Perspektif

Korona, Mudik, dan Nostalgia yang Hancur

Oleh: Mashdar Zainal
13 Mei 2021, 19:48:41 WIB

Ketika kabar perihal virus korona baru muncul pertama kali, saya tak pernah menyangka dampaknya akan sekacau ini.

SAAT sekolah-sekolah mulai diliburkan, pusat-pusat perbelanjaan ditutup, bahkan salat berjamaah di masjid pun kudu berjarak, saya mulai berpikir bahwa virus korona ini tak bisa kita remehkan. Lalu saya mulai cemas: bahwa pandemi ini akan berlangsung lama, menghancurkan banyak rencana yang sudah disusun manusia.

Dan itu terbukti, merasuk ke segala lini, contohnya saja di dunia pendidikan. Ujian nasional yang bertahun-tahun menjadi gerbang besar yang menyeramkan bagi para siswa jenjang akhir resmi ditiadakan. Bertekuk lutut di bawah korona, bahkan soal-soal ujian yang sudah disusun, berita acara, dan semacamnya kini tak lebih penting dari selembar masker penutup wajah.

Kecemasan saya pun berlipat-lipat ketika bulan puasa datang, lalu beranjak menuju Lebaran. Puasa dan terutama Lebaran adalah momen yang datang setahun sekali, momen berkumpul bagi sanak saudara, para tetangga, sahabat. Dan momen itu, setelah datangnya korona, menjadi momen yang ”tidak boleh”. Itu menyakitkan sekaligus menyedihkan. Semenjak korona datang, saya –yang tinggal di rantau– menelepon ibu lebih sering daripada biasanya. Yang pada intinya, sebenarnya saya ingin minta maaf, lagi dan lagi, bahwa Lebaran tahun ini sepertinya saya tidak bisa mudik lagi. Tidak bisa dalam artian memang tidak boleh. Dilarang. Ibu saya memahami, tapi tetap saja, saya merasa ada sesuatu yang penting dan itu bakal hilang. Semua gara-gara korona.

Lantas saya mencoba merenung sebentar, mencoba menghibur diri, menanyakan kembali kepada diri: mengapa seseorang harus mudik? Apakah seseorang memang harus mudik? Apa pentingnya mudik? Apa yang tersisa dari mudik? Lalu benak saya terbang melayang ke kampung halaman. Melupakan bahwa detik ini saya sedang di tengah musim pandemi yang urung kelar dan masih menyedihkan.

Saya membiarkan pikiran saya terbang jauh ke kampung halaman. Setiap kali mudik Lebaran, saya suka sekali menghitung, apa saja yang sudah berubah dari kampung halaman saya, dan selalu, hitungan saya tak pernah sempurna. Sebab, ingatan saya rupanya lebih sedikit ketimbang perubahan demi perubahan yang terus-menerus meringkus kampung saya, menjadikannya sesuatu yang baru, sesuatu yang lain. Dan rumah-rumah selalu masuk hitungan pertama dalam ingatan saya.

Sewaktu kecil, kami (para bocah) hampir pernah memasuki semua rumah di kampung kami. Mulai rumah gedong paling besar sampai rumah gedek paling reyot. Tak boleh ada rumah yang terlewat, kecuali rumah itu pintunya tertutup. Dan setiap kali Lebaran tiba, nyaris tak ada rumah yang pintunya tertutup. Sebab, pintu rumah yang tertutup akan membuat pintu maaf tertutup juga, begitu kata seorang sepuh di kampung saya dulu.

Setiap kali mudik, saya selalu berusaha mengingat tentang rumah-rumah yang kami kunjungi itu. Benda-benda apa saja yang ada di ruang tamu, seperti apa model meja dan kursi yang pernah menampung pantat kecil kami, gambar-gambar apa yang terpajang di dinding, serta suguhan-suguhan apa yang terhidang di meja.

Setiap kali mudik, ingatan itu selalu muncul dan rumah yang saya kunjungi itu kebanyakan sudah tidak sama lagi. Beberapa direnovasi menjadi lebih megah. Beberapa diperlebar hingga menggusur pekarangan. Beberapa dipugar jadi dua sampai tiga rumah untuk ditempati dunsanak. Hingga pemugaran itu melenyapkan pohon-pohon, dan yang jelas, temboknya selalu dicat dengan warna baru yang kadang berubah-ubah hampir setiap tahun.

Saya begitu naif, perubahan-perubahan rumah para tetangga dari tahun ke tahun itu menyakiti saya. Seperti ada yang berusaha mengganti ingatan-ingatan sakral di kepala saya. Seperti ada yang sedang mengkhianati kenangan-kenangan manis di kepala saya. “Waktu mengubah banyak hal, kau tak bisa mencegahnya, sebagaimana kau tak bisa mencegah bertambahnya umur.” Suara semacam itu kerap menggaung di kepala saya.

Dan sebagaimana kami, orang-orang di kampung kami pun berubah, dalam banyak hal. Orang-orang tua yang dulu kami sowani setiap kali Lebaran tiba kini menjadi makin tua dan kebanyakan dari mereka telah masuk ke liang lahad. Setiap kali mudik, saya selalu mengenang mereka. Mati-matian saya mengingat bagaimana bentuk suara mereka saat menyapa saya, seperti apa senyum mereka, kulit-kulit keriput mereka. Dan saya tak pernah mendapatkan gambaran yang tepat. Karena saya sadar, ingatan saya tentang mereka telah kabur perlahan oleh waktu, ditumpuk ingatan-ingatan baru.

Setiap kali mudik saya masih berkunjung ke rumah-rumah mereka dan sambutan-sambutan hangat itu tak lagi sama. Sebab, yang saya jumpai hanya anak-anak mereka, yang di masa lalu, ketika kami masih kecil, mereka sedang dalam masa remaja dan sedang mekar-mekarnya. Yang perempuan adalah gadis-gadis yang dalam ingatan saya selalu centil dan banyak omong –meski beberapa dari mereka sangat pendiam dan beberapa sangat anggun dan jadi idola para pemuda di kampung.

Sedangkan para lelakinya, dulu mereka adalah bujang-bujang yang penuh gairah dan semangat, bergerombol main gitar di teras rumah, pergi ke sekolah dengan balutan seragam abu-abu putih sambil mengendarai sepeda jengki biru bertulisan Phoenix. Ketika itu saya tak pernah berpikir bahwa kelak mereka pun akan menjadi tua. Lumayan sulit menerima kenyataan bahwa bunga-bunga yang mekar lekas sekali beranjak layu.

Tapi, siapa yang bisa melawan titah alam? Kini mereka semua sudah mulai menua, memiliki anak yang sudah beranjak remaja. Beberapa orang bahkan tampak lebih tua dari usia mereka yang sesungguhnya. Beberapa orang menjadi guru, pamong desa, dan beberapa yang lain jadi buruh tani. Mereka itulah yang wajahnya tampak jauh lebih tua dari usianya. Di masa sekolah, mereka tak pernah menjadi juara kelas. Dan merekalah penghuni abadi bangku-bangku pojok paling belakang.

Tak beda dengan kawan-kawan sepermainan saya. Sebagaimana saya, mereka pun berubah. Setiap kali bertemu dengan mereka, saya selalu membayangkan mereka saat masih bocah. Begitu lugunya, begitu badungnya, begitu egoistis dan tak mau mengalahnya. Kini semuanya benar-benar berubah. Kisah-kisah mereka telah menjadi jembatan yang memutuskan kisah-kisah indah di masa kecil saya, tentang mereka.

Beberapa dari mereka hidup normal sebagaimana saya, menikah dan punya anak. Bekerja di kantor desa, menjadi guru, mengurus sawah peninggalan moyang, mengurus toko warisan keluarga, serta sebagian kecil menjadi pegawai negeri. Beberapa yang lain mengalami nasib nahas, mengalami kecelakaan di masa muda yang menjadikannya cacat, masuk penjara lantaran mencuri motor, diusir dari kampung karena berbuat mesum, dan sebagainya.

Beberapa kawan perempuan pergi ke luar negeri dan pulang-pulang sudah punya rumah gedong hasil jerih payahnya bertahun-tahun di negeri orang. Ada seorang pula yang juga pehrgi ke luar negeri dan pulang-pulang menjadi gila, dalam arti sesungguhnya. Bahkan ada yang tak pulang sama sekali. Konon sudah dinikahi majikannya. Dan melupakan orang tuanya yang telah menjadi pikun di kampung. Kisah hidup mereka bermacam-macam. Dan kisah-kisah pilu itu selalu menyakiti saya. Menjadi tuba bagi kenangan-kenangan manis di kepala saya.

Sudah! Bernostalgianya sudah dulu. Sudah! Saya harus menerima kenyataan bahwa Lebaran tahun ini saya masih tidak bisa mudik. Saya tidak boleh mudik. Lagi pula, apa sebenarnya yang saya harapkan dari mudik? Kalau cuma pengin ketemu keluarga, terutama bapak-ibu, itu bisa lewat video call. Dan itu tidak harus di masa Lebaran, alih-alih masa pandemi seperti sekarang ini. Kalaupun mudik demi nostalgia, sejatinya nostalgia ini sudah ada dalam pikiran saya sendiri. Dan saya bisa mengunjunginya kapan saja saya mau. (*)


MASHDAR ZAINAL. Buku terbarunya ”Kartamani, Riwayat Gelap dari Bonggol Pohon”, penerbit Basabasi, 2020. Bermukim di Malang.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads