alexametrics

Menjaga Aset SDM

Oleh SUTRISNO IWANTONO*
30 Juni 2020, 12:56:23 WIB

SUMBER daya manusia (SDM) merupakan faktor penting dalam perusahaan. Tanpa karyawan, bisnis tidak bisa jalan. Karena itu, perusahaan harus sebisanya mempertahankan keutuhan jumlah personel SDM-nya. Yang namanya aset, SDM tentu memiliki peran yang penting dalam membesarkan dan membangun sukses suatu perusahaan.

Dalam kondisi pandemi, pemutusan hubungan kerja (PHK) bukan pilihan terbaik.

Harus dihindari. Kecuali perusahaan dalam kondisi yang sangat terdesak. Kalau memang terpaksa dirumahkan, adalah pekerja yang tidak tetap (part timer). Pekerjaan part timer tidak full di perusahaan. Masih punya kegiatan di tempat lain. Kalau karyawan tetap harus dipertahankan sebaik-baiknya.

Saat ini para pengusaha bersikeras memikirkan cara agar ekonomi bergerak kembali. Karena ancaman saat ini ada dua: virus Covid-19 itu sendiri dan ancaman kelaparan.

Kalau kemudian banyak orang tidak bekerja, artinya tidak ada pemasukan. Tidak ada pendapatan, praktis tidak bisa beli makan. Lama-lama kelaparan, ujung-ujungnya tewas juga. Bahkan, di beberapa negara ancaman kelaparan lebih mematikan daripada virus Covid-19. Sebut saja Yaman, Republik Demokratik Kongo, Afghanistan, Venezuela, Ethiopia, Sudan Selatan, Sudan, Syria, Nigeria, dan Haiti.

Lockdown dan resesi ekonomi akan mengkibatkan hilangnya pendapatan besar-besaran di antara pekerja miskin. Industri pariwisata juga turun tajam.

Solusi yang tepat agar perekonomian kembali pulih dan mencegah terjadinya PHK adalah menerapkan disiplin protokol kesehatan dalam bekerja. Musuh utamanya adalah Covid-19. Ekonomi terkontraksi itu efeknya.

Jadi, masuk kantor itu wajib menggunakan masker, face shield, hingga mencuci tangan dengan menggunakan sabun atau hand sanitizer. Dengan demikian, peluang terpaparnya kecil. Dan, pemerintah semestinya memberikan subsidi itu ke perusahaan.

Katakanlah satu orang diberi satu atau dua face shield seharga Rp 50 ribu dikali 100 juta pekerja. Pemerintah cukup mengucurkan Rp 10 triliun untuk membelikan face shield. Jumlah tersebut tidak seberapa dari total dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp 677,2 triliun.

Begitu saja sudah aman. Aktivitas ekonomi pun akan bergerak lantaran bisnis tetap berjalan. Untuk pengusaha UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), misalnya, ketika masuk ke pasar menggunakan perangkat protokol kesehatan juga aman. Sayangnya, sampai sekarang stimulusnya belum jelas di lapangan.

Mengenai fenomena PHK, menurut saya, yang seharusnya menjadi perhatian adalah UMKM. Sektor tersebut menyerap hampir 94 persen angkatan kerja di Indonesia. Sedangkan perusahaan besar hanya 3 persen. Yang bekerja di warteg, Pasar Tanah Abang, dan sektor informal lainnya itu lebih banyak daripada yang kerja di pabrik atau perusahaan.

Dan, sektor UMKM adalah yang paling terpukul saat wabah seperti ini. Tidak bisa kerja akibat daya beli masyarakat turun. Apalagi, pendapatan mereka harian. Ketika tidak ada yang beli, ya tidak ada pemasukan.

Apalagi, sektor UMKM memiliki beban di perbankan hampir Rp 1.100 triliun untuk 40 juta usaha. Kalau UMKM tidak ditolong pemerintah, pemulihan ekonomi nasional bisa terimbas. Jadi, menyelamatkan UMKM adalah prioritas.


*) Ketua Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)

**) Disarikan dari wawancara dengan Agas Putra Hartanto

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/fal



Close Ads