alexametrics
Bincang Kontroversi RUU KPK

Pegawai KPK: Bukan soal Perut Semata, tapi Bagaimana Jaga Independensi

9 September 2019, 20:13:50 WIB

PEGAWAI KPK paling merasakan serangan bertubi-tubi itu. Mereka dibayangi polemik capim bermasalah, RUU KPK, RUU KUHP, hingga isu radikalisme (Islam garis keras). Meski demikian, mereka tidak gentar. Mereka terus melawan. Berikut obrolan wartawan Jawa Pos Agus Dwi Prasetyo dengan empat pegawai KPK.

Bagaimana Anda melihat RUU KPK yang cenderung kurang berpihak kepada KPK?

Ronald Paul Sinyal: Kalau dari penindakan sendiri, kami merasakan potensi pelemahan. Terutama di penyelidikan dan penyidikan. Semua penyidik dan penyelidik KPK mungkin akan ”mati”. Akan diganti. Dan teman-teman angkatan paling muda yang punya SK penyelidikan mungkin juga tidak akan berguna lagi. Karena itu akan ganti semua. Otomatis perkara penyelidikan akan terhambat. Sekarang di KPK ada 50 persen penyidik internal. Kalau RUU KPK disahkan, mereka semua akan ”mati”.

Sebenarnya ada poin yang mengatur bahwa penyidik dari KPK bisa diangkat dengan syarat disumpah dan dilantik pimpinan dan telah melakukan kegiatan penyidikan selama dua tahun. Tapi, secara tak langsung itu akan menjadikan kami penyidik terakhir, seandainya kami tetap menjadi penyidik. Mungkin tidak akan ada lagi penyidik internal atau penyidik independen karena nanti penyidik dari Polri, kejaksaan, dan PNS. Sedangkan kami tidak ada yang PNS. Berarti independensi kami akan semakin susah.

Kalau nanti RUU KPK disahkan, penyidikan yang sedang berjalan tidak akan bisa dilaksanakan. Karena kegiatan kami nanti akan dipertanyakan, sah atau tidak.

Bagaimana dengan potensi peralihan pegawai tetap KPK menjadi ASN bila RUU KPK disetujui?

Budi Prasetyo: Secara materi sebenarnya kami akan diuntungkan karena ketika menjadi ASN atau PNS kami punya pensiunan dan beberapa tunjangan kesejahteraan yang akan kami terima. Tapi, yang menjadi fokus teman-teman itu bukan soal perut. Jadi, ketika kami menjadi ASN, idealisme kami akan terbelenggu. Beberapa hal yang kami lakukan untuk pemberantasan korupsi akan banyak yang terkunci. Misalnya, kami menangani kasus A dan yang ditangani adalah ASN dengan pangkat yang tinggi. Saat menjadi ASN, kami otomatis ada di bawah kewenangan BKN. Kami akan gampang sekali dimutasi ke lembaga tertentu.

Yang jelas, ketika ingin ”mengontrol” KPK, pemerintah bisa sangat mudah memutasi atau memasukkan beberapa orang untuk menyusupi dan menyetir KPK. Jadi, yang kami jaga bukan soal perut semata, tapi bagaimana menjaga independensi KPK.

Belakangan KPK juga diserang dengan isu radikalisme. Sikap Anda?

Benydictus S.M. Sumarno: Saya sebagai seorang Katolik di internal KPK tidak terganggu. Nggak ada radikal-radikal di sini. Hubungan dengan teman-teman beda agama di KPK sangat baik.

Di KPK pun ada kegiatan agama lain. Katolik misalnya. Setiap Jumat pertama tiap bulan teman-teman Katolik itu pergi ke gereja. Setiap Jumat, ketika yang muslim melaksanakan salat Jumat. Yang Kristiani dan Protestan juga ada kegiatan ibadah di ruang konpers atau di lantai 16. Dan setiap Natal kami juga ada ibadah Natal. Jadi, kalau dibilang radikal segala macam, atau hanya karena ada suara azan di KPK, sekarang silakan keliling Indonesia, di bagian mana sih yang tidak ada azan?

Sebagai angkatan Indonesia Memanggil (IM) paling muda, apa harapan Anda melihat KPK?

Ganther Rizki Ariotejo: Saya sempat bertemu dengan beberapa senior di KPK. Mereka bilang, boleh kita sinis, boleh kita berpikir negatif, walaupun 99 persen pesimistis, tapi harus persiapkan 1 persen harapan. Jadi, misalnya, kalau nanti capim bermasalah masuk, terus ada RUU KPK, RUU KUHP juga, saya sebagai angkatan paling muda sedikitnya harus memberikan harapan-harapan kecil. Kalau bukan kita siapa lagi?

Ketika masuk, saya selalu berpikir bahwa ada lembaga KPK yang menjadikan diri saya lebih baik. Dan potensi saya membenahi negara ini besar karena saya berada di lembaga yang memiliki kewenangan (memberantas korupsi). Ketika terjadi konflik seperti sekarang ini, mungkin sempat kelimpungan dan bingung. Karena kita belum pernah tahu serangan jenis apa. Tapi, meskipun merasa terjepit, kita tetap berhasil membuat perubahan. Itu yang penting.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c9/agm



Close Ads