Kukuhkan Fondasi Karakter dan Budaya Literasi

Oleh: Dr Sri Sutarsi MSi

12/07/2017, 22:08 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Dr Sri Sutarsi MSi (Jawa Pos Photo)
Share this

USIA dini adalah masa perkembangan karakter fisik, mental, dan spiritual anak. Pada usia dinilah karakter anak akan terbentuk dari hasil menyerap lingkungan dan perilaku kita dalam menyikapi lingkungan sekitar. Pada usia dini pula perkembangan mental berlangsung sangat cepat. Anak menjadi sensitif dan peka terhadap sesuatu yang dilihat, dirasakan, dan didengar. Karena itu, lingkungan yang positif akan membentuk karakter yang positif juga.

Substansi pernyataan di atas tertuang dalam Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Gerakan Pembudayaan Karakter di Sekolah (GPKDS) oleh Kemendikbud.

GPKDS adalah kegiatan pembiasaan sikap dan perilaku positif di sekolah yang dimulai sejak masa orientasi siswa baru hingga tamat pendidikannya di sekolah. GPKDS menempatkan nilai karakter sebagai dimensi terdalam pendidikan yang membudayakan dan memperadabkan pelaku pendidikan.

Proses itu dimulai sejak usia dini. Pada saat usia 0–6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut, otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Karena itu, kita jadikan PAUD sebagai fondasi dalam memberikan pendidikan karakter anak yang baik. Dengan bekal tersebut, anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya pada masa mendatang.

Orang tua sering kali memperlakukan anak seperti memukul dan memberikan tekanan yang justru akan menjatuhkan si anak. Tindakan tersebut menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri, minder, penakut, dan tidak berani mengambil risiko. Tanpa kita sadari, sikap seperti itu membentuk karakter yang dibawa hingga dewasa.

Implementasi seluruh harapan untuk mewujudkan PAUD sebagai fondasi karakter ada pada para pelaku pendidikan. Mereka harus mampu mendesain proses pembelajaran di PAUD dengan memperhatikan bahwa belajar di satuan PAUD harus mampu menjadikan taman belajar yang menyenangkan bagi siswa serta menumbuhkembangkan kebiasaan yang baik sebagai bentuk pendidikan karakter sejak dini. Juga, menumbuhkembangkan lingkungan dan budaya belajar yang serasi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga.

Tujuan di atas sekiranya telah mapan dan membudaya pada seluruh pelaku pendidikan. Langkah dalam pembelajaran selanjutnya adalah memadukannya dengan prinsip pendidikan yang dibutuhkan peserta sesuai dengan abad XXI (hal ini memungkinkan dimulai saat berada di jenjang SD ke atas). Yaitu, kecakapan berpikir kritis, berpikir kreatif, serta kecakapan berkomunikasi. Termasuk penguasaan bahasa internasional dan kerja sama dalam pembelajaran.

Bagaimana dengan literasi? Literasi bisa diartikan sebagai sebuah kesadaran dalam diri manusia untuk berpikir kritis dan kreatif yang dilandasi tradisi membaca serta menulis. Seiring perkembangannya, makna, hakikat, dan kategorisasi literasi semakin luas serta beragam. Literasi berkembang menjadi literasi informasi, statistik, teknologi, kritikal, visual, data, digital, finansial, dan kesehatan. Berbagai macam perkembangan makna literasi hanya bisa dimulai dan dibudayakan ketika anak sudah mampu memanfaatkan kesadarannya secara realistis.

*) Kepala Bidang PAUD dan Dikmas Dikbud Kabupaten Sidoarjo

Berita Terkait

Rekomendasi