KEMARIN (15/9), pecinta ludruk di seluruh tanah air berduka dengan berpulangnya Cak Sapari, salah satu personel kelompok legendaris yang berakar dari kesenian khas Jawa Timur itu, Kartolo Cs. Dalam dua tahun terakhir, tiga personel kelompok tersebut yang masih tersisa, yaitu Cak Kartolo, Cak Sapari, dan Ning Tini, sudah mulai jarang manggung bersama.
Selain karena situasi pandemi, salah satu penyebab utamanya adalah menurunnya kondisi kesehatan Cak Sapari akibat deraan penyakit diabetes. Dengan berpulangnya Cak Sapari, Kartolo Cs yang sempat berjaya pada era 1980-an hingga 1990-an itu tinggal menyisakan dua personel: Cak Kartolo dan Ning Kastini, istrinya.
Selama karirnya bersama Kartolo Cs, Cak Sapari merupakan sosok pemain sentral yang sangat penting keberadaannya. Itu tidak lepas dari kepiawaian Cak Sapari dalam berperan serta memberi warna dalam penampilan kelompok tersebut.
Pertama, Cak Sapari selalu memiliki peran utama dalam setiap pertunjukan, baik live maupun rekaman. Kedua, Cak Sapari sangat piawai dalam memberikan umpan maupun respons dialog lawakan yang khas, terutama pada Cak Kartolo, hingga keduanya seperti pasangan yang tidak bisa terpisahkan.
Ketiga, Cak Sapari juga piawai dalam ngidung dan parikan yang merupakan bagian tersulit dalam seni ludruk. Bukti nyata kualitas tampilan kidungannya bisa didengar pada rekaman era ludruk kaset Nirwana Record dalam edisi cerita yang berjudul “Dadung Kepuntir”.
Era Ludruk Sebelum Kartolo Cs
Keberadaan Kartolo CS memiliki kedudukan penting dalam sejarah perjalanan kesenian ludruk di Jawa Timur. Kehadiran mereka bahkan mampu membawa habitus baru dalam dunia perludrukan.
Secara kronologis, ludruk pada masa awal disebut sebagai era ludruk ngamen, yaitu bermula dari aktivitas ngamen yang dilakukan oleh tiga orang: Pak Santik (merupakan penabuh kendang), Pak Pono (sebagai pelawak berbusana wanita), dan Pak Amir.
Masyarakat kala itu menyebutnya dengan nama Lerok. Dalam perkembangannya muncul lerok/ludruk Besutan dan keberadaannya menjadi semakin populer di kalangan masyarakat. Nama tersebut diambil dari tokoh sentralnya yang bernama Pak Besut yang berperan sebagai pengidung dan sekaligus sebagai pelawak.
Menurut Peacock (2005), personil ludruk Besut awalnya hanya dua orang, kemudian bertambah menjadi tiga, yaitu Besut, istri Besut yang bernama Asmunah, dan Paman Jamino.
Satu hal yang berbeda, ludruk mulai naik kelas, dari ngamen di jalanan ke panggung pertunjukan di halaman orang-orang yang nanggap.
Generasi selanjutnya mampu menjadikan pertunjukan ludruk sebagai sarana kritik sosial terhadap pemerintah Belanda maupun Jepang. Kita tentunya pernah mendengar salah satu tokoh penerus Besut yang bernama Cak Kandar, dengan kidungannya: “Pagupon omahe dara, melok Nipon nggarai sara.” Akibat sindiran itu membuat Cak Kandar ditangkap dan dipenjara oleh tentara Jepang.
Pada era pascakemerdekaan, apresiasi dan antusiasme masyarakat membuat eksistensi ludruk menjadi semakin populer. Pertunjukan ludruk juga diperformansikan dengan pakem yang makin mantap, yaitu diawali dengan tari remo, kidungan, bedayan, lalu cerita yang diangkat dari kisah kepahlawanan revolusi kemerdekaan maupun kisah-kisah lain yang berkembang di masyarakat.
Namun sayang, pada era 1980-an popularitas ludruk sempat mengalami penurunan. Salah satu faktor penyebabnya adalah perubahan orientasi hiburan masyarakat akibat modernisasi, serta faktor kejenuhan dari performansi pertunjukan ludruk yang kurang sesuai selera masyarakat luas.
Apalagi institusi pemerintahan pada masa Orde Baru seringkali ikut menyisipkan agendanya dalam pertunjukan grup-grup ludruk di bawah afiliasinya. Pertunjukan ludruk akhirnya menjadi monoton, membosankan, dan tidak natural sebagai sarana hiburan bagi masyarakat.
Kartolo Cs Era Baru dalam Ludruk
Cak Kartolo bersama Cak Sapari mampu menangkap gelagat kebosanan masyarakat kala itu terhadap kesenian ludruk. Mereka mencoba membuat kemasan baru performansi ludruk yang lebih simpel, lebih segar, dan lebih menghibur.
Cerita-cerita ludruk yang kala itu lebih sering ditampilan secara dramatis, serius, maupun horor, diubah dengan lebih menonjolkan aspek humor atau guyonan. Kartolo Cs juga melakukan inovasi baru dalam kidungan, yaitu jula-juli dangdut.Kemasan performansi ludruk yang dibawakan Kartolo CS ternyata diterima oleh masyarakat luas. Puncaknya, Nirwana Record di bawah pimpinan Nelwan S. Wongsokadi memberikan tawaran untuk masuk di dapur rekaman.
Era inilah yang membuat Kartolo CS mampu menciptakan habitus baru dalam pertunjukan ludruk. Pertunjukan ludruk tidak harus dinikmati di panggung-panggung pertunjukan, namun bisa dimana saja, kapan saja melalui siaran radio maupun pemutaran kaset-kaset Nirwana Record.
Berkat pembaharuan yang dibawa Cak Kartolo, Cak Sapari, juga seluruh personel ludruk Kartolo CS, menjadikan kalangan masyarakat luas, terutama kawula muda menjadi lebih mencintai seni ludruk. Bahkan pada puncaknya, seni ludruk sempat merambah pada kalangan mahasiswa di perguruan tinggi.
Sebagai contoh di ITS berdiri Ludruk Tcap Toegoe Pahlawan dan di Unair berdiri grup ludruk Oekosnomos, dengan gaya pertunjukan seperti ludruk Kartolo CS. Berpulangnya Cak Sapari sebagai salah satu legenda dalam ludruk harus dijadikan sebagai momentum untuk selalu menjaga dan melestarikan ludruk di era milenial ini.
Selamat jalan, Cak Sapari. (*)
*) Moch. Jalal, Dosen Fakutas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.