alexametrics

Roema Sekola jang Saja Impiken

Oleh DOAN WIDHIANDONO, Wartawan Jawa Pos
30 November 2019, 17:38:59 WIB

LELAKI itu bergelar bachelor of commercial science (sarjana ilmu perniagaan) dari Fuktan (Fudan) University, Shanghai, Tiongkok.

Dia adalah lulusan pertama Tiong Hoa Hwee Koan, rumah perkumpulan Tionghoa, Buitenzorg (Bogor), yang mendapat gelar tersebut.

Sebelumnya, sang sarjana itu juga menimba ilmu di Shanghai College of Commerce. Tapi, begitu kembali ke Hindia Belanda (kini Indonesia), lelaki itu galau bukan kepalang.

Dia pernah berpikir bahwa para sarjana adalah orang yang punya kepandaian dan pengetahuan luar biasa yang harus dikagumi. ’’Tapi, sasoedanja saja sendiri dapet graduate, saja djadi tercengang dan merasa jang saja poenja pangatahoean masi djaoe dari pada sampoerna boeat bisa bergoelet dengen laloeasa dalem dunia dagang jang saja biasa lihat di Hindia,’’ katanya.

Ya, ilmu –atau apa pun– yang dipelajarinya selama kuliah ternyata enggak aplikatif. Sebagai sarjana, dia masih kalah dengan jongos bumiputra (pribumi) yang sudah bekerja di toko selama 12 tahun. Padahal, si jongos bukan sarjana. Sekolah pun mungkin enggak.

Sarjana lulusan luar negeri itu makin galau saat sahabatnya ingin berkunjung untuk minta advis tentang pendidikan terbaik. Saking galaunya, dia terlelap. Sang sarjana baru bangun tatkala sahabatnya tiba dan langsung mengajak ke sebuah sekolah.

Nama sekolah itu: Nanyang Institute. Sebuah tempat pendidikan berasrama dengan kebun luas, pohon peneduh yang besar, gazebo yang elok, serta pemandangan persawahan dan gunung yang indah. Bikin tercengang.

Sang sarjana dan sahabatnya itu makin tercengang dengan kurikulum yang ada di Nanyang Institute. Murid kelas permulaan tidak memegang buku. Pelajarannya adalah tata perilaku dan kebudayaan sehari-hari.

Para siswa juga tak dijejali teori. Saat pelajaran peniagaan batik, guru yang didatangkan adalah saudagar batik. Sehingga murid-murid langsung bisa melihat jenis-jenis batik, menaksirnya, dan menjualnya.

Demikian pula saat pelajaran pertanian. Para siswa belajar langsung dari petani yang datang untuk mengenalkan bibit padi, teknik menanam, varietasnya, hingga berapa komposisi panen padi yang jadi gabah, beras, hingga dedak.

Para murid juga belajar kebudayaan Tiongkok, Belanda, Sunda, dan Jawa. Mulai musik hingga tata cara makan. Sungguh sebuah sekolah yang ideal. ’’Apa jang diadjar semoea ada hal-hal jang kaliatan di depan mata dan biasa dilakuken saban hari,’’ kata sang Directeur (Direktur) Sekolah.

Sang sarjana begitu mengagumi sekolah itu. Kegalauannya lenyap. Dia pun memandangi sekolah tersebut dengan bangga sembari beristirahat di sebuah saung di kompleks asrama. Sampai tertidur. Sampai dia dibangunkan oleh sahabatnya. Yang minta sedianya advis tentang pendidikan tersebut.

Dan gambaran sekolah itu pun langsung lenyap tatkala dia terjaga. Ya, sekolah itu hanya ada di dalam mimpinya. Ealah…

***

Kisah mimpi sang sarjana itu ditulis dalam esai Roema Sekola jang Saja Impiken oleh Kwee Tek Hoay pada 1 Desember 1925. Nyaris 94 tahun silam. Kwee Tek Hoay adalah jurnalis sekaligus sastrawan Melayu-Tionghoa. Dia juga disebut sebagai bapak ajaran Tridharma Indonesia.

Tulisan berumur hampir seabad itu memang melampaui zamannya. Kwee sendiri mengakui bahwa pada zaman itu sekolah yang sempurna belum muncul. Adanya masih di astraal gebeid atawa dunia halus.

’’Saya bermaksud, dengan menulis ini, apa yang saya impikan akan bisa terbukti di kemudian hari meski saya tidak mampu mewujudkannya,’’ tulisnya.

Sembilan dekade setelah tulisan tersebut, muncullah pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Tentu, teks pidato itu harus disambut baik. Bahasanya lugas, egaliter, tidak retorik, tidak penuh jargon ala baliho kampanye. Namun, rasanya pidato tersebut masih kurang cespleng untuk menuntaskan problem pendidikan di negeri ini. Pidato itu masih harus mewujud menjadi kebijakan agar roema sekola yang ideal itu tidak hanya saja impiken…

Soal kurikulum, misalnya. Nadiem menulis dalam pidatonya, Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan.

Saya merasakan bahwa kurikulum itu menjadi semacam alat uji dengan kelinci percobaan bernama para siswa. Betapa tidak. Sejak 1994 saja, kurikulum kita sudah empat kali berganti. Yakni, Kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan Kurikulum 2013 (K-13). Itu belum revisinya.

Memang, kurikulum bukanlah kitab suci yang setiap noktahnya pun tak boleh diganti. Kurikulum justru harus terus berkembang mengikuti zaman. Namun, kalau ia berubah-ubah secara cepat, itu menandakan bahwa pendidikan kita belum punya sistem fondasi yang kukuh.

Padahal, pendidikan adalah fondasi untuk hidup yang kukuh. Seperti kata pepatah Latin, non scholae sed vita discimus. Kita belajar bukan hanya untuk sekolah, tapi untuk hidup. Seperti impian Kwee Tek Hoay, apa yang dipelajari siswa di sekolah adalah hal-hal yang bisa dimanfaatkannya untuk menjalankan kehidupan.

Jadi, roema sekola seperti apa yang Anda impiken? (*)

Editor : Ilham Safutra



Close Ads