
Ketua MUI Jawa Timur KH Abdusshomad Buchori
PREDIKAT haji mabrur, hakikatnya, baru bisa didapat saat menjalani kehidupan sepulang dari Tanah Suci. Bukan dengan sering-sering berhaji. Namun, meninggalkan keburukan dan memperbanyak ibadah. Terutama ibadah sosial yang berdampak langsung kepada masyarakat. Berikut perbincangan wartawan Jawa Pos Bayu Putra dengan Ketua MUI Jawa Timur KH Abdusshomad Buchori kemarin (29/7).
---
Apa sesungguhnya hakikat dari haji yang mabrur?
Haji mabrur artinya setelah pulang dari beribadah haji ada perubahan. Orang yang pulang dari Tanah Suci pada hakikatnya harus hijrah dari yang jelek kepada yang baik. Maka dari itu, orang berhaji jangan hanya mencari pahala sewaktu di sana. Sementara ketika kembali ke tanah air tidak ada perubahan. Begitu tingginya nilai mabrur itu sehingga laisa lahu jaza illal jannah (balasannya tiada lain adalah surga).
Saat ini sebagian besar calon jamaah haji Indonesia sudah berada di Tanah Suci. Bagaimana cara mereka agar bisa menggapai haji yang mabrur?
Prinsipnya, jamaah harus memulainya dari melaksanakan petunjuk-petunjuk dengan amalan yang riil sesuai aturan. Selain itu, larangan-larangan dalam berhaji harus benar-benar dihindari. Karena itulah, ada petugas-petugas yang mengarahkan. Dulu saya saat masih menjadi petugas haji sering memberikan arahan kepada jamaah. Insya Allah kalau orang niatnya baik, harta yang dipakai adalah harta yang halal, insya Allah jalan menuju mabrur itu terbuka.
Apakah bila sepulang haji seseorang benar-benar ada perubahan positif bisa langsung dikatakan mabrur?
Tentunya bila perubahannya antara sebelum haji dan setelah haji lebih baik. Yang seperti itu sudah menjadi tanda-tanda mabrur. Yang lebih penting di sini adalah konsisten atau istiqamah dalam upaya untuk berubah menjadi hamba yang lebih baik. Ibadahnya lebih tekun lagi dan benar-benar meninggalkan hal yang dilarang.
Apa tolok ukur perubahan setelah haji ke arah yang lebih baik?
Dimulai dari harta yang dipakai untuk haji atau umrah itu halal. Kemudian, ada perubahan setelah pulang dari haji. Kalau dia dahulu sebelum berhaji pernah berbuat keburukan, lalu berhenti betul, Allah Maha Pengampun. Tapi, tentunya harus diikuti dengan perubahan ke arah yang lebih baik. Tidak sekadar berhenti dari keburukan.
Adakah hubungan antara seringnya beribadah haji dan kemabruran?
Pada prinsipnya, ibadah harus seimbang. Jangan hanya ibadah mahdhah, namun harus pula dilengkapi dengan ibadah sosial. Implementasinya, misalnya, bisa dengan zakat dan infak, juga wakaf. Atau hal-hal lain yang mendukung pengembangan ekonomi masyarakat. Justru ibadah seperti itu harus lebih sering dilakukan setelah pulang dari berhaji. Jangan hanya ibadah haji terus, tapi problem sosial dia tidak ikut menangani, bahkan apriori. Ibadah haji cukup sekali saja, tapi ibadah setelah haji itu yang harus diperbanyak.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor San Marino vs Albania di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjte Menang Telak di Dogana
Prediksi Skor Filipina vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: The Azkals Menang Tipis Atas The Shaheens
Prediksi Skor Jamaika vs Honduras di CONCACAF Nations League: Reggae Boyz Menang Meyakinkan?
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Tuan Rumah Dibayangi Rapuhnya Lini Pertahanan
Prediksi Finlandia vs Belarus di UEFA Nations League: Pohjanpalo Siap Lanjutkan Ketajaman

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022