PEREMPUAN itu bangkit dari duduknya di lantai musala. Setelah merapatkan kebaya putih dan merapikan kerudung berwarna sama, dia berjalan pelan. Dia mendatangi bendera hijau tua bertulisan Arab "Nahdlatul Ulama” yang tertancap pada sebilah bambu di depan halaman. Tiang bambu yang miring itu dia tegakkan. Tangannya penuh keriput, tapi gesit mengencangkan tali yang membebat kain itu dengan tiang.
"Saya sangat bersyukur bisa hidup sampai 1 abad NU,” katanya kepada tim JTV yang mengunjungi Kamis (2/2). "Diberi kesehatan berkat doa bersama para kiai,” sambungnya sambil diiringi senyum. Perempuan tersebut adalah Nyai Mas’adah. Umurnya 80 tahun. Raut wajahnya tegas. Meskipun giginya kusam termakan usia, masih tersisa paras cantik masa muda. Udara dingin setelah hujan turun di ujung utara Pulau Madura membuatnya tak bisa berlama-lama di halaman terbuka.
Warga desa pelosok Karang Dalem, Kecamatan Pa demawu, 10 kilometer di utara Kota Pamekasan, itu kemudian mengajak masuk ke rumah sederhana di samping musala. Hidup Nyai Mas’adah memang ”diwakafkan” untuk NU. Semua jen jang pengaderan organisasi dia ikuti sehingga pernah dipercaya menjadi ke tua Muslimat NU di Pademawu. "Hidup mati saya bersama NU dan kiai. Karena itu, saya senang dan bangga sekali jika bisa ke Sidoarjo (menghadiri peringatan 1 abad NU, Red),” ungkapnya dengan wajah berbinar sesaat setelah menduduki kursi di ruang tamu.
Harapan menyala-nyala seperti dimiliki Nyai Mas’adah itulah yang kini ada di setiap dada jutaan jamaah Nahdlatul Ulama (nahdliyin). Momen peringatan puncak hari lahir (harlah) ke-100 perkumpulan yang mereka sangat cintai sudahdi depan mata. Rasanya pada momen yang bertepatan dengan Selasa, 7 Februari atau 16 Rajab, itu semua upaya ingin dikerahkan, semua waktu ingin disempatkan, agar bisa bergabung dengan sesama nahdliyin dari seluruh dunia. Melepas rindu, berdoa bersama, ngalap berkah, mencium tangan –jika bisa– para kiai yang hadir di majelis terakbar.
Tak semua orang Indonesia, biarpun dia muslim, hidup atau pernah hidup di bawah bayangan seorang kiai. Saya termasuk di antara mereka yang tidak mengenal sangat dekat figur tokoh ahli agama yang sering tampil dengan serban, sarung, kopiah, dan kadang kala jas itu. Namun, karena semasa kecil tinggal di rumah, seperti Nyai Mas’a dah, dekat surau dan (dengan sukarela, tapi lebih se ring terpaksa) "ngaji" ke kiai, gambaran sosok seorang kiai tak mudah dilupakan.
Seorang kiai, kali pertama, adalah seorang bapak. Ia bapak bagi pengikutnya. Ia juga bapak bagi anak tetangga yang akan dielus-elus kepalanya waktu bertemu atau ditanya siapa bapaknya. Ia tokoh yang bisa galak waktu mengajar, tapi penuh belas kasih pada hal sehari-hari.
Tokoh ini jelas bukan sekadar seorang ahli khotbah, sering kali bahkan cikal bakal suatu lingkungan, dengan akar
yang kokoh di sana. Sang kiai melindungi daerah yang berada di bawah wibawanya, biasanya satu atau beberapa desa, dari tekanan orang luar. Ia ibarat bumper.
Ia punya umat dan mendapatkan rezeki ber sama mereka. Ia menjawab pertanyaan, menyelesaikan sengketa, dan mengajarkan tak hanya agama. Namun, plus ke arifan. Ia memberikan martabat kepada umat. Teringat sebuah momen bersama seorang kiai saat liputan di kiblat budaya Barat, New York, pada 2014. Syahdan, pada suatu malam sehabis resepsi di markas PBB, ketika pulang ke hotel berdua, Pak Kiai yang sudah cukup sepuh itu tiba-tiba saja duduk ngelempoh di lantai lift. ’’Capek, Mas,’’ ujar beliau sambil meluruskan kaki dan bersandar.
Saya yang sempat kaget dan bingung secara refleks ikut-ikutan ngelempoh. Saya semula merasa canggung, tapi Pak Kiai tidak: ia tak merasa minder. Ia begitu yakin dan ia tak terusik. Seluruh sikapnya adalah sikap yang tak merasa risau oleh ’’Barat’’. Ia tak ingin seperti ’’Barat’’, sebagaimana ia juga tak hendak melabrak ’’Barat’’.
Di dalam lift itu, dengan kain sarung dan kopiahnya, Pak Kiai menarik sebuah garis demarkasi.
Yang dinyatakannya sudah tentu bukan konfrontasi, melainkan koeksistensi. Tak ada sikap agresif, sebagaimana tak ada sikap defensif. Dalam hidup sehari-hari, seorang kiai adalah seorang yang melihat dunia dengan "sangka baik", dengan husnuzon.
Hanya dengan sangka baik pada dunia, kita tidak akan putus asa pada rahmat-Nya.
Selasa besok, para kiai itu berkumpul bersama jutaan umatnya. Menebar berkah mulai tengah malam hingga tengah malam hari berikutnya dengan doa bersama, lailatul qiroah, manaqib, qiyamul lail, ijazah kubro, salawatan, dan
istighotsah kubro. Sungguh majelis yang mulia. Semoga khusyuk, lancar, aman, dan sukses sampai akhir. Amin ya robbal alamin. (*)
*) Pemimpin Redaksi JTV, Pemimpin Redaksi Jawa Pos 2018–2020