alexametrics

Nahdlatul Entrepreneur

Oleh CANDRA MALIK, Budayawan Sufi
29 Oktober 2020, 16:59:21 WIB

DUNIA adalah ladang untuk bercocok tanam yang hasilnya kelak kita panen di akhirat. Tidak melulu dengan menanam dalil dan dalih agamis, tapi juga dengan menandur ilmu dan amal yang benih-benihnya niscaya akan tumbuh subur sebagai jariah. Tak putus-putus. Tidak hanya dipanen oleh penanamnya, tapi juga oleh generasi-generasi berikutnya.

Dan oleh karena itulah, selayaknya kita bersekutu, berkelompok, berorganisasi, berserikat, atau apa pun sebutannya, dalam kebenaran dan kebaikan. Suatu usaha dalam skala kecil maupun besar, termasuk di dalamnya wirausaha, atau yang populer disebut entrepreneurship, adalah ikhtiar dari hulu ke hilir yang tak bisa mengandalkan satu kekuatan saja.

Dari pangkal hingga ujung, wirausaha ialah satu kesatuan yang utuh. Didasari ayat tentang perniagaan yang agung, yakni beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah dengan harta dan jiwa (QS [61]: 10-11), wirausaha bisa dikembangkan dengan berpegang teguh pada empat pilar karakter utama Muhammad SAW.

Kanjeng nabi telah meneladankan sifat sidik, amanah, tablig, dan fatanah. Jujur, dapat dipercaya, menyampaikan kebenaran, dan cerdas. Inilah fondasi entrepreneurship dalam mengolah dan mengelola kreativitas dan inovasi yang berbasis kemaslahatan, bersumber daya kearifan lokal, berjejaring kebaikan, dan bertujuan kemandirian. Kukuh, berakar.

Entrepreneurship, dari kata entreprende dalam bahasa Prancis, yang bermakna to undertake, to set about, to begin, to attempt, yang artinya memulai usaha, menghendaki pelaku wirausaha menjadi penjelajah kreativitas, pencipta inovasi, pengelola usaha, dan pengambil risiko. Ia menambah khazanah kewirausahaan jika otentik, baru, khas, dan berbeda.

Entrepreneurship mensyaratkan pelaku menerapkan manajemen diri. Sebab, ia tak mengandalkan sumber daya alam belaka. Lebih dari itu, entrepreneurship mengutamakan sumber daya manusia. Bukan otot, tapi otak. Bukan okol, tapi akal. Oleh karena itu, manajemen SWOT (strength, weakness, opportunity, threats) selalu kontekstual dan relevan.

Santripreneurship

Pesantren adalah entitas luhur yang dilahirkan bukan untuk memikirkan diri sendiri dan hal-hal duniawi belaka. Ia ikut membidani lahirnya Indonesia. Turut pula meletakkan dasar-dasar berpikir dan bertindak dalam berbangsa dan bernegara, pesantren mendidik santri untuk tidak bergantung pasif kepada negara, namun untuk berperan aktif.

Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) merupakan wujud ejawantah dari tiga embrio utama, yaitu taswirul afkar (kebangkitan pemikiran), nahdlatul wathan (kebangkitan tanah air), dan nahdlatut tujjar (kebangkitan para saudagar). Sejak awal, kebebasan berpikir, kemerdekaan berbangsa dan bernegara, serta kemandirian ekonomi dijadikan dasar kebangkitan ulama.

Entrepreneurship oleh kalangan santri, yang hari ini disebut santripreneurship, bukanlah sesuatu yang sama sekali baru di dunia pesantren. Yang membedakan pesantren dengan entitas lainnya ialah akar tradisi yang terjaga dan terpelihara dengan kuat. Secara keilmuan maupun pengamalan, pesantren tak mau putus sanad keilmuwan dan keguruannya.

Segala sesuatu memiliki riwayat, juga kemandirian pesantren, wabilkhusus kemandirian usaha. Makalah Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah, yaitu Syirkatul ’Inan Murabathah Nahdlatut Tujjar, yang menandai pendirian perserikatan kerja Syirkatul ’Inan oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada akhir bulan Rajab 1336 Hijriah merupakan pegangan penting.

Kiai Abdul Wahab dari Tambakberas, yang menjadi bendahara Syirkatul ’Inan, membangkitkan semangat kemandirian dengan sabda dan sikap tegas. ’’Wahai pemuda tanah air yang cerdik cendekia! Wahai para ustad yang mulia! Mengapa engkau sekalian tak mendirikan saja perserikatan kerja? Satu daerah, satu perserikatan yang mandiri,’’ serunya.

Sebagian hasil dari perserikatan untuk ulama dan kelompok terdidik, menurut Kiai Wahab, diperuntukkan membangun Darun Nadwah seperti dicontohkan para sahabat nabi. Dalam perserikatan diberlakukan pembagian keuntungan tahunan. Separo dibagi berdasar besaran modal masing-masing, separo lagi untuk pengembangan perserikatan.

Pesantren Entrepreneurship

Dulu Syirkatul ’Inan bergerak di bidang pertanian. Perniagaan bukan prioritas karena dianggap sukar dan tak terbiasa. Kini bukan hanya program rumah pangan santri untuk peningkatan ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi pesantren, Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama juga menumbuhkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Jejaring kerja sama, akses permodalan, dan rantai pasokan yang baik dan kuat bisa menjadikan pesantren episentrum ekonomi keumatan. Terlebih, penerapan ekonomi syariah kini semakin menjadi pilihan. Selain empat sifat nabi SAW, sikap al adla (adil), atta’awun (saling bantu), dan istiqamah (konsisten) juga menjadi prinsip dalam kewirausahaan.

Menurut catatan Kementerian Agama, 26.973 pesantren tersebar merata di 34 provinsi di Indonesia pada 2020. Mulai yang tertinggi Jawa Barat dengan 8.343 pesantren, disusul Banten, Jawa Timur, dan Jawa Tengah di kisaran 3–4 ribu pesantren, hingga Maluku dengan 16 pesantren. Pesantren salaf terjaga, pesantren modern terus bertumbuh.

Empat tahun lalu Hasanuddin Ali dari Alvara Research Center merilis hasil survei nasional bahwa penduduk muslim yang berafiliasi dengan NU berjumlah 79,04 juta jiwa dan 22,46 juta jiwa yang berafiliasi dengan Muhammadiyah. KH Abdurrahman Wahid mengklaim jumlahnya lebih besar, yaitu 50 persen dari jumlah penduduk Indonesia atau 120 juta jiwa.

Besarnya potensi penduduk muslim dan santri adalah momentum bagi nahdlatul entrepreuner, kebangkitan pewirausaha. KH Yusuf Chudlori menangkap peluang dengan mengembangkan API (Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo, Magelang. Awalnya pesantren salaf sejak 1944, dipadu pesantren modern pada awal 1990, kini didirikan pula pesantren entrepreneur.

Di Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, wirausaha pertanian dan kelautan, toserba, konfeksi, dan olah makanan berkembang pesat. Yang lebih muda, Pesantren Fathul Ulum, Jombang, yang didirikan Kiai Habibul Amin pada 2006 memadu pendidikan salaf dan entrepreneurship. Santri tidak harus menjadi kiai, petuah Kiai Habib, tapi harus menjadi manusia bermanfaat. (*)

 

Saksikan video menarik berikut:

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads