alexametrics

2018, Citilink Tombok Rp 1,41 T Untuk Biaya Operasional

15 Januari 2019, 18:22:41 WIB

JawaPos.com – Keputusan maskapai beberapa waktu lalu untuk mengembalikan tarif tiket menjadi normal menuai kritik. Masyarakat menilai maskapai menaikkan tarif tiket berlebihan.

Polemik panjang itu pun kemudian dibantah oleh para maskapai. Mereka menyebut jika sebenarnya tarif yang tinggi itu adalah harga keekonomian sebelum di diskon. 

Tidak ingin kegaduhan berlanjut, maskapai secara serentak memutuskan untuk kembali menurunkan tarif tiket. Penurunannya bervariasi, mulai dari 20-60 persen.

Direktur Utama Citilink Juliandra Nurtjahjo mengaku tidak mudah bagi pihaknya dalam mengambil langkah tersebut. Pasalnya, ada beberapa komponen yang termasuk dalam penghitungan harga tiket menjadi beban bagi perusahaan.

Dia mencontohkan, pada 2017 harga bahan bakar avtur mencapai USD 0,55 per liter. Setahun berselang, harga itu kemudian naik menjadi USD 0,65 per liter. “Kenaikan USD 0,1 per liter dia akan menambah cost kita USD 4,7,” ujarnya dalam diskusi di Jakarta, Selasa (15/1). 

Kemudian pada faktor mata uang, lanjut Juliandri, ikut mempengaruhi pendapatan maskapai. Apalagi, beberapa waktu lalu fluktuasi Rupiah cukup mengkhawatirkan.

“Penrunan Rp 100 karena kurs melemah dia akan mengureangi reveneui kita USD 3,7 juta per year,” jelas dia.

Secara keseluruhan, Juliandri menyebutkan biaya operasional tambahan akibat kenaikan dari komponen tersebut mencapai USD 102 juta atau setara Rp 14,1 triliun (kurs Rp 14.100). 

“Sehingga di 2018 kita menghitung tambahan biaya akibat fuel, forex dan seidkit biaya bandara menambah cost kita USD 102 juta selama 2018,” tandasnya.

 

Editor : Teguh Jiwa Brata

Reporter : Hana Adi



Close Ads
2018, Citilink Tombok Rp 1,41 T Untuk Biaya Operasional