alexametrics

Kapten Timnas 2004 Agung: Skuad Sekarang Lebih Bagus dari Era Saya

19 Juni 2022, 19:48:20 WIB

JawaPos.com – Setelah 15 tahun, timnas Indonesia kembali lolos kualifikasi Piala Asia. Ada harapan besar skuad Garuda bisa bersaing dengan negara-negara lain meskipun kini berada di peringkat ke-159 dunia. Asa serupa diucapkan Agung Setyabudi, kapten timnas pada Piala Asia 2004. Dia yakin tim asuhan pelatih Shin Tae-yong itu masih bisa berkembang. Kepada Jawa Pos, Agung menceritakan bagaimana perjuangannya bersama timnas saat berlaga dulu.

Halo Mas Agung, lama tidak terlihat di persepakbolaan Indonesia. Sibuk apa sekarang?

Ya memang saya sudah tidak ke sepak bola lagi. Mau menikmati hidup dulu tanpa sepak bola. Saya sekarang bekerja di kantor PDAM di Solo, bagian debt collector, hehehe. Nagih-nagih pelanggan. Sejak 2005 saya bekerja di sini ketika ditawari main di Persis Solo.

Tapi, saya, walau tidak di sepak bola lagi, kadang-kadang tetap main bola kok. Terakhir main sama temen-temen mantan pemain dari Jawa Timur. Ini lagi tidak main saja karena kaki cedera.

Apa tidak ada niat jadi pelatih seperti rekan-rekan Anda?

Tidak. Untuk apa saya melatih jika juaranya saja sudah bisa ditebak sebelum kompetisi dimulai, hehehe. Bercanda.

Lisensi terakhir apa, Mas?

Lisensi terakhir saya C AFC, tapi memang saya tidak mau melatih lagi. Ya begini saya, menikmati hidup. Kumpul sama anak dan istri. Mereka yang dulu sering saya tinggal-tinggal karena sepak bola. Jadi, saya mau membalas waktu yang hilang dulu sekarang ini.

Apakah sudah mendengar timnas Indonesia kembali lagi bisa main di Piala Asia?

Sudah. Saya ikut bangga. Memang layak kok masuk Piala Asia. Skuadnya bagus, pemainnya punya mental luar biasa. Ya karena pelatihnya kelas dunia. Jerman saja dipulangkan dari Piala Dunia sama Shin Tae-yong. Jadi, dia bukan pelatih sembarangan.

Pada Piala Asia 2004, Mas Agung jadi kapten saat itu. Bagaimana ceritanya bisa lolos ke Piala Asia saat itu?

Ya prosesnya hampir sama, kami melalui kualifikasi juga. Sebab, saat itu Piala Asia 2004 digelar di Tiongkok. Kami kualifikasi main di Arab Saudi. Lawan-lawannya tuan rumah, Yaman, dan Bhutan. Pelatihnya Ivan Kolev saat itu.

Ya kami juga bekerja keras untuk bisa lolos. Kerja sama tim jadi faktor penentunya. Seperti sekarang ini. Bedanya, dulu itu gabungan pemain senior dan muda. Yang sekarang lebih bagus, kumpulan banyak pemain muda, ada yang main di luar negeri juga. Jadi, skuad sekarang memang lebih bagus daripada era saya dulu.

Saat Piala Asia 2004, Indonesia gagal di babak fase grup. Bertengger di peringkat ketiga. Apa kesulitan yang dihadapi saat itu?

Apa ya, sebenarnya ya tidak ada. Kami menang di laga perdana lawan Qatar. Kalau ingat, gol bagus dari Ponaryo saat itu. Di laga kedua kami dihabisi tuan rumah, laga ketiga kalah lawan Bahrain. Di situ saya cedera parah.

Piala Asia 2004 tidak terlupakan untuk saya. Kenapa? Setelah dari sana, saya cedera parah. Proses penyembuhannya lama, dampak cederanya panjang. Saya baru bisa main kurang lebih setahun setelahnya. Main di divisi 2 sama Persis Solo. Saya mungkin jadi pemain nasional satu-satunya yang dari timnas, lalu main di klub divisi 2.

Apakah menyesal membela timnas?

Tidak. Cedera itu sudah jadi risiko pemain bola. Jadi, tidak ada penyesalan, sudah jalannya. Sebagai pemain bola, masuk timnas itu bonus. Masuk timnas itu kebanggaan. Jadi, tidak ada itu namanya menyesal membela timnas walau akhirnya saya cedera.

Apa alasan Ivan Kolev saat itu menunjuk Mas Agung sebagai kapten?

Karena saya paling tua kalau tidak salah. Tapi, saat itu saya sudah terbiasa jadi kapten. Jadi, tidak ada masalah.

Saat ini Asnawi Mangkualam jadi kapten timnas meskipun usianya masih muda. Padahal, ada nama-nama lain seperti Fachruddin Aryanto yang lebih senior. Menurut Anda, bagaimana sosok Asnawi ini?

Saya pikir masalah penunjukan kapten itu murni keputusan pelatih. Tapi, kalau ditanya sosok Asnawi bagaimana, dia di lapangan sangat bagus. Ngotot dan ngeyel. Mainnya juga bagus, berkualitas. Dia tipikalnya memang keras, karakter orang Sulawesi. Dia pantas kok jadi kapten. Dia juga main di luar negeri di usia muda. Jadi, ya Shin Tae-yong paham betul kenapa Asnawi ditunjuk sebagai kapten.

Kalau saya hanya berpesan untuk Asnawi agar konsisten. Itu saja.

Menurut Mas Agung, apakah timnas nanti bisa bersaing di Piala Asia 2023?

Bisa. Skuad yang ada saat ini masih bisa berkembang. Hebat-hebat pemainnya. Apalagi, ada faktor Shin Tae-yong juga. Saya harap sih Shin Tae-yong tetap jadi pelatih timnas senior. Dia yang bisa membawa timnas sampai ke sana. Dia juga punya pemahaman taktikal yang bagus, modern.

KARIER AGUNG SETYABUDI

Lahir di Surakarta, 2 November 1972 (49 tahun)

Posisi Defender

– Membela timnas Indonesia pada 1993–2004. Bermain 53 kali dan melesatkan 1 gol. Termasuk kapten timnas di Piala Asia pada 2004.

– Karier di klub, antara lain, Arseto Solo (1992–1998), PSIS Semarang (1999–2001 dan 2002–2005), Persebaya Surabaya (2001–2002), dan Persis Solo (2005–2010)

– Pernah juara bersama PSIS Semarang pada musim 1998–1999

Diolah dari berbagai sumber

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : rid/c7/jun

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads