alexametrics

Uji Kekuatan, Banting Smartwatch Garmin Marq dari Ketinggian

Rayakan Ultah Ke-30 dengan Tur Eksklusif
7 Juli 2019, 06:37:35 WIB

Tahun ini Garmin merayakan ulang tahun ke-30. Produsen yang populer berkat perangkat global positioning system (GPS) itu kini semakin serius menggarap pasar smartwatch. Beberapa hari lalu, wartawan Jawa Pos Dhimas Ginanjar menjadi bagian dari pesta yang ditandai dengan peluncuran jam tangan pintar premium tersebut di Taipei.

SOROT mata Presiden dan CEO Garmin Clifton A. Pemble memancarkan semangat pada Rabu siang (26/6) itu. Di hadapan awak media dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Korea Selatan (Korsel) yang berkumpul di W Hotel Taipei, dia bercerita tentang pentingnya pasar Asia bagi Garmin. Tahun lalu Asia menyumbangkan 23 persen pertumbuhan bisnis global Garmin yang nilainya menembus USD 3,3 miliar atau sekitar Rp 46,6 triliun.

’’Pasar Asia masih menjadi lahan potensial bisnis smartwatch,’’ ujar Pemble. Karena itulah, Garmin meluncurkan produk premium terbarunya untuk pasar Asia pada peringatan ulang tahun yang ke-30 Rabu tersebut.

Jam tangan pintar premium tersebut bernama Marq. Ada lima seri yang disesuaikan dengan selera pasar. Yakni, Aviator, Expedition, Drivers, Athlete, dan Marine.

Rencananya, Marq baru masuk pasar Indonesia pada akhir Juli nanti. Sejauh ini Garmin masih merumuskan harga yang pas. ’’Sekitar sebulan lagi (masuk Indonesia). Kami menawarkan kelimanya,’’ ujar Managing Director Garmin untuk Asia Selatan dan India Engelhard Sundoro.

Rabu itu perayaan ulang tahun di Taipei dilanjutkan dengan tur eksklusif ke pabrik Garmin.

Tur dimulai dengan mengenakan baju khusus dan penutup kepala. Sebelum masuk pabrik, seluruh peserta harus melepas sepatu. Sebuah ruangan khusus yang mengembuskan angin sangat kencang ke tubuh para peserta menjadi pintu masuk ke pabrik. ’’Angin tersebut untuk memastikan tidak ada debu dari luar,’’ ujar pemimpin tur untuk rombongan media.

Ruangan pertama yang dikunjungi adalah bagian hardware. Di situ pekerja menggarap printed circuit board (PCB). Ketika PCB selesai, robot langsung memasang berbagai komponen, termasuk prosesor.

PREMIUM: Garmin Marq Aviator yang segera hadir untuk pasar Indonesia.

Ruangan kedua lebih besar. Di dalamnya terjadi proses perangkaian produk. Sebelum masuk sana, para peserta kembali harus disterilkan dengan angin. Di situ para wartawan melihat langsung uji coba produk sebelum dijual ke pasar.

Semua produk –bukan random sampling– harus diuji lebih dulu. Mulai dimasukkan ke dalam mesin pengatur suhu ekstrem panas dan dingin, tekanan air sampai 100 meter, menguji keakuratan kompas, hingga altimeter. Sebelum masuk dus, produk tersebut harus lulus 100 persen.

Ruangan ketiga bisa dikatakan paling menarik. Tempat tim research and development (R&D) Garmin bekerja. Di sana para wartawan melihat langsung dapur perusahaan itu.

Untuk cangkang jam, misalnya. Dibuat melalui mesin yang memiliki akurasi tinggi. Mampu memberikan detail yang lebih tipis daripada rambut. Ada ruangan dengan X-ray untuk memastikan semua komponen dan tombol berjalan sempurna. Bahan baku juga dijaga betul. Bahkan, ada ruangan khusus yang bisa memastikan apakah penyuplai mencampur bahan baku atau tidak.

Dari tur itu, juga ada alasan untuk memiliki strap jam tangan orisinal. Sebab, brand pasti melakukan riset sebelumnya. Di Garmin, strap dari bahan kulit, rantai, maupun karet silikon benar-benar diuji. Mulai berbagai cairan, kelenturan, sampai uji baret dengan batu. Di ruangan R&D pula, jam Marq ’’disiksa’’ dengan dijatuhkan dari ketinggian untuk memastikan kekuatannya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c22/hep



Close Ads