alexametrics

Masalah Gajah Mada yang Viral

Oleh: Viddy A.D. Daery*
29 Juni 2017, 23:07:58 WIB

Saat ini di media sosial sedang viral berbagai diskusi seputar Gajah Mada, mahapatih amangkubumi Majapahit, yang beragama Islam dan nama aslinya Gaj Ahmada. Dalam diskusi, ada dua nama yang diserang.

Pertama, yang paling sering adalah Ki Herman Sinung Janutama, budayawan Jogja penerbit buku Majapahit Kerajaan Islam. Dalam buku itu, Ki Sinung mengemukakan teori bahwa Majapahit adalah sebuah Kesultanan Islam dan mahapatihnya adalah Gaj Ahmada.

Nama lain yang diserang adalah saya. Adapun saya hanya diserang orang-orang yang salah sasaran. Karena pada saat yang hampir sama menerbitkan novel serial Pendekar Sendang Drajat jilid 4 dengan subjudul ”Misteri Gajah Mada Islam”. Kover novel saya lantas menjadi hiasan ilustrasi artikel mengenai teori Ki Sinung. Isi novel saya adalah pengembaraan Pendekar Sendang Drajat mencari pendapat beberapa kiai dan mahaguru, apakah Mahapatih Majapahit Gajah Mada beragama Islam atau tidak.

Tokoh Superbesar

Sebelum membahas lebih lanjut, saya ingin mengemukakan pendapat bahwa membahas Gajah Mada, terkadang orang hanya melihat sosoknya sebagai anak desa kelahiran Mada atau Modo, Lamongan, yang akhirnya meniti karir sebagai tentara (bekel bhayangkara) di Kerajaan Majapahit pada zaman Prabu Jayanegara. Selanjutnya, karirnya melesat hingga menjadi mahapatih amangkubumi Majapahit pada zaman Ratu Tribhuwana Tunggadewi dan berlanjut pada zaman keemasan Majapahit di bawah Prabu Hayam Wuruk, anak Tribhuwana Tunggadewi.

Hampir tidak ada sejarawan besar dalam maupun luar negeri yang membahas kemungkinan adanya beberapa tokoh Majapahit di kemudian hari yang juga mengambil nama Gajah Mada atau menyerempet nama Gajah Mada. Mungkin karena ingin mendapat ”berkah” nama besar dari tokoh superbesar itu, yang mampu merealisasikan impian lama almarhum Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singasari, yaitu menyatukan wilayah Nusantara. Dari Semenanjung Malaya hingga Brunei, Indonesia, Filipina, Timor Portugis, hingga Australia Utara.

Yang pertama perlu disebut adalah Raden Gajah yang hidup 50 tahun setelah wafatnya Mahapatih Gajah Mada. Raden Gajah adalah tokoh penting Majapahit pada zaman Perang Paregreg sejak 1404. Tepatnya saat Majapahit terbelah dua. Salah satunya Majapahit Kedaton Kulon yang posisinya masih di sekitar Trowulan dan dirajai Wikramawardhana, menantu Hayam Wuruk yang sudah almarhum. Istri Wikramawardhana adalah putri Hayam Wuruk dari istri permaisuri, Paduka Sari. Satunya adalah Majapahit Kedaton Wetan di Balumbangan (kini Desa Blumbang, Lamongan Tengah) dan dirajai Bhre Wirabhumi, anak Hayam Wuruk dari istri selir.

Raden Gajah ini memiliki pangkat ratu Anggabaya alias menteri keamanan, yang mungkin bermarkas di Desa Anggabaya (kini Pringgoboyo, Lamongan, dekat Balumbangan). Raden Gajah berperang di pihak Kedaton Kulon dan berhasil memadamkan pemberontakan Kedaton Wetan. Bahkan mampu menangkap Bhre Wirabhumi yang hendak kabur naik perahu pada malam hari di Bengawan Solo dekat istananya.

Raden Gajah lantas memenggal kepala Bhre Wirabhumi dan mengirimkannya ke Istana Majapahit Kedaton Kulon. Atas jasanya itu, Raden Gajah bukannya mendapat pujian, tapi justru dihukum penggal kepala karena dianggap bertindak terlalu jauh terhadap keturunan Prabu Hayam Wuruk.

Pasti ada pertanyaan, kok Kedaton Wetan posisinya dianggap berada di Balumbangan? Padahal, Blambangan selalu diidentikkan berada di sekitar Lumajang sampai Banyuwangi.

Nah, kita bertanya balik, pada tahun berapa dan pada zaman siapa dulu? Sebab, dalam Prasasti Jayanegara I yang didirikan pada 1316 di Balumbangan, isinya antara lain adalah Prabu Jayanegara menyatakan berterima kasih kepada orang-orang Balumbangan yang dikoordinasi Rakai Hyang Iwak karena telah menolong Majapahit menumpas pemberontakan Nambi.

Dalam prasasti juga disebutkan, Prabu Jayanegara memberikan perhatian khusus kepada warga yang mempunyai profesi tukang selam (hellep elep) dan tukang tambang atau menyeberangkan perahu (manambangi). Itu berarti warga yang berada di dekat sungai, persis posisi Desa Balumbangan (yang artinya adalah telaga besar), dan sangat pas dengan posisi tempat Raden Gajah menangkap serta memenggal kepala Bhre Wirabhumi di sungai dekat istananya.

Tokoh lain yang dekat dengan imaji Gajah Mada adalah pejabat tinggi (penggawa) Majapahit yang bernama Gajah Permada, yang menjabat pada era Prabu Brawijaya. Bahkan, dia disebut sebagai salah seorang putra Prabu Brawijaya, yang menurut folklor, Gajah Permada ini kemudian masuk agama Islam. Nah, apakah Gajah Permada ini yang diperdebatkan?

Bahkan, nama besar Gajah Mada juga disebut-sebut dalam berbagai folklor atau buku kuno Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu Sulalatus Salatin yang terbit di Kesultanan Malaka pada abad ke-15. Juga dalam Hikayat Banjar dan Kotawaringin yang terbit di Kesultanan Banjar sekitar 1663. Juga di naskah Hikayat Raja-Raja Pasai yang terbit di Kerajaan Aceh pada abad ke-14, tapi mengisahkan peristiwa 1250–1350.

Pertanyaannya, Gajah Mada yang dibahas dalam naskah-naskah tersebut identik dengan Gajah Mada yang mana? Sebab, Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada yang asli wafat pada 1364. Karena itu, buku Irawan Joko Nugroho Meluruskan Sejarah Majapahit dan buku Ki Sinung Majapahit Kerajaan Islam yang banyak memakai referensi naskah-naskah Hikayat Hang Tuah, Hikayat Pasai-Aceh, dan Hikayat Banjar perlu memikirkan tokoh ”Gajah Mada” yang disesuaikan dengan tahun hidupnya. Mungkin saja ada beberapa tokoh bernama mirip Gajah Mada, tetapi bukan Gajah Mada Mahapatih Amangkubumi yang wafat pada 1364 ketika Hayam Wuruk masih hidup.

Islam di Majapahit

Terlepas apakah Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha ataukah Islam, banyak warga Majapahit yang muslim. Itu sesuai dengan hasil penelitian Adrian Perkasa, sejarawan Universitas Airlangga, yang kemudian diterbitkan menjadi buku Orang-Orang Tionghoa dan Islam di Majapahit. Dalam buku itu, selain beragama Islam, banyak warga Majapahit yang terdiri atas orang-orang Arab, orang Tajik, orang-orang Tiongok muslim, dan beberapa pejabat pribumi Majapahit.

Meskipun naskah lontar Empu Prapanca, ”Desa Warnana” alias ”Negarakertagama” sama sekali tidak menyebut adanya warga Majapahit Islam secara langsung, Empu Prapanca menyebutnya dengan sebutan ”orang asing” atau warga Kilalan. Dan secara logika, sejak zaman Prabu Jayabaya dari Kerajaan Kediri sudah ada warga beragama Islam. Bahkan, salah seorang guru atau konsultan ahli Prabu Jayabaya adalah ulama Islam Syekh Subakir dari Persia. Maka sangat wajar kalau pada zaman sesudahnya (zaman Singasari dan kemudian zaman Majapahit ratusan tahun kemudian) warga muslim itu semakin banyak.

Saya kira perdebatan mengenai Gaj Ahmada sebaiknya diakhiri. Dan lebih baik membahas logika berkembangnya warga Islam Majapahit. Tak ada muslim Demak yang ujuk-ujuk sangat banyak jika tidak ada bibit-bibit sejak zaman Kediri, bahkan sejak zaman Ratu Sima dan zaman Medang. Apalagi ketika pembahasan soal Gaj Ahmada justru berkembang ke arah SARA. Kita perlu mewaspadai motif-motif gerakan memecah belah kedamaian bangsa Indonesia yang dilakukan ”tangan-tangan jahat”. (*)

*)Penulis novel ”Misteri Gajah Mada Islam”

Editor : Suryo Eko Prasetyo

Saksikan video menarik berikut ini:


Masalah Gajah Mada yang Viral