alexametrics
Bincang Refleksi Hari Guru

Totok Amin Soefijanto: Tinggalkan Cara Kuno Mengajar di Kelas

29 November 2019, 17:28:37 WIB

Kualitas proses belajar ditentukan dua faktor. Kompetensi guru dan kesiapan siswa untuk belajar. Kurikulum 2013 yang dipakai saat ini perlu diperbaiki. Sebab, terkesan template dan mengekang kreativitas. Berikut obrolan wartawan Jawa Pos Agas Putra Hartanto dengan dosen/peneliti pendidikan Universitas Paramadina Totok Amin Soefijanto.

Apakah sistem pendidikan Indonesia saat ini sudah tepat?

Saat ini pelaksanaan pendidikan sekolah menerapkan Kurikulum 2013. Di situ mengatur aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM), cakupan materi, hingga referensi buku yang digunakan seperti apa. Secara tidak sadar, guru dipandu oleh itu. Namun, dengan kurikulum itu pula membuat guru kurang kreatif. Mengajar hanya terpaku template. Terkadang, malah tidak sesuai kebutuhan guru maupun siswa. Yang saya tangkap dari pidato Mas Mendikbud (Nadiem Makarim) adalah bagaimana supaya guru lebih kreatif lagi dalam melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas.

Contoh guru belajar kreatif?

Belajar sudah tidak lagi dengan cara kuno yang sifatnya satu arah. Harus lebih melibatkan siswa dalam melakukan proses pembelajaran di kelas. Misalnya, memberi kesempatan siswa untuk mengajar, presentasi, dan terlibat dalam diskusi. Kalau siswanya lebih tahu, ya suruh ngajarin. Jangan terlalu kaku dalam hal berbagi ilmu pengetahuan. Untuk menciptakan suasana belajar yang ideal, guru harus sudah mumpuni secara kompetensi. Begitu juga siswa yang siap belajar. Karena proses belajar itu menuntut dua belah pihak.

Nah, bagaimana kompetensi guru dan kesiapan siswa untuk belajar saat ini?

Jika ukurannya hasil uji kompetensi, nilai rata-rata hanya 55 poin dalam skala 100. Artinya, belum bagus. Jika hanya melihat hasil ujian nasional (unas) juga tidak terlalu impresif. Unas juga hanya menilai output. Tidak bisa merepresentasikan proses belajar siswa bagus atau tidak. Makanya, butuh peran pemerintah pusat sampai daerah untuk membangun itu semua.

Apakah Kurikulum 2013 ini sudah menjamin kualitas proses belajar?

Menyebut bahwa Indonesia kurang fokus ke pembelajaran. Seolah-olah dengan mengadakan kelas, kurikulum, ada guru asumsinya sudah ada pembelajaran. Tapi, benar nggak terjadi pembelajaran. Jangan-jangan gurunya datang cuma memberi materi. Masa bodoh siswa mengerti atau tidak.

Apa yang Anda pahami dari pidato Mendikbud Nadiem Makarim?

Jadi, saya bilang pidato Mas Mendikbud adalah resep untuk menjadikan proses pendidikan lebih baik itu. Arahan dan maksudnya jelas. Tinggal bagaimana aplikasinya. Itu seluruh jajaran pusat Kemendikbud dan dinas pendidikan daerah seluruh Indonesia harus juga siap menjalankan itu.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/agm



Close Ads