Pelatih Agus Dwi Santoso: Saya Ini Sebenarnya Cuma Pencuri Ilmu

3 Desember 2022, 13:48:02 WIB

JawaPos.com – Di balik prestasi gemilang atlet, ada bimbingan keras pelatih. Misalnya, pelatih bulu tangkis Agus Dwi Santoso yang berhasil mengantarkan Hendrawan meraih medali perak pada Olimpiade 2000 di Sydney. Pelatih 57 tahun asal Malang itu kini berkarier di Thailand setelah pernah pula melatih pebulu tangkis dari Korea Selatan dan India. Kaya pengalaman, Agus membeberkan resep sukses menjadi pelatih. Berikut petikan wawancara dengan Agus saat mendampingi Sitthikom Thammasin menjalani turnamen mini di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pada awal November.

HALO. Apa kabar, Coach Agus?

Ya. Baik.

Bagaimana cerita awalnya jadi pelatih?

Saya dulu pemain pelatnas angkatan Joko (Suprianto) dan Alan (Budikusuma). Cuma, mereka menjadi pemain dunia, saya tidak. Jadi, pada 1989 saya sudah memutuskan menjadi pelatih di Djarum Surabaya sampai 1995. Lalu, pada 1995–1997 saya di Djarum Kudus, 1997–2003 di Pelatnas PBSI Cipayung, kemudian balik klub. Setelah itu, 2009 sampai 2013 balik, lalu balik lagi ke pelatnas untuk yang kedua. Terus 2013 balik ke klub. Pada 2015 resign dari Djarum dan melatih di Korea Selatan empat tahun. Setelah itu satu tahun di Thailand, dua tahun di India, dan balik lagi ke Thailand sampai sekarang.

Apa kendala khusus saat melatih atlet berbeda negara?

Kendala lebih ke arah komunikasi ya. Memang bahasa bulu tangkis itu sama. Tapi, yang lebih dalam seperti filosofi dan lain-lain memang lebih enak melatih di negeri sendiri. Tidak berarti kita bahasanya kurang, tapi untuk pendalaman yang benar-benar itu.

Dalam karier Anda sebagai pelatih, siapa sosok yang paling berpengaruh bagi Anda?

Saya ini apa ya, sebenarnya cuma pencuri ilmu. Saya dulu waktu jadi pemain, pelatih saya di pelatnas ini Tong Sin Fu. Berkat dia saya bisa masuk pelatnas karena beliau yang mengambil saya dari klub untuk meneruskan sebelum dia kembali ke Tiongkok. Setelah itu, ada pelatih Tiongkok lain dan saya menjadi asisten enam tahun di Djarum Kudus. Ketika balik ke pelatnas, saya kerja lagi dengan pelatih Tiongkok selama dua tahun. Jadi, saya ini beruntunglah bisa bekerja sama dengan pelatih-pelatih hebat. Ibaratnya, mereka ini yang bisa mengubah arah dunia ini. Jadi, saya beruntung saja.

Apa mimpi besar Anda sebagai pelatih?

Saya sekarang ya dalam taraf siapa pun yang saya pegang itu, dia bisa menjadi pemain dunia. Saya filosofinya seperti itu.

Apa yang Anda tanamkan dan latih agar bisa jadi pemain dunia seperti yang Anda inginkan?

Banyak ya. Terutama dari cara berpikir mereka. Di badminton kan ada tujuh masalah. Fisik, teknik, strategi, mental, lingkungan, keturunan, terus bagaimana mereka menyikapi kekalahan. Nah, tujuh ini seorang atlet harus menguasai untuk bisa standar dunia. Bukan hanya badmintonnya, melainkan juga cara hidupnya sehari-hari dan latihannya itu harus menuju ke sana. Lebih ke pembentukan karakter.

Sejauh ini, siapa atlet terbaik yang pernah Anda latih?

Sebagai pelatih saya Hendrawan ya. Dulu dia saya pegang ya Olimpiade (Sydney) 2000 (meraih) Perak. Kalau Son Wan Ho (Korea) pernah menjadi ranking I dunia. Tapi, kalau saya lihat dia untuk sungguh-sungguh menjadi pemain nomor satu itu tidak. Sebab, dia menduduki ranking I dunia karena stabil semifinal dan final, juaranya sedikit. Tapi, kalau dia bertemu pemain seperti Lin Dan atau Lee Chong Wei banyak kalahnya dan kalau diharapkan dia untuk tidak boleh kalah gitu tidak bisa. Mentalnya masih kurang. Jadi, ranking I karena stabil.

Sekarang sama Hendrawan jadi rival dan sering bertemu di lapangan ya?

Hahahaha, iya, iya. Sama-sama orang Malang.

Di Thailand yang ditangani siapa saja?

Kalau sekarang nih Sitthikom Thammasin saja. Kantaphon (Wangcharoen) dia sudah nonpelatnas. Kalau Kunlavut (Vitidsarn) di klub. Jadi, di Thailand ada timnasnya dan klub-klub yang juga bisa mengirimkan pemainnya ke internasional. Tapi, tetap melalui nasional. Ya seperti di sini (Indonesia) lah.

Sejauh ini, apa menurut Anda perbedaan atlet Indonesia dengan luar?

Kalau saya lihat dari Korea dan Jepang, atlet kita kalah dengan kualitas makanannya. Itu sudah saya lihat, 100 persen pemikiran saya banyak benarnya. Sebab, saya pernah melatih di Korea. Di sana udara dingin. Tapi, makanannya tidak terbatas. Dan, bukan hanya satu cabang itu. Jadi, pemain Korea sebenarnya secara teknik masih kalah dengan Indonesia. Tapi, mereka lebih percaya diri karena mereka lebih bugar. Terutama ganda-gandanya itu, kalau sudah main lebih dari dua set, lebih pede mereka. Lawan pasti tidak kuat. Nah, itu.

Dari pemain kita, saya lihat dari PBSI sudah banyak kemajuan masalah gizi dan lain-lain. Tapi, ini lebih ke budaya dari kecil atletnya bagaimana. Sebagai contoh begini saja, di Korea itu umur sudah lebih dari 80 tahun. Dulu 80 tahun dianggap sudah luar biasa dan mengundang kerabat, keluarga, dan saudara untuk pesta. Sekarang tidak, sekarang 90 tahun baru pesta. Sebab, umur 80 tahun itu sudah biasa. Dari kecil makanannya sudah bagus. Kalau kita kan 60 tahun sudah bonus lah. Hehehe. Itu kalau mau dipikir lebih dalam ya.

KARIER AGUS DWI SANTOSO

Lahir di Malang, 26 Juli 1965 (umur 57 tahun)

Pelatih bulu tangkis tunggal putra dan putri

Karier Kepelatihan:

• Pada 1989–1995 di Djarum Surabaya

• Pada 1995–1997 di Djarum Kudus

• Pada 1997–2003 di Pelatnas PBSI Cipayung Jakarta

• Pada 2003–2009 kembali ke Klub PB Djarum

• Pada 2009–2013 balik, lalu balik lagi ke pelatnas untuk yang kedua

• Pada 2013 balik ke klub

• Pada 2015 resign dari Djarum dan melatih di Korea Selatan empat tahun

• Pada 2019 satu tahun di Thailand

• Pada 2020–2022 melatih di India

• Pada 2022– balik lagi ke Thailand sampai sekarang

Diolah dari berbagai sumber

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : raf/c7/jun

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads