← Beranda

Wabah Campak dan Potensi Generasi yang Hilang

Dhimas GinanjarKamis, 23 Februari 2023 | 02.48 WIB
Photo
HINGGA pertengahan Februari 2023, wabah campak di Indonesia, termasuk di beberapa kabupaten dan kota di Jawa Timur, belum teratasi. Sepanjang 2022, tercatat lebih dari 3.300 kasus campak yang terkonfirmasi secara laboratoris. Kasus sebanyak itu terjadi di 223 kabupaten dan kota di 31 provinsi. Di Jawa Timur sendiri, kasus campak mencapai lebih dari 400 kasus yang tersebar di 23 kabupaten/kota. Surabaya dan empat kabupaten di Madura menempati posisi teratas dalam hal jumlah penderita. Seperti biasa, tidak semua kabupaten/kota di Jawa Timur mencatat angka kejadian yang setara.

Banyak orang tua dan leluhur kita meremehkan campak sebagai ’’penyakit yang biasa dijumpai pada anak’’ yang sesungguhnya salah besar. Hingga saat ini, campak adalah pembunuh anak nomor lima di seluruh dunia. Setiap tahun ada lebih dari 700 ribu nyawa hilang karena penyakit ini, dan hampir seluruhnya adalah anak. Mayoritas penderita campak dunia berada di wilayah Afrika. Penyakit campak belum pernah benar-benar musnah di Indonesia.

Campak bukan saja membunuh saat puncak serangan. Virus campak membuat seluruh ingatan sistem kekebalan manusia, yang sebenarnya menjadi salah satu penjaga utama dalam kehidupan, musnah. Penyakit ini berefek seperti infeksi virus HIV, namun dalam skala temporer. Karena itulah, kematian karena campak juga terjadi setelah puncak serangan berlalu.

Sebaliknya, pencegahan infeksi campak akan membuat angka kematian berkurang lebih banyak daripada sekadar mereka yang terdiagnosis sakit campak. Bukan hanya itu, sekitar delapan tahun setelah terkena penyakit campak, virus campak yang tidak sepenuhnya musnah masih sanggup merusak otak dan sistem saraf. Penderita mengalami serangan kejang berulang hingga menuju kematian. Keradangan otak tersebut bersifat menyeluruh dan praktis tidak mempunyai obat yang mujarab.

Sebagaimana banyak penyakit menular lain di dunia, sampai hari ini dunia kedokteran belum mampu membuat obat yang bisa membunuh virus campak. Untung saja imunisasi campak adalah salah satu yang sangat efektif mencegah dan sejauh ini terbukti aman. Vaksin campak adalah salah satu vaksin tua yang telah teruji. Di negara kita, vaksin campak diberikan dalam bentuk kombinasi dengan rubela.

Persoalan seputar imunisasi terutama adalah kegagalan mencapai target cakupan. Ada banyak anak tidak menerima imunisasi campak karena berbagai alasan. Selama pandemi Covid-19, cakupan ini menjadi lebih buruk.

Potensi generasi yang hilang dapat menjadi kenyataan mengingat korban utama penyakit campak adalah anak. Mereka yang gagal diselamatkan akan kehilangan nyawa saat puncak penyakit dan pada periode sesudahnya akibat infeksi lain yang dengan mudah menyerang tubuh yang tanpa sistem pertahanan memadai.

Satu dekade kemudian, masih ada beberapa anak yang lolos dari puncak serangan yang akan mengalami sakit berat dan bahkan kematian. Mereka yang bertahan hidup berpotensi mengalami serangan penyakit infeksi lain secara berulang untuk jangka waktu yang cukup lama. Pada sebagian kasus, kelemahan sistem kekebalan hanya terjadi empat minggu. Namun, pada sebagian kecil anak, lama penderitaan bisa memanjang hingga dua tahun.

Anak yang sering sakit tidak saja mengalami penderitaan fisik. Seluruh aspek pertumbuhan dan perkembangan biasanya akan terganggu. Kegiatan sekolah relatif lebih terhambat dibandingkan anak yang lebih sehat. Kebanyakan mereka yang terserang campak mempunyai status gizi yang kurang baik sejak sebelum virus menginfeksi.

Upaya terideal untuk mengatasi persoalan di atas adalah dengan pencegahan. Pencegahan terbaik adalah dengan memperbaiki cakupan imunisasi campak. Dalam hal ini, cakupan berarti jumlah nyata anak yang diimunisasi dan bukan sekadar yang dilaporkan yang kadang berbeda dengan yang terjadi di lapangan.

Bagi seorang praktisi penyakit infeksi dan imunisasi, barometer utama adalah jumlah mereka yang sakit, bukan pencatatan administratif. Apabila anak yang menderita penyakit infeksi seperti campak sedikit, tentu hal ini menggambarkan tingginya cakupan imunisasi.

Selama wabah campak kali ini, boleh dibilang semua penderita mempunyai status imunisasi yang nihil atau tidak lengkap. Imunisasi campak diberikan sedikitnya dua kali, pada usia 9 dan 18 bulan. Di negara kita, satu kali imunisasi ekstra ditambahkan di kelas I SD.

Bagi mereka yang sudah telanjur sakit, upaya pengobatan standar bertumpu pada tata laksana sesuai keluhan disertai pemberian vitamin A. Upaya menemukan obat pembunuh virus campak tidak kunjung berhasil. Adapun mereka yang sudah selesai terinfeksi dan kemudian mengalami gejala sisa seperti pada mata, upaya rehabilitasi sesuai kondisi pasien adalah jalan yang dianjurkan.

Selama pandemi Covid-19, ada banyak anak menjadi korban, baik karena sakit, kehilangan satu atau dua orang tua, mengalami hambatan untuk upaya kesehatan dasar seperti imunisasi, serta meninggal. Wabah campak memperberat semua hal itu.

Upaya pemerintah untuk memberikan satu kali imunisasi ekstra dalam konteks Bulan Imunisasi Anak Nasional tidak cukup mampu mengembalikan semua kekurangan, terutama di luar Pulau Jawa dan Bali. Bahkan, daerah dengan capaian tinggi seperti kita di Jawa Timur tidak luput juga dari amukan wabah tersebut. Seperti diketahui, Jatim adalah provinsi peringkat pertama dalam hal capaian cakupan imunisasi ekstra campak-rubela selama BIAN 2022.

Keseriusan menghadapi wabah campak tidak bisa diabaikan. Kita semua perlu bekerja sama lebih keras dan lebih baik. Tumpuan pada salah satu sektor saja biasanya tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Kita berharap di bulan-bulan mendatang wabah ini akan teratasi dan anak-anak kita boleh menikmati kehidupan normalnya guna meraih potensi masa depan semaksimal mungkin. (*)




*) DOMINICUS HUSADA, Konsultan infeksi anak FK Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya, sekretaris Komda KIPI Jawa Timur
EDITOR: Dhimas Ginanjar