alexametrics

Ayo, Awasi Sisa Kompetisi Liga 1 2019

5 Desember 2019, 09:24:35 WIB

STATUS jawara Liga 1 2019 sudah disegel Bali United. Namun, tensi kompetisi di pekan-pekan terakhir masih memanas. Gejolak persaingan dan saling jegal masih terasa. Terutama di papan bawah. Maklum, di sana ada tiga tim yang posisinya sangat rawan untuk turun kasta. Yakni, Semen Padang, Kalteng Putra, dan Badak Lampung. Sejumlah tim yang posisinya mendekati zona merah pun masih harus berjuang mati-matian untuk memastikan status mereka aman pada akhir musim.

Nah, patut diapresiasi langkah PSSI yang berencana membentuk tim khusus untuk mengawal sisa laga di kompetisi. Tim itu akan memantau jalannya pertandingan, termasuk mencegah praktik pengaturan skor (match fixing). Jika ditemukan adanya indikasi match fixing, tim akan berkoordinasi dengan PSSI dan Satgas Antimafia Bola.

Kecurigaan adanya main mata di sisa laga memang sangat beralasan. Sebab, bisa jadi tim-tim yang posisinya sudah aman bakal ”menjual” pertandingan ketika mereka bertemu tim yang sedang berjuang lolos dari ancaman degradasi. Ya, siapa pun yang sudah berniat menodai nilai-nilai sportivitas pasti akan melakukan segala cara untuk mengamankan kepentingannya. Mereka sadar betul kekhawatiran dari pengelola klub. Yakni, biaya yang harus dikeluarkan kalau klubnya terdegradasi jauh lebih besar. Tim yang sudah terdegradasi harus menunggu minimal satu musim lagi untuk bisa kembali ke kasta tertinggi.

Praktik kotor itulah yang harus dicermati. PSSI dan satgas harus tanggap jika mendadak ada pemain yang ”masuk angin” dalam sebuah pertandingan. Atau, tim yang secara teknis dan materi lebih unggul tiba-tiba keok dari tim papan bawah. Perangkat pertandingan juga harus diawasi. Jangan sampai ada pembiaran ketika perangkat pengadil di lapangan membuat keputusan-keputusan janggal yang menguntungkan salah satu tim.

Satgas harus membuktikan kapabilitasnya. Pasalnya, selama ini masih muncul keraguan soal keberanian satgas untuk mengobrak-abrik indikasi kecurangan di Liga 1. Sebab, faktanya, beberapa indikasi pengaturan skor di Liga 1 belum sekali pun disentuh satgas. Ada asumsi publik bahwa satgas selama ini hanya bermain di level bawah.

Nah, untuk membuktikan bahwa anggapan itu salah, satgas harus melakukan upaya proaktif dan antisipatif terhadap situasi akhir di kompetisi Liga 1. Satgas tak boleh hanya menunggu laporan dari publik. Namun, tim yang dikomandani Hendro Pandowo itu harus turun langsung memantau laga-laga yang dinilai rawan transaksi poin.

Liga 1 musim ini sudah berhasil melahirkan juara baru yang relatif sepi dari kontroversi. Jarang terdengar suara-suara minor yang menyebut Bali United adalah juara setting-an. Nah, reaksi serupa diharapkan muncul pada akhir kompetisi. Klub-klub yang mampu bertahan adalah mereka yang memang layak bermain di kasta tertinggi. Bukan karena jual beli pertandingan. (*)

Editor : Dhimas Ginanjar


Close Ads