alexametrics
CATATAN ABDUL ROKHIM*

Batas Paham dan Tidak Paham

31 Juli 2022, 12:34:36 WIB

ALKISAH, setelah menerima hadiah Nobel Fisika pada 1918, ahli fisika termasyhur Jerman, Max Planck, melakukan tur ceramah ilmiah ke beberapa kota di Eropa. Ke mana pun dia diundang, Planck menampilkan kuliah yang sama mengenai teori yang ditemukannya tentang mekanika kuantum. Karena selalu berada di samping tuannya, sopir Max Planck sampai hafal materi ceramah hingga titik koma, kapan saat jeda, dan kapan perlu penekanan lafal-lafalnya dengan sangat baik.

Setelah selesai suatu sesi ceramah, si sopir menantang bosnya untuk bertukar tempat. ’’Pasti rasanya membosankan memberikan pidato yang sama setiap saat, Profesor Planck. Bagaimana jika aku melakukannya untukmu di Munchen? Anda dapat duduk di bangku depan dan mengenakan topi sopir milikku. Dengan begitu, kita berdua akan mendapatkan pengalaman baru.’’

Planck menyukai ide sopir pemberani itu. Jadi, malam itu, sopirnya-lah yang memberikan kuliah panjang mengenai mekanika kuantum di depan peserta para mahasiswa, dosen, dan ahli fisika se-Jerman yang terhormat.

Semua berjalan lancar dan pidato ”Planck’’ mendapat tepuk tangan panjang hingga turun mimbar. Tiba-tiba keadaan menjadi tegang ketika tanpa diduga, seorang profesor fisika kenamaan Jerman berdiri dan ngotot mengajukan pertanyaan.

Meski sedetik sempat panik, ”Mr Planck’’ cepat menguasai situasi. Sambil tetap berdiri, dia berucap dengan meyakinkan, ”Saya tidak pernah berpikir seseorang yang berasal dari Kota Munchen yang begini maju akan menanyakan pertanyaan sesederhana itu. Sopir saya akan menjawabnya.’’

Menurut Profesor Rolf Dobelli dari Universitas St. Gallen, Swiss, (yang menceritakan kisah Max Planck dan sopirnya di buku yang sudah cetak enam kali di Indonesia; The Art of Thinking Clearly), dari cerita di atas, ada dua tipe pengetahuan. Pertama, kita memiliki pengetahuan yang sebenarnya. Kita melihatnya pada orang yang memberikan banyak waktu dan usaha untuk memahami satu topik.

Yang kedua adalah tipe pengetahuan sopir (chauffeur’s knowledge). Yakni, pengetahuan milik mereka yang telah belajar untuk tampil. Mungkin mereka memiliki suara yang indah atau rambut yang bagus, tapi pengetahuan yang mereka tunjukkan bukanlah milik mereka sendiri. Mereka dengan fasih mengucapkan kata-kata pandai seperti sedang membaca dari naskah.

Sayangnya, sekarang kita semakin sulit untuk memisahkan pengetahuan yang sebenarnya dengan pengetahuan sopir.

Pengetahuan sopir lebih mudah dijumpai pada sebagian pembaca berita. Mereka adalah aktor. Titik. Semua orang tahu itu. Dan tetap saja saya terkejut melihat betapa besar penghormatan yang dinikmati pembaca naskah yang didandani dengan baik itu. Belum lagi uang yang mereka hasilkan dengan menjadi moderator dalam diskusi panel mengenai topik yang materinya hampir tidak mereka mengerti.

Lebih sulit wartawan. Beberapa di antara mereka telah mendapatkan pengetahuan yang sebenarnya. Tidak jarang, mereka adalah wartawan veteran yang telah memiliki spesialisasi selama bertahun-tahun di bidang tertentu. Mereka dengan serius berusaha memahami kerumitan suatu subjek dan memberitakannya.

Sayangnya, sebagian besar wartawan terjebak dalam kategori sopir. Mereka menyulap artikel berdasar apa yang ada di dalam pikiran mereka atau malah melalui pencarian di Google dan medsos. Tulisan-tulisan mereka berpihak, pendek, dan sering kali sebagai kompensasi atas pengetahuan yang setengah-setengah, kasar, dan bernada memuaskan diri sendiri.

Kedangkalan yang sama juga terjadi di dunia bisnis. Semakin besar suatu perusahaan, semakin para CEO diharapkan untuk memiliki ”kualitas bintang’’. Dedikasi, keseriusan, dan keandalan kurang dihargai. Sering kali pemegang saham percaya bahwa kecakapan penampilan akan memberikan hasil yang lebih baik; padahal, jelas bukan itu yang terjadi.

Untuk melindungi diri dari efek ’’sopir’’, Warren Buffet, salah seorang terkaya di dunia, telah menciptakan frasa yang indah, ”lingkaran kompetensi’’: Apa yang terjadi di dalam lingkaran itu Anda pahami secara intuitif. Sementara yang berada di luarnya mungkin hanya Anda pahami sebagian.

Salah satu potongan nasihat terbaik dari Buffet adalah: ”Anda dapat tinggal di dalam apa yang saya sebut lingkaran kompetensi Anda. Anda harus tahu apa yang Anda pahami dan apa yang tidak Anda pahami. Tidak penting seberapa besar lingkaran itu. Tapi, yang sangat penting adalah Anda tahu di mana batasnya.’’

Buffet menggarisbawahi hal berikut ini: ”Jadi, Anda harus mengetahui kemampuan Anda sendiri. Anda akan kalah jika bertanding dengan orang lain yang memiliki bakat, sedangkan Anda tidak. Anda harus mengetahui di mana Anda unggul. Dan Anda harus bermain di dalam lingkaran kompetensi Anda.’’

Kesimpulannya: Waspadalah terhadap pengetahuan sopir. Jangan sampai salah membedakan antara pemimpin sirkus, buzzer, pembaca berita, pembicara, atau tukang jual kecap dengan mereka yang memiliki pengetahuan sebenarnya.

Bagaimana bisa mengenali perbedaannya? Ada indikator yang jelas: Para ahli sejati mengenali batasan apa yang mereka ketahui dan apa yang tidak mereka ketahui. Jika mendapati diri mereka berada di luar lingkaran kompetensi, mereka akan diam atau berkata, ”Saya tidak tahu.’’ Hal ini mereka ungkapkan tanpa menyesal. Bahkan, dengan sedikit rasa bangga. Sedangkan dari sopir, kita mendengar semuanya, kecuali kalimat itu. (*)

  • Pemimpin Redaksi i
  • Pemimpin Redaksi Jawa Pos 2018–2020

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: