alexametrics

LCGC Makin Sengit, Toyota-Daihatsu Siap-Siap Digempur Mobil Tiongkok

21 Juli 2019, 20:32:06 WIB

JawaPos.com – Toyota dan Daihatsu dipastikan akan mendapatkan banyak saingan untuk mobil jenis Low Cost Green Car (LCGC). Meski pada paruh pertama 2019 Toyota dan Daihatsu masih menjadi market leader penjualan LCGC, namun para pemain baru mulai meluncurkan mobil sejenis untuk berkompetisi dengan kedua perusahaan asal Jepang tersebut.

Salah satunya datang dari Tiongkok yang mulai menggempur pasar otomotif tanah air. Malahan semester II 2019 ini pun diprediksi bakal menjadi pertarungan sengit pada segmen mobil LCGC.

Sekadar informasi, LCGC merupakan mobil murah dan ramah lingkungan. Bedanya dengan non-LCGC, mobil tersebut dipasarkan jauh lebih murah yaitu berkisar Rp 100 juta dan berbahan bakar irit yang merupakan ciri khas mobil LCGC. Selain itu, mobil LCGC juga lebih ramah lingkungan daripada non-LCGC.

Salah satu mobil jenis LCGC, Toyota Cayla. (Istimewa/Toyota)

Berdasarkan data Gaikindo yang mengutip penjualan mobil PT Astra International Tbk menunjukkan, penjualan mobil LCGC pada semester I 2019 mencapai 72.693 unit. Dari angka tersebut, Toyota dan Daihatsu masih menguasai 70 persen pangsa pasar di Indonesia.

Untuk produk rakitan Toyota, mobil MPV Agya dan Calya masih menjadi yang paling diminati oleh pasar. Dengan konsep desain stylish dan modern, tentunya dengan harga yang lebih terjangkau dari non-LCGC, kedua mobil itu menjadi market leader di kelasnya.

Sedangkan Daihatsu menjadikan Alya dan Sigra sebagai produk unggulan pada mobil jenis LCGC. Dengan banderol yang sangat murah, hal ini membuat mobil tersebut jadi rebutan. Bukan tanpa alasan, kedua LCGC Daihatsu itu dibanderol berkisar di bawah Rp 100 juta.

Namun, bisa jadi hegemoni penjualan kedua perusahaan mobil tersebut masih dibayangi oleh pemain lama dan pemain baru yang terus memperkenalkan produk LCGC yang tak kalah bersaing. Di belakang mereka, terdapat produk buatan Honda, Suzuki, dan Datsun. Juga Renault yang baru-baru ini meluncurkan Renault Triber.

Suzuki misalnya. Mereka memperkenalkan produk tandingan yaitu Karimum Wagon R dan Karimum Wagon R GS. Datsun mengeluarkan produk Go Panca dan Go+. Sementara Honda mengeluarkan Brio Satya.

Kendati begitu, Daihatsu dan Toyota sebagai market leader kompak menyatakan tak khawatir dengan terus bermunculannya produk-produk tandingan mobil berjenis LCGC. Sebab, kedua perusahaan menyatakan produk yang dibuatnya telah memiliki keunggulan yang tak dimiliki merek lainnya.

“Di zaman global, persaingan adalah hal yang biasa. Customer juga jadi punya banyak pilihan. Pemain harus terus inovasi memberikan produk dan pelayanan terbaik,” kata Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor Amelia Tjandra kepada JawaPos.com, Minggu (21/7).

Amelia mengatakan, mobil yang dibuat oleh Daihatsu memiliki karakteristik sendiri. Hal inilah yang membuat perusahaan mobil tertua di Jepang itu tetap bisa bertahan dan menjadi pilihan masyarakat Indonesia.

“Mobil Daihatsu dibuat sesuai kondisi di Indonesia. Kami melakukan riset di Indonesia. Paling cocok untuk jalan-jalan di sini. Setelah itu baru diekspor. Merek lain dibuat dari pasar global negara lain, baru masuk Indonesia,” katanya

Sementara itu, Executive General Manager Toyota Fransiscus Soerjopranoto juga mengaku tak masalah dengan mulai masifnya pemain lama dan baru yang ingin bersaing pada segmen LCGC. Pendatang baru malah membuat perusahaan yang juga tengah memproduksi robot ini semakin terpacu.

“Kehadiran pendatang baru tentu saja akan menjadi penyemangat kami untuk terus memberikan yang terbaik kepada pelanggan dan calon konsumen kami,” katanya kepada JawaPos.com.

Berbeda dengan Daihatsu, dia menyatakan, salah satu keunggulan produk rakitan dari Toyota adalah teknologi dan pelayanan yang selalu paling terdepan. Toyota ingin konsumen dapat menjangkaunya di seluruh pelosok Indonesia.

“Kami lebih dekat pelanggan dan bervariasi melalui 332 outlet kami yang tersebar dari sabang sampai merauke,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat otomotif dari Institute Teknologi Bandung (ITB) Yannes Pasaribu menilai bahwa gempuran para kompetitor sejatinya telah perlahan mulai menggerogoti Toyota dan Daihatsu secara perlahan. Dia pun meyakini pada semester kedua 2019 ini pangsa pasar kedua perusahaan tersebut akan mulai surut.

“Gempuran para kompetitor akan mulai menggerogoti pangsa pasar Toyota dan Daihatsu yang berinduk pada grup Toyota Motor Corporation Jepang itu,” tuturnya.

Menurutnya, Toyota dan Daihatsu harus mulai berinovasi untuk mengembangkan industri otomotifnya secara komplet di Indonesia. Apalagi saat ini sudah banyak pemain-pemain baru dari Tiongkok seperti Wulling dan DFSK yang tidak kalah menawarkan produk yang canggih dan murah.

Meski belum memperkenalkan produk mobil untuk kelas LCGC, Tiongkok saat ini mulai beradaptasi cepat untuk menjadi pemain baru yang dapat bersaing dengan market leader. Termasuk dengan produk-produk lainya yang terus melakukan adaptasi dengan Indonesia.

“Jika setengah hati mengembangkan industri otomotifnya secara komplet di Indonesia, dapat dipastikan mereka akan fade-out, pelan tapi pasti,” katanya.

Yannes menyatakan bahwa kasus tersebut pernah terjadi untuk industri mobil rakitan dari Eropa dan Amerika pada 1980-an lalu di Indonesia. “Kalah dengan gempuran mobil Jepang berharga murah, maintenance murah dan mudah, hemat BBM, plus desain yang kompak dan menarik,” jelasnya.

Editor : Fadhil Al Birra

Reporter : Igman Ibrahim



Close Ads