alexametrics

Ideologi Penganut Teologi Maut

Oleh BIYANTO *)
31 Maret 2021, 19:48:46 WIB

DALAM banyak kesempatan Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii) menyatakan bahwa pelaku bom bunuh diri pada setiap insiden terorisme merupakan penganut teologi maut. Para pelaku bom bunuh diri (suicide) memahami tindakannya sebagai manifestasi ajaran jihad. Karena itulah mereka tampak bahagia tatkala terpilih sebagai ”pengantin” yang akan meledakkan diri dalam insiden terorisme. Menurut Buya Syafii, para ”pengantin” tampak begitu berani menghadapi kematian, namun takut menjalani kehidupan.

Insiden bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/3) merupakan aksi para ”pengantin” dari gerakan terorisme. Apa pun motivasinya dan siapa pun pelakunya, aksi para bomber penganut ajaran teologi maut selayaknya dikutuk. Apalagi, aksi teologi maut dilakukan di tengah suasana bangsa sedang berkonsentrasi menangani dampak pandemi Covid-19. Dalam waktu yang tidak lama lagi, umat Islam juga akan memasuki bulan suci Ramadan.

Doktrin yang ditanamkan tokoh-tokoh gerakan terorisme kepada para bomber merupakan terjemahan ajaran teologi maut. Ironisnya, dalam indoktrinasi itu mereka menggunakan terma jihad untuk melegitimasi strategi perjuangan fisik mengangkat senjata dengan mempertaruhkan nyawa. Penggunaan kata jihad diharapkan menjadi spirit bagi para ”pengantin”. Dengan cara itu, mereka termoivasi menjadi bomber dalam insiden terorisme. Jika terbunuh dalam insiden terorisme, mereka meyakini sebagai syahid dan memperoleh surga.

Dimensi jihad dalam pengertian penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan merupakan karakter umum dari gerakan ekstremisme. Padahal, kata jihad tidak harus dimaknai perjuangan fisik. Tokoh Muhammadiyah asal Sumatera Barat, Buya A.R. Sutan Mansur (1895–1985), memaknai jihad dengan ”bekerja sepenuh hati”. Pemahaman ini penting karena jihad tidak dimaknai dengan berjuang atau berperang, melainkan bekerja. Substansi jihad adalah berusaha dengan bersungguh-sungguh (total endeavor), yakni mengerahkan seluruh sumber daya sehingga terwujud nilai-nilai yang diridai Allah SWT (QS At Taubah: 41).

Insiden bom bunuh diri dalam kasus terorisme di Makassar penting menjadi refleksi semua kalangan. Meski sejumlah pelaku terorisme telah dihukum, bahkan ditembak mati, ideologi gerakan ekstremisme terus berkembang. Ideologi merupakan nilai-nilai dasar yang menjadi spirit dan keyakinan dalam setiap perjuangan. Menurut Blumer dalam Social Movement (1966: 210–211), ideologi berkaitan dengan nilai-nilai, keyakinan, kritik, alasan, dan pembelaan yang tertanam kuat dalam diri pengikut suatu gerakan. Berdasar ideologi itulah ditentukan orientasi perjuangan, strategi, dan tahapan untuk mencapai tujuan.

Dalam gerakan praksis sosial keagamaan, ideologi dijadikan arahan, justifikasi, senjata, serta untuk mempertahankan inspirasi dan harapan pengikutnya. Pada konteks inilah perhatian semua elemen bangsa penting diarahkan untuk mencermati ideologi yang diperjuangkan gerakan ekstremisme. Karena itulah tepat yang dikatakan Marciano Norman saat menjabat kepala Badan Intelijen Negara (BIN) (2011–2015). Dia mengatakan bahwa aksi-aksi terorisme di tanah air tidak akan pernah berakhir sepanjang ideologi gerakannya tidak dilumpuhkan.

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads