alexametrics

Baikkan Jiwa, Optimal Dampingi Covid-19

OLEH : ABDURACHMAN *)
30 Juni 2020, 19:48:46 WIB

HIDUP berdampingan dengan Covid-19 adalah penerimaan dunia melayani tantangan pandemi ini. Berdampingan bukan berarti membiarkan diri sakit, melainkan SARS-CoV-2 tetap ada tetapi penghuni bumi tetap sehat dan bisa beraktivitas normal seperti biasa. Ini berarti seluruh penduduk bumi mampu menetralisasi, membiarkan SARS-CoV-2 berada di lingkungan hidup, tetapi kesehatan tetap terjaga. Bagaimana bisa? Pastilah seluruh penduduk bumi mampu memiliki respons imun yang membuat Covid-19 tidak menimbulkan sakit. Adakah upaya selain vaksinasi?

Kerentanan individu terhadap Covid-19 diketahui dipengaruhi oleh respons imun tubuh. Respons imun adalah reaksi sel dan produk sel imun terhadap keberadaan entitas yang biasanya tidak dikenali sebagai konstituen tubuh. Kemampuan respons imun untuk mengatasi penyakit menular antara lain Covid-19 dipengaruhi oleh status psikologis, baik buruknya jiwa (Cohen, 1996).

Banyak upaya yang dilakukan untuk meningkatkan ketahanan tubuh agar bisa mendampingi Covid-19. Upaya tersebut, antara lain, promosi menjaga kebersihan, cuci tangan, menggunakan bahan antiseptik, memakai masker, jaga jarak, serta memakai senyawa farmasi berupa obat-obatan atau kombinasi obat dan vaksin. Satu hal yang diusulkan sebagai upaya efektif dan efisien untuk meningkatkan respons kekebalan tubuh adalah memperkuat keseimbangan psikologis dengan jalan membaikkan jiwa.

Cohen dkk (2001) memperoleh informasi tentang korelasi kerentanan psikologis dan respons antibodi. Kerentanan piskologis, jiwa yang buruk, juga mengalami dilema ketika menerima vaksinasi. Pada orang yang berjiwa baik, vaksinasi meningkatkan imunitasnya, sedangkan vaksinasi pada individu yang memiliki jiwa mudah stres malah menimbulkan problem, bahkan tidak jarang malah menjadikannya sakit. Lutgendorf & Costanzo (2003) melakukan intervensi psikologis yang didasarkan pada premis bahwa status jiwa dapat memengaruhi respons imun. Sampel diintervensi psikologis ke arah pemenuhan jiwa yang baik untuk memodulasi respons imun. Melalui jalan ini, individu lebih adaptif dalam menafsirkan masalah kehidupan, tidak mudah panik. Mereka mampu menangani masalah dengan lebih efektif.

Barak (2006) menemukan sejumlah literatur yang mendukung hipotesis bahwa individu yang berjiwa buruk cenderung menurunkan kemampuan sel imunitas tubuhnya, memiliki risiko lebih besar terkena infeksi dan sakit. Sementara itu, mereka yang berjiwa baik lebih sehat, mampu menghadapi berbagai risiko infeksi. Freitas dkk (2015) mengungkap bukti kasus penyakit radang usus lebih cepat sembuh pada individu yang berjiwa baik.

Beberapa penanda yang mengindikasikan baiknya jiwa dikemukakan Ryff dan Keyes (1995). Pertama, otonomi, yaitu saya memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap pendapat saya, bahkan jika kepercayaan itu tidak sesuai dengan opini publik. Kedua, penguasaan lingkungan, secara umum saya secara pribadi memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan saya. Ketiga, pertumbuhan pribadi, yang harus saya rasakan terus tumbuh dan berkembang dengan pengalaman dan pemahaman baru tentang dunia. Ide-ide baru muncul selaras dengan berlalunya waktu dan usia. Keempat, hubungan positif dengan orang lain, yaitu menjadi orang yang selalu memberikan manfaat positif bagi orang lain, memberi, membantu, dan memaafkan serta berdoa untuk orang lain. Kelima, tujuan dalam kehidupan, yakni dia kenal dan tahu ke arah mana yang harus dilalui, bagaimana melaluinya untuk mencapai tujuannya itu. Keenam, penerimaan diri, ialah setelah dia menyadari dan tahu apa yang perlu dioptimalkan, titik keunikan dirinya, dan tahu apa yang seharusnya ditingkatkan sebagai titik kelemahannya.

Individu yang memiliki jiwa yang baik, sesuai dengan hasil riset Ryff dan Singer (2013), mampu meningkatkan respons imunnya. Mereka menggunakan indikator peningkatan respons kortisol dan respons kebangkitan kortisol. Penggunaan dua indikator itu dikuatkan oleh hasil penelitian Rickard dkk (2016).

Fredrickson dkk (2015) menggunakan penanda respons conserved transcriptional response to adversity (CTRA). Temuan mereka membuktikan bahwa jiwa yang baik menunjukkan peningkatan ekspresi transkripsi gen, meningkatkan regulasi gen proinflamasi.

Anderson dkk (2010) menggunakan indikator sitotoksisitas sel pembunuh alami (Natural Killer, NK-cell) dan peningkatan sel-T dalam mengungkap bukti bahwa jiwa yang baik memiliki peran untuk meningkatkan respons imun.

Ilmuwan lain Zhao dkk (2016) menggunakan CD3 +, CD4 +, CD8 +, CD4 + / CD8 + rasio dan kadar kortisol bebas dalam serum untuk mendukung bukti bahwa jiwa yang baik memiliki respons imun yang sangat berkualitas.

Peneliti lain Wu dan Gau (2010) mempelajari kadar fagosit, sel imun yang memangsa sel atau entitas lain dalam tubuh. Seperti yang diketahui, fagosit melakukan respons pertama terhadap reaksi peradangan akibat datangnya infeksi. Pada individu yang berjiwa baik, ditemukan jauh lebih banyak fagosit. Kondisi demikian mengindikasikan kecepatan penyembuhan dari trauma. Hasilnya, waktu yang dibutuhkan untuk tinggal di rumah sakit menjadi lebih singkat.

Selanjutnya, Bakke dkk (2002) menggunakan sel pembunuh alami dan jumlah aktivitasnya untuk membuktikan bahwa intervensi psikologis menuju jiwa yang baik secara positif meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Peningkatan respons imun diperoleh dari penderita HIV-AIDS yang diberi bimbingan agama dan dukungan sosial sebagai upaya mengolah jiwa menjadi lebih baik. Penelitian tentang hal itu dilakukan Dalmida dkk (2013). Mereka menggunakan jumlah CD4 + untuk membuktikan temuan.

Manczak dkk (2016) menemukan sikap orang tua seperti empati bisa memberikan dampak psikososial dan dampak fisik sangat baik untuk kesehatan anak. Dari sampel darah diketahui adanya penurunan tanda-tanda peradangan sistemis. Mereka mengukur jumlah interleukin-1, interleukin-6, dan protein C-reaktif. Efek empati dari orang tua kepada remaja bisa membuat regulasi emosi menjadi lebih baik. Efek empati bagi orang tua adalah mendapatkan harga diri yang lebih tinggi, juga mengenal tujuan hidupnya. Temuan itu menunjukkan pentingnya solidaritas timbal balik, saling pengertian, untuk membuat kondisi psikososial dan kondisi fisik lebih baik. Bahkan, empati juga sangat baik ketika dikembangkan dalam prinsip layanan medis dan bagi siapa saja yang terlibat dalam layanan medis, dokter juga perawat.

Terlalu banyak bukti bahwa jiwa yang baik, hubungan timbal balik, saling komunikasi menggunakan jiwa yang baik dapat memicu imunitas optimal, baik bagi pasien, pendamping pasien, tenaga medis, maupun seluruh individu. Jiwa yang baik membangkitkan peningkatan imunitas total, baik selular maupun humoral (produk sel). Jika demikian kita pacu diri masing-masing untuk memiliki jiwa yang baik agar mampu hidup berdampingan dengan Covid-19 dalam keadaan sehat bahkan lebih sejahtera! (*)


*) Abdurachman, Guru Besar FK Universitas Airlangga, Past President of Indonesia Anatomists Association (IAA), Past President APICA-6, Executive Board Member of APICA

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads