dengan model baterai saja. VW Seat ditugaskan mengembangkan EV kecil untuk grup yang biayanya kurang dari EUR 20.000 atau di bawah Rp 300 jutaan.

Pada pameran mobil Frankfurt Motor Show pada September ini, Renault mengatakan akan meluncurkan kendaraan listrik seharga EUR 10.000 atau berkisar Rp 156 jutaan di Eropa dalam waktu lima tahun ke depan.
Herrera mengatakan skeptis bahwa Renault akan mencapai tujuan itu.

“Saya pikir itu pernyataan yang sangat berani karena salah satu hal paling menantang yang kami miliki adalah membuat semua EV menguntungkan. Dan semakin kecil mobilnya, semakin rumit. Jadi, untuk memiliki EV seharga itu dalam jangka waktu itu, saya melihatnya sangat menantang dan tidak terlalu realistis,” kata Herrera.

Herrera juga menyebut KIA dapat mencoba menemukan sinergi dengan sister company-nya Hyundai jika ingin menghasilkan city car listrik. Kata Herrera, city car listrik juga bisa berasal dari mobil mungil Hyundai i10.

Herrera mengatakan produsen mobil tidak boleh mengandalkan insentif pemerintah yang meningkatkan penjualan EV dengan mengurangi perbedaan harga antara mesin pembakaran internal dan kendaraan listrik baterai. Sebab, katanya, dalam lima tahun, insentif itu mungkin hilang karena begitu banyak EV akan berada di jalan sehingga akan terlalu mahal bagi pemerintah untuk menawarkan subsidi.

“Mengapa KIA menerima tantangan yang begitu sulit? Karena mobil mini dan kecil sangat penting di Eropa. Di negara-negara seperti Italia menyumbang 50 persen dari pasar, jadi saya pikir kami harus memiliki mini car listrik full baterai,” tandas Herrera.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Rian Alfianto



Close Ads