alexametrics

Hijrah dari Islamofobia

Oleh YAQUT CHOLIL QOUMAS *)
29 Juli 2022, 19:48:33 WIB

BESOK umat Islam memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharam 1444 Hijriah, bertepatan dengan 30 Juli 2022. Kalender Hijriah identik dengan penanggalan umat Islam. Tepat bila momentum pergantian tahun Hijriah ini dijadikan sebagai tonggak kebangkitan Islam untuk makin maju. Setiap pergantian tahun layak dijadikan momentum evaluasi diri tentang perjalanan hidup setahun yang lalu dan merancang kehidupan baru yang akan datang.

Hijrah merupakan cerita tentang titik balik kehidupan sosok yang diagungkan umat Islam, yakni Nabi Muhammad SAW. Figur yang tidak mengenal fobia sedikit pun, entah terhadap bangsa asing (xenophobia) ataupun terhadap agama dan keyakinan saat itu. Nabi SAW tidak pernah menganggap agama lain sebagai musuh. Nabi mengajak umatnya menjadi umat terbaik (khaira ummat) dan selalu berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

Hijrah sejatinya kisah tentang perjuangan. Kekasih-Nya pun harus berjuang. Hidup dan pilihan hidup harus diperjuangkan. Kesuksesan tidak ada yang tiba-tiba turun dari langit. Perjalanan hijrah juga soal keimanan dan ketauhidan. Jika sudah diperintahkan, seluruh perintah-Nya harus dijalankan dengan penuh keyakinan. Dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Hijrah juga merupakan cerita tentang visi, misi, dan strategi kehidupan manusia. Jika kehidupan ini mentok, pikirkan untuk berhijrah sebagai salah satu solusinya. Tentu hijrah dalam pengertiannya yang otentik dan ikhlas. Pindahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah inilah yang disebut hijrah. Hijrahnya Rasulullah SAW tidak sekadar bergeser tempat, tetapi juga berubah mindset (cara pikir) untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Hijrah Nabi

Sebelum hijrah, perjuangan Nabi Muhammad SAW di Makkah lebih dari sepuluh tahun (611–622 H) stagnan dan mendapatkan tantangan luar biasa. Banyak cara yang ditempuh oleh pemimpin Quraisy untuk mematikan dakwah Islam. Bujuk rayu, diplomasi, boikot ekonomi, intimidasi, hingga kekerasan fisik pernah dialami Nabi dan pemeluknya.

Sebelum hijrah ke Madinah, Nabi pernah beradu nasib ke Thaif, kota di atas bukit dan lebih ramah cuacanya. Mungkin penduduknya lebih ramah daripada suku Quraisy di Makkah. Tetapi, apa daya, Nabi diusir dari kota itu dan bahkan dilempari batu. Nabi Muhammad SAW kelara-lara hatinya. Masjid Qu’ dan kebun Addas di Thaif menjadi saksi sejarah hijrah yang belum sesuai harapan.

Keadaan berubah ketika Nabi SAW hijrah ke Madinah (622–632 H). Di kota itu Nabi beserta kaum Muhajirin disambut dengan sukacita oleh penduduk Madinah (kaum Anshar). Muhajirin dan Anshar disatukan oleh akidah. Mereka bersaudara dan bahu-membahu mendakwahkan Islam secara ramah dan beradab.

Setelah hijrah, umat Islam mulai berkembang dan mempunyai posisi yang baik. Umat Islam tumbuh menjadi satu komunitas yang kuat, mandiri, dan disegani. Madinah –yang dulunya bernama Yastrib– menjadi pusat penyebaran Islam ke seluruh dunia. Penduduknya relatif berbudaya mondial, terbuka, sopan, dan beradab.

Di dalam menerima ajaran Islam, penduduk Madinah telah meriset terlebih dahulu tentang siapa yang membawa risalah dan bagaimana ajaran Islam tersebut. Penduduk Madinah pernah mengirim utusan ke Makkah untuk mempelajari ajaran Nabi Muhammad SAW dan sekaligus berbaiat kepadanya.

Spirit Hijrah

Di awal saya nyatakan, Nabi Muhammad SAW merupakan sosok pemberani. Sifat tersebut diwariskan kepada para sahabatnya. Tetap tegar berdakwah meski dirundung berbagai masalah. Sepuluh tahun berdakwah di Makkah, pemeluk Islam tidak makin bertambah. Justru permusuhan, kebencian, dan ketakutan orang Quraisy terhadap Islam kian menjadi-jadi. Tepat jika disebut kaum Quraisy mengidap Islamofobia akut saat itu.

Apa yang dilakukan Rasulullah SAW? Tetap berdakwah dengan cara yang santun. Strategi baru juga dilakukan, misalnya dengan hijrah ke Ethiopia atau ke Thaif. Tetapi, strategi hijrah itu tidak berhasil. Bahkan, yang sangat menarik, terhadap pembenci Islam, Rasulullah SAW tidak pernah berdoa buruk untuk mereka. Allahummahdzi qaumi fainnahum la ya’lamun (Ya Allah, berilah kaumku petunjuk karena mereka tidak tahu). Inilah permakluman Nabi.

Saat terjadi peristiwa fathu Makkah (Makkah dikuasai umat Islam), Rasulullah dan para sahabatnya tidak balas dendam kepada kaum Quraisy. Ketika diusir dan dilempari batu hingga jubahnya berlumuran darah oleh penduduk Thaif, Nabi hanya berdoa yang menggetarkan penduduk langit. Melihat Nabi mengalami luka fisik dan hati, Malaikat Jibril berkata: ”Allah mengetahui apa yang terjadi padamu. Malaikat penjaga gunung siap menunggu perintahmu.”

Apa kata malaikat penjaga gunung: ”Ya Muhammad, in syikta an uthbiqa ’alaihim al-Akhsyanain” (Ya Muhammad, jika engkau mau, akan aku timpakan Gunung Akhsyabain untuk penduduk Thaif). Apa jawaban Rasulullah SAW: ”Jangan. Aku berharap mereka akan melahirkan keturunan yang beribadah kepada Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya.” Rasulullah melawan Islamofobia dengan akhlak yang mulia.

Islamofobia juga pernah dirasakan bangsa Barat, tapi penyebabnya berbeda. Islamofobia kaum Quraisy disebabkan anggapan bahwa Islam akan mengancam keberlangsungan keyakinan mereka, termasuk efek sosial, politik, dan ekonominya. Tetapi, Islamofobia di Amerika dan Eropa terjadi karena wajah Islam tampil dalam rupa yang buruk. Intoleransi, ekstremisme, dan terorisme dipraktikkan di mana-mana. Kebanyakan pelakunya adalah umat Islam. Celakanya, Barat menggeneralisasi seolah semua umat Islam adalah intoleran. Padahal, mayoritas umat Islam tasamuh terhadap berbagai perbedaan.

Dalam konteks Indonesia, kita yakin tidak ada Islamofobia di sini. Indonesia mayoritas muslim. Sangat aneh dan tidak mungkin seorang muslim fobia dengan Islam. Islamofobia yang belakangan disuarakan kelompok Islam tertentu sejenis barang mainan yang dijajakan menjelang momentum politik. Islamofobia sekomoditas dengan jualan politik identitas yang pernah dipraktikkan saat pilkada DKI Jakarta. Pada saat yang sama, kita berharap fobia terhadap agama lain juga perlu dikikis.

Nabi Muhammad SAW telah mewariskan kepada sahabatnya mental pemenang dan pemberani. Nabi menitipkan mental hijrah kepada umatnya, yakni mental berani menghadapi berbagai situasi yang baru akibat perubahan mindset, tempat, dan tantangan baru. Nabi tidak mengajarkan mental pecundang bagi umatnya. Karena itu, umat Islam tidak punya fobia terhadap apa pun lantaran keyakinan bahwa Allah SWT selalu bersama kita.

Sebagai manusia, pasti kita punya rasa takut atau khawatir. Persis seperti sikap Abu Bakar ketika persembunyiannya saat hijrah bersama Rasulullah SAW nyaris ditemukan tentara Quraisy. Abu Bakar merasakan takut, tetapi Allah SWT menguatkan dengan menyatakan (At-Taubah: 40): ”La tahzan innallaha ma’ana (Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita).” Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharam 1444 Hijriah. (*)


*) YAQUT CHOLIL QOUMAS, Menteri Agama RI

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: