alexametrics

Leadership Yang Jadi Kunci Keluar dari Pandemi

Oleh HASTUTI NAIBAHO *)
30 Maret 2021, 09:22:24 WIB

ORGANISASI tidak dapat menghindari perubahan, khususnya jika perubahan itu bersumber dari lingkungan eksternal. Organisasi yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan yang bersumber dari lingkungan eksternal akan mengakibatkan organisasi tersebut tidak dapat bertahan (selection out).

Konsep kecocokan antara lingkungan dan organisasi sejak lama menjadi perhatian peneliti organisasi. Child (1972, 1997) dalam strategic choice theory yang dia bangun mengemukakan bahwa lingkungan eksternal memiliki kekuatan yang besar untuk mengendalikan organisasi. Agar dapat cocok (fit) dengan lingkungan eksternal, desain struktur organisasi harus mempertimbangkan (mengadaptasi) faktor kontingensi operasional, yaitu lingkungan eksternal.

Jika terjadi ketidakcocokan, organisasi akan kehilangan peluang. Biaya akan naik dan keberlangsungan organisasi terancam. Lingkungan memiliki kekuasaan untuk mengontrol organisasi (environmental selection). Sehingga jika tidak fit dengan lingkungan, organisasi tersebut akan terancam (Child, 1972).

Implikasi teori ini sangat nyata terlihat saat ini. Semua organisasi sedang melakukan perubahan agar dapat bertahan (survive) dari krisis ekonomi yang bersumber dari pandemi Covid-19. Krisis kali ini memang menyerang semua organisasi, baik skala besar maupun kecil. Bahkan, organisasi yang sudah sangat stabil dari sisi pangsa pasar (market share) dan memiliki sistem pengelolaan organisasi yang sudah didukung teknologi mengalami guncangan akibat serangan pandemi Covid-19. Dapat dikatakan organisasi belum siap menghadapi guncangan yang datang secara tiba-tiba ini.

Organisasi berusaha secara cepat untuk dapat beradaptasi terhadap kondisi lingkungan eksternal dengan melakukan berbagai perubahan. Sayangnya, kecepatan organisasi untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan eksternal yang bersumber dari pandemi Covid-19 tidak secepat perubahan yang terjadi di lingkungan eksternal tersebut.

Beberapa organisasi mampu melewati adaptasi yang lebih pendek dari organisasi lainnya sehingga mampu melewati masa krisis yang lebih cepat dari organisasi lain. Jika ada organisasi yang mampu melewati masa krisis pandemi Covid-19 lebih cepat, pertanyaannya adalah ”apa yang mengakibatkan organisasi ini dapat lebih unggul mengatasi krisis akibat pandemi Covid-19?”

Secara teori, jawaban atas pertanyaan itu, organisasi tersebut memiliki kemampuan adaptasi yang lebih tinggi dari organisasi lain. Kemampuan adaptasi organisasi (organizational adaptability) adalah kemampuan secara cepat menangkap (mengeksploitasi) peluang-peluang baru dan melakukan adaptasi secara cepat untuk merespons kondisi pasar yang bergejolak (Birkinshaw and Gibson, 2004).

Contoh organisasi yang berhasil cepat keluar dari krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 adalah perusahaan pembuatan pakaian yang sebelumnya tidak memproduksi alat pelindung diri. Sejak terjadinya pandemi Covid-19, mereka melakukan konversi produksi. Perusahaan tersebut melakukan perubahan produk karena permintaan pasar (market demand) yang berubah. Contoh lainnya adalah perusahaan minuman beralkohol yang melakukan perubahan jenis produksi menjadi hand sanitizer.

Perusahaan-perusahaan itu mampu menangkap peluang dan melakukan perubahan yang radikal (dilihat dari jenis produk yang dihasilkan) untuk dapat keluar dari krisis. Perubahan radikal tersebut tentu berkat adanya pemimpin organisasi yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi. Ia akan menggerakkan organisasi dengan cepat agar bisa beradaptasi terhadap perubahan.

Mereka mampu secara cepat memutuskan tindakan yang harus dilakukan organisasi, berani mengambil risiko untuk melakukan perubahan yang radikal, serta mampu mengelola perubahan tersebut sampai pada tahap keberhasilan melewati masa krisis. Pemimpin yang dapat meningkatkan kemampuan adaptasi organisasi adalah pemimpin yang mampu membuat organisasi dan orang-orang di dalamnya beradaptasi terhadap perubahan. Sekaligus melakukan eksploitasi terhadap peluang di pasar sebagai akibat dari perubahan lingkungan eksternal.

Kepemimpinan yang mampu meningkatkan kemampuan adaptasi organisasi merupakan kunci kesuksesan organisasi menghadapi perubahan-perubahan radikal yang bersumber dari lingkungan eksternal. Contohnya saat terjadi serangan pandemi Covid-19. Pemimpin harus mampu menyeimbangkan kebutuhan untuk melakukan inovasi sebagai respons terhadap perubahan lingkungan eksternal serta kebutuhan untuk terus menjalankan/memproduksi produk atau jasa yang sudah diterima pasar.

Pertanyaannya, pemimpin seperti apa yang dapat meningkatkan kemampuan adaptasi organisasi? Jawabannya, ia adalah pemimpin yang mampu mengembangkan ide-ide baru, yang bertentangan (conflicting) dengan sistem yang sudah berjalan, untuk dikonfigurasi ulang menjadi ide-ide yang lebih baik. Bisa berupa ide untuk proses, produk atau jasa baru, teknologi baru, hingga segmen pasar baru. Semua itu kemudian diformalkan menjadi sebuah sistem baru.

Bukan pekerjaan mudah ketika seorang pemimpin harus melakukan conflicting process. Sebab, ide-ide yang baru sering kali susah dieksekusi. Organisasi harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk menerapkan ide baru. Bahkan membutuhkan sumber daya baru yang mungkin belum dimiliki organisasi.

Tetapi, pemimpin yang berani untuk melakukan conflicting and connecting akan membuat organisasi memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, yang disebut dengan organizational ambidexterity. Yaitu, kemampuan organisasi untuk melakukan eksplorasi ide-ide baru (kemampuan inovasi yang tinggi) dan kemampuan organisasi untuk melakukan eksploitasi untuk memaksimumkan keuntungan terhadap kondisi yang sedang berjalan.

Organisasi dapat melakukan beberapa hal untuk mendapatkan pemimpin yang mampu meningkatkan kemampuan adaptasi. Pertama, desain sistem kompensasi yang dibuat untuk pemimpin. Sistem kompensasi harus didesain untuk sistem yang dapat menstimulus perilaku pemimpin untuk meningkatkan kemampuan adaptasi organisasi.

Baca Juga: Menkes Deg-degan Vaksin Sinovac Hanya Tersedia 7 Juta Dosis Lagi

Kedua, indikator kinerja (kesuksesan) pemimpin bukan hanya performance outcomes, tetapi memasukkan indikator peningkatan kemampuan adaptasi organisasi. Ketiga, organisasi perlu memberikan pelatihan peningkatan kemampuan pemimpin seperti complex problem solving, critical thinking, creativity, people management, dan coordinating with others. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi ini berhubungan dengan kepemimpinan untuk beradaptasi organisasi (Uhl-Bien & Arena, 2018). (*)


*) Hastuti Naibaho, Direktur Jaya Center for Advanced Learning (JCAL) Universitas Pembangunan Jaya

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads