alexametrics

Label Pemicu Disintegrasi

12 Mei 2017, 17:00:56 WIB

JULUKAN itu begitu mudah bermunculan mengiringi pelaksanaan pilkada DKI Jakarta. Kelompok intoleran, anti-Pancasila, Islam radikal, kafir, anti kebinekaan, pendukung korupsi, politik identitas, minoritas, mayoritas, dan mungkin masih banyak lagi. Label yang sebelumnya hanya komoditas untuk menggaet pemilih kini telanjur menjadi ancaman pemicu disintegrasi bangsa.

Lebih celaka, orang-orang yang kerap meneriakkan label semacam itu adalah kalangan terdidik. Teriakan tersebut kemudian menyebar lewat media sosial dan akhirnya membangun kebencian antarkelompok serta polarisasi masyarakat.

Lihatlah, begitu mudah para politikus membangun opini bahwa kekalahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam pilkada DKI Jakarta adalah kemenangan bagi para pendukung korupsi. Hanya karena Ahok dicitrakan sebagai pejabat yang jujur, semua lawannya diberi label kalangan korup. Lalu, apakah pendukung lawan Ahok yang jumlahnya jauh lebih banyak itu adalah para pencinta korupsi? Dan apakah mereka rela disebut seperti itu? Apakah bukan sebaliknya?

Memberikan label semacam itu tentu tidak lebih dari sebuah tudingan. Dasarnya pun pasti hanya emosi. Jika yang diberi label tidak terima, tentu pada akhirnya juga memicu emosi. Tak seorang pun senang dituding sebagi kelompok pendukung korupsi, apalagi jika dihubungkan dengan religi.

Kini ancaman polarisasi yang mengarah pada disintegrasi itu semakin kuat. Ahok yang diputus bersalah dalam kasus penistaan agama disambut banjir pro dan kontra. Labelisasi kelompok masyarakat yang sebelumnya sempat mereda setelah pilkada DKI usai akhirnya kembali bermunculan.

Teriakan-teriakan untuk membubarkan kelompok intoleran dan anti-Pancasila kembali disuarakan lebih keras. Terminologi intoleran pun semakin dikaburkan, hanya diarahkan pada satu atau dua kelompok. Padahal, bisa saja yang menuntut pembubaran itu lebih intoleran. Hanya peduli pada kepentingan kelompoknya sendiri dan terus-menerus mengabaikan kepentingan kelompok lain.

Istilah Pancasilais atau bukan sepertinya hanya ditentukan oleh siapa yang lebih dulu mengklaim. Yang lebih keras berteriak dan tidak ragu menuding kelompok lain anti kebinekaan, dialah kelompok Pancasilais. Yang diam berarti bukan. Sesimpel itu.

Jika kondisi tersebut tidak direspons dengan bijak, label-label lain yang lebih mendorong disintegrasi akan terus bermunculan. Sebutan kafir dan komunis (PKI) yang sebenarnya sudah mereda bisa-bisa akan kembali mencuat. Menjadi emosi tandingan, dan sebentar lagi dijadikan komoditas politik menuju Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden 2019.

Bertahun-tahun negeri ini bisa hidup damai dalam keberagaman. Jangan hanya karena pilkada DKI Jakarta, sikap kebinekaan yang sebenarnya sudah mengalir dalam darah masyarakat (bahkan tidak perlu digembar-gemborkan) menjadi hilang. Karena itu, stop memberikan label yang menyakitkan. (*)

Editor : Miftakhul F.S



Close Ads
Label Pemicu Disintegrasi