alexametrics
Bincang Penghapusan Kekerasan Pada Perempuan

Melanie Subono: Cegah Kasus Baru, Stop Budi Daya Pemakluman Kekerasan

4 Desember 2019, 20:13:20 WIB

SEBAGAI aktivis perempuan, Melanie Subono tidak hanya aktif menyuarakan hak-hak perempuan di medsos. Musisi satu ini juga sibuk mendampingi para perempuan korban kekerasan. Berikut obrolan wartawan Jawa Pos Zalzilatul Hikmia dengan Melanie kemarin (3/12).

Apa yang melatari kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia?

Kebanyakan (karena dipicu) budaya pemakluman. Kita itu emang hidup di negara yang seolah perempuan posisinya di bawah. Celakanya, ini diamini oleh budaya. Dalam arti, saat perempuan dan pria melakukan hal yang sama, akan dibilang wajar lah karena dia pria. Sementara yang perempuan dibilang, elu kok gitu. Kan elu perempuan. Nah, posisi lemah ini yang semakin membuat perempuan lebih sering jadi korban kekerasan. Kekerasan di sini bukan hanya fisik ya. Bagi gue, kekerasan itu juga mencakup psikologi, mental, atau verbal.

Budaya pemakluman membuat perempuan rawan jadi korban kekerasan?

Iya emang. Pemakluman-pemakluman itu yang bikin makin parah. Bahkan gak jarang orang terdekat yang bilang, udah gak usah dilaporin. Dimaklumin aja. Dia udah nyesel kok atau dia udah minta maaf nangis-nangis kok. Nanti juga berubah. Ya kalau mau begitu, gak papa sih. Tapi, nanti kalau dijahatin lagi ya gak boleh protes.

Bagaimana dengan pelaku kekerasan?

Apa masih didominasi orang terdekat?

Iya, dari lingkungan terdekat. Ring satu. Hari ini masih, sampai kapan kayak gini gue juga gak tahu. Kenapa? Karena pasti kita gak tega buat laporin.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kekerasan?

(Harus berani) bersikap. Stop pemakluman. Tapi, perlu diketahui juga kalau kekerasan gak cuma dari pelaku. Salah satu pendukung kekerasan itu sendiri ya perempuannya. Ini sama kayak cerita anak SD (sekolah dasar, Red) yang suka di-bully teman-temannya. Yang di-bully ini pasti dia yang terlihat lemah dan nerima-nerima aja. Tapi, setelah dia ngelawan, teman-temannya jadi segan.

Sama seperti kekerasan terhadap perempuan dalam sebuah hubungan. Perempuan harus berani bilang, hey gue gak bisa diginiin. Gue gak mau diginiin! Gue selalu ngomong sama orang, kalau nggak mau digituin, bersikaplah. Jangan nunggu orang lain bersikap buat elu. Kalau gak mau bersikap, ya sudah terima. Tapi, pasti gak mau kan digituin.

Bersikap di sini bukan berarti kurang ajar ya. Elu tetap harus menghormati pria sebagai kepala rumah tangga. Harus respek. Tapi, prianya sendiri harus bisa bikin dirinya direspek.

Bagaimana membedakan antara melawan dan bersikap?

Cukup jelaskan saja secara baik. Tidak langsung marah atau bahkan minta pisah ketika terjadi kekerasan. Misalnya, ketika sedang haid lalu nggak bisa ngapa-ngapain. Jelaskan, gue mens nih. Gak bisa masak.

Kita gak bisa berharap pria langsung tahu kan? Karena mereka gak ngerasain. Gak fair juga kalau gitu. Jadi, perempuan yang harus menjelaskan ketika memang dirinya gak suka.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c17/agm


Close Ads